– Pisau sang Pembunuh (1)

Perempuan itu melangkah cepat menuruni tangga Margonda Resident. Ipod dan headset , check. Duit buat beli sarapan, check. Blackbery dan Android, Check. Beres! Semua barang yang dibutuhkan lengkap. Dia berhenti sebentar di basement apertemen, mengikat tali sepatu yang tiba-tiba longgar. Dia tak mau mengambil resiko terjatuh saat lari nanti karena menginjak tali sepatu. Setelah merasa sudah beres, dia berlari keluar.
“Pagi Mbak Indina!” Sapa Pak Satpam
“Pagi, Pak!” Jawab perempuan itu sebelum kemudian menyebrang jalan raya Margonda dengan pelan, pukul 5.30 pagi jarang ada kendaraan yang lewat.
Langit Depok masih gelap saat dia melangkah menyusuri gang kecil yang akan membawanya ke Barel gang kecil sebelum masuk kawasan Universitas Indonesia. Begitu menginjakan kaki di barel, dia segera memasang headset di telinganya. Suara merdu John Mayer mengalun lembut..
“I am not a color blind, I just see everything in black and white..”
5 menit kemudian dia telah memasuki kawasan Univesitas Indonesia, tepatnya di halte Fakultas Hukum. Tiba-tiba perasaan aneh menjalar di seluruh tubuhnya. Dia berhenti sebentar dan menoleh ke belakang. Sepi tak ada orang, beberapa pelari pagi seperti dirinya tampak asyik berlari di depannya.
Dia memutuskan untuk mengambil rute ke arah kanan,
Indina berlari kecil melintasi jalur sepeda UI, suara merdu John Mayer telah diganti jadi suara seksi milik Robin Thick. Dia telah berlari hingga sampai di Fakultas Ekonomi, hutan kampus UI yg lebat dan gelap tak membuat semangatnya luntur.
Tiba-tiba Indina mendengar bunyi aneh. Dia berhenti dan menoleh ke samping. Seseorang bepakian hitam telah berdiri di situ. Tubuh Indina serasa beku, orang itu mendekat. Tangan kirinya memgang pisau berwarna Emas.
“Bilang halo pada neraka, cantik?” Kata orang itu sebelum menusuk pisau ke perut Indina. Indina bahkan tak sempat berteriak. Dunia Indina gelap.
***
Bau kematian menyeruak ketika Ajun Komisaris Polisi Joko Maulana sampai di hutan Univesitas Indonesia. Beberapa polisi sedang berdiri di sana. Meski jauh, Joko bisa melihat raut wajah tak menyenangkan. Bayu yang melihat kedatangannya dari jauh segera menyambutnya.

“Selamat Pagi, Pak! Sebaiknya Bapak segera melihat kondisi mayatnya” Raut wajah Bayu terlihat pucat. Joko mengira-ngira seberapa mengerikan mayat perempuan yang ditemukan tewas di hutan UI itu.

“Ceritakan padaku apa yang telah kalian lakukan?”

“Police line telah dipasang, Pak. Korban adalah perempuan, usia belum diketahui, waktu kematian belum diketahui, ditemukan pukul 7 pagi oleh Satpam UI yang berkeliling. Mereka telah diamankan di PKM kampus. Korban diduga tewas karena benda tajam yang ditusuk berkali-kali di beberapa bagian tubuh” Bayu menarik napas panjang sebelum meneruskan. ” Tim identifikasi telah mengambil beberapa foto dan sebentar lagi tim forensik datang. Sebaiknya bapak segera melihat keadaan mayat” Joko mengangguk ke arah Bayu dan segera menuju ke arah TKP yang di kelilingi garis polisi. Tepat di tengah garis itu seonggok mayat tertutup kain putih.

“Sudah periksa TKP? Ada barang bukti yang didapat?” Tanyanya.

“Kami sudah melakukan metode zone, Pak. Sama sekali tidak ada tanda keberadaan barang bukti ” Jawab Bayu. Metode zone adalah metode pencarian barang bukti dimana dua orang polisi berjalan beriringan dengan jarak kira2 1 meter menyusuri garis lurus yang telah beri patokan. Joko mengangguk mengerti.

“Aku ingin melihat kondisi mayat!” Katanya, Bayu memberikan sarung tangan latex. Dengan sigap Joko melangkah menuju Mayat di depannya. Bau darah tercium kuat di udara. Pelan tetapi pasti Joko menyibak kain penutup mayat itu. Isi perut Joko hampir keluar melihat kondisi mayat di depannya. Mayat seorang perempuan dengan rambut hitam panjang tergeletak tak bernyawa. Mayat itu telanjang, kedua matanya ditusuk, bibirnya dirusak paksa dengan benda tajam, payudaranya hancur dihantam sesuatu yang keras, perutnya ditusuk berkali-kali dan yang paling mengerikan kemaluan korban juga dihancurkan. Segera joko menutup kain dan berlalu dari tempat mayat.

“Pak, forensik sudah datang!” Bayu menyambutnya.

“Kau sudah mengambil sidik jari dari tubuh korban?” Tanya Joko pucat. Rasa ngeri menjalar di seluruh tubuhnya.

“Sudah, Pak!”

“Segera suruh forensik mengankat tubuh perempuan itu” katanya lagi mual. Siapapun yang melakukan pembunuhan ini pastilah sakit jiwa.

Advertisements

One thought on “– Pisau sang Pembunuh (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s