mengenang Abid malaikat kecil..

Namanya Abid, umurnya 4 tahun badannya gempal dan wajahnya manis. Pipinya yang gembul membuat tangan gatal untuk mencubitnya.
Begitu pertama kali saya berjumpa dengannya di high care, dia berteriak-teriak histeris. High care adalah tempat dimana anak-anak yang memerlukan perawatan ekstra dan dipantau setiap jam. Orangtua mereka dilarang masuk.

“Susterrr, panggilin ibuuu”

“Namanya siapa sayang, kenalan dulu” Saya menghampiri dan mencoba menenangkannya. Dia terdiam sebentar

“Panggilin Ibu dong!” Katanya. Saya mengulurkan tangan.

“Coba salim suster dulu” dia melakukan seperti apa yang saya perintahkan.

“Nama kamu siapa? Kenalan dulu kalau nama suster Angel” kata saya

“Abid, Suster. Umur aku empat” dia mengangkat ke empat jarinya.

“Suster Abid sakit apa? Abid mau Ibu” Aku tersenyum manis dan mencoba menenangkanya. Begitu saya memeriksa statusnya anak manis itu menderita Leukemia..
Kejadian itu 3 minggu lalu dan selama tiga minggu Abid bocah gempal dan manis itu menempati ruang spesial di hati. Sebagai perawat hal itu tentu tak dianjurkan tetapi Abid terlalu manis dan sangat patuh meski suka menangis. Setiap dinas saya selalu menyempatkan diri mengunjunginya dan bermain bersamanya. Kedua orang tua Abid juga tak kalah menyenangkan seperti Abid.

“Suster Abid bisa sembuh ga Sus?” Kata Ibunya

“Dia leukemia grade satukan Bu!? Banyak anak-anak yang selamat dari pernyakit itu”

“Suster tolong bantu rawat, Abid yah!” Saya mengangguk tersenyum.

Anak kecil itu mengajarkan saya banyak hal. Salah satunya adalah: tetap semangat menjalani hidup meski menderita kangker. Tetap semangatt meski sakit mendera tubuh kecilnya. Kamis kemarin saya banyak menghabiskan waktu dengan anak itu. Mulai dari memyuapinya bubur kacang hijau sampai membersihkan luka di tubuhnya (penderita leukemia suka berdarah-darah) saat memberikan bubur kacang ijo dia berkata:

“Suster kenapa sih Ibu sering nangis?”

“Ibu nangis karena Abid sakit”

“Suster kalau gitu Abid ga mau sakit”

“Ya udah Abid makan yang banyak kalau gitu” dia tersenyum

“Abid ga suka liat Ibu nangis. Maunya senyum aja” katanya. Saya mengecup dua pipinya gemes.

Hari ini kabar buruk terjadi, Abid kembali ke hadirat kemarin malam karena kehabisan oksigen di otak. Abid sudah jadi malaikat Tuhan.
Semoga Ibunya diberi kekuatan
Lewat kisah Abid, Saya merasa seperti Tuhan menegur saya yang kurang bersyukur, saya telah hidup selama 22tahun tanpa terkena penyakit menyeramkan dan saya masih merasa tidak beruntung.. Abid si kecil mengajarkan saya banyak hal

RS Fatmawati, 22 Oktober 2012

Advertisements

2 thoughts on “mengenang Abid malaikat kecil..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s