Kamar Kosan Tosym

 Begitu melongokan kepala ke dalam kamar Tosym udara sejuk yang berasal kipas angin dan bau wangi pengepel ruangan menyambutku. Kamar itu berukuran sedang kira-kira lima kali enam meter persegi. Dindingnya dibuat dari tembok permanen bercat putih yang kini  ditutupi poster GNR dan beberpa  poster klub bola Manchester united kesukaannya.  Secara keseluruhan kamar itu rapi dan bersih tampaknya si empunya kamar membersihkan kamarnya dengan telaten sebelum aku kemari karena tak setitikpun kotoran nampak, bahkan bila kujilatpun lantainya tak berdebu.
Sebuah karpet berlambang Manchester united  berukuran satu kali satu meter bersisihan dengan kasur bersperai berlambang sama dengan karpet  terletak di lantai. Kebanyakan pria memang jarang memakai tempat tidur, mereka cenderung membiarkan kasur tergelak begitu saja di lantai.. Kasur itu juga rapi, tidak ada kerutan aku menduga seprai itu baru saja diganti. Sebuah bantal dan guling bersarung sama dengan karpet dan sepreai tergeletak rapi di atas kasur.. Jelasalah betapa pria ini sangat mencintai MU. Di bagian kiri kamar berjejer rak buku tiga susun berisi buku-buku politik dan beberapa buku motivasi diri. Di sebelah rak buku ada sebuah lemari besar setinggi bahu yang kukira tempat Tosym menyimpan baju-bajunya. Dengan segera aku melangkah masuk ke dalam kamar dan duduk di karpet.
Begitu duduk aku bisa merasakan hangat sinar matahari sore yang menembus kaca jendela besar di sebelah pintu. Jendela itu dihiasi gorden berwarna merah yang dibiarkan terangkat sedikit. Di depanku tepatnya di samping jendela terletak sebuah meja kayu. Sebuah televise empatbelas inci tergeletak di atas meja itu. Di sebelah kiri meja televise tepat di samping pintu masuk terdapat sebuah dispenser dengan dua gelas di depannya sedangkan di sebelah kanan meja televise tedapat sebuah meja kecil. Di atas meja kecil itu terletak sebuah laptop yang masih menyala. Aku bisa melihat kabel koneksi internet di laptop itu. Di dinding di sampingku tertempel berbagai jadwal kuliah.
Sesaat aku merasa nyaman berada di kamar Tosym. Seperti pulang kembali ke rumah. Kamar itu entah mengapa membuatku tidak ingin beranjak. Hangat matahari yang menerpa dari balik jendela, wangi pengepel lantai yang tertinggal di lantai serta kesejukan udara yang berasal dari kipas angin membuatku terbuai. Sementara itu Tosym berdiri terpaku menatapku. Laki-laki itu ternyum memperlihatkan giginya yang putih rapi. Perlahan tetapi pasti dia mendekat ke arahku dan duduk bersamaku di atas karpet.
“Selamat datang ke istanaku, Tuan putri.” Katanya. Seketika aku merasa seperti putri raja.
*Pacar saya ga pernah bilang begituu 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s