Inception

Kedua pria itu berlari kencang menerobos kegelapan malam. Mereka tidak peduli hawa dingin yang menusuk kulit, mereka tidak peduli luka tergores akibat torehan ranting-ranting kayu, mereka tidak peduli. Yang mereka pedulikan hanya satu: berlari dan terus berlari.

“Bangsat! Kok bisa ketahuan sih?” pria pertama memaki. Tanganya memegang sebuah ransel, “Padahal gue yakin banget aksi kita ga bakalan ketahuan” dia terus berlari kencang diikuti pria yang satunya lagi. Keringat dingin mengalir di dahi mereka. Malam yang sunyi memperkencang detak jantung.

“Bukan salah elo, Bang…” Pria kedua menyahut, dia diam sejenak mengatur napas yang tersengal-sengal. “Kita ga memprediksi kalo Bank itu punya alarm dan mereka punya Satpam yang banyak sekali ” sambung pria kedua lagi, ketika napasnya sudah teratur. Pria kedua sudah lupa berapa lama mereka berlari, ada lebih dari tujuh orang satpam yang mengejar mereka. Mereka harus berhenti berlari segera mungkin kalo tak ingin hipoksia*.

“Ah! Tahu begini mending kita rampok toko perhiasan seperti biasa. Meski hasilnya sedikit, kita ga pernah ketangkap” Pria pertama bersuara lagi. Tangannya memegang kuat ransel berisi ratusan lembar seratus ribu. Mereka sudah berlari kurang lebih satu jam tanpa henti. Sial! Kakinya semakin lelah, jarak dari bank masuk ke dalam hutan ini lumayan jauh juga ternyata. Mereka harus berhenti berlari segera mungkin kalo tak ingin kaku otot.

“Sudahlah, Bang Agus, yang penting kita selamat dulu” Pria kedua menarik napas, napasnya semakin cepat. Kalo terus berlari dia bisa mati. Dia segera menurunkan kecepatan larinya dan berhenti. “Tunggu, Bang Gus” napasnya tersengal-sengal, “kita berhenti dahulu”. Pria pertama yang dipanggil Agus itu melihat ke arah mereka berlari tadi. Tidak ada tanda-tanda Satpam yang mengejar mereka. Mereka telah berlari jauh ke hutan. Dan Satpam-satpam itu sepertinya telah kehilangan jejak mereka.

“Baiklah Budi, kita istirahat” kata Agus kemudian, dia sendiri juga  sudah juga kelelahan berlari. Kakinya sakit semua. Mereka memilih duduk di dekat sebuah pohon besar. Hening tercipta, Budi sibuk mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Hidungnya dengan rakus menghirup oksigen. Agus duduk bersandar di pohon mengurut-ngurut kakinya. Ranselnya didekap erat di dada.

“Gue ga nyangka bang. Setelah lima tahun kita beroperasi ini pertama kalinya kita dikejar Satpam” Budi membuka suara. Rupanya oksigen telah berhasil memenuhi tuntutan tubuhnya.

“Karena kita nekat, selama ini kita rampok toko-toko perhiasan kecil yang tak ada  alarm” jawab Agus. Tangannya masih mendekap erat ranselnya. Budi manggut-manggut mengerti. “Semakin besar hasilnya, semakin besar resikonya” kata Agus lagi menepuk-nepuk ranselnya yang terdekap erat di dada. Budi Tersenyum. Yah lihat positifnya, mereka punya banyak uang sekarang.

“Apa yang kau lakukan dengan uang-uang rampokan kita,  Bang?” tanya Budi kemudian

“Gue mau senang-senang pake uang ini, Bud.  Seperti biasa” jawab Agus. Dalam hati dia membayangkan berapa wanita yang akan dia tiduri dengan uang itu. Lidahnya perlahan membayangkan rasa nikmat whiskey yang manis, mungkin dia akan mencoba menghirup kokain.

“Kalo lo Bud, Apa yang akan lo buat dengan duit ini” tanya Agus, menatap Budi rekan setianya selama lima tahun belakangan

“Gue pengen tobat, Bang, gue pengen mulai usaha baru yang lebih halal. Buka warnet mungkin” Agus terperangah mendengar kata-kata Budi. Dia tak pernah menyangka rekan setianya itu akan berhenti. Kenagan lima tahun merampok dan selalu sukses terlintas di benaknya, tiba-tiba dia merasa kehilangan. Masih sanggupkah dia merampok sendiri?

“Siti, minta dikawini, Bang” Kata Budi lagi. Agus mual. Perempuan! Huh, klasik. Agus muak menonton TV, melihat perempuan yang menuntut persamaan hak. Emansipasi! Toh mereka bisa menguasai dunia ini hanya dengan mengangkat rok mereka dan mengangkang. Laki-laki mana yang ga tahan. Dan tiba-tiba dia menjadi marah.

“Lo pengecut, Bud. Hanya karena perempuan itu lo berhenti. Bukankah menyenangkan bekerja seperti ini?” Suaranya meninggi. “Lo pikir ada yang mau mempekerjakan orang kaya elo yang tamatan SMP itu dengan bayaran yang kita dapat saat merampok?” Agus berkata lagi, urat-urat diwajahnya muncul. Meskipun suasana hutan gelap, Budi bisa merasakan kemarahan yang terpancar dari wajah Agus.

“Gue Cuma pengen tobat, Bang,. Mungkin Tuhan menegur gue melalui Siti. Tuhan pengen gue tobat dengan menjadi suami Siti” kata Budi kemudian, Agus bertambah mual

“Halahh.. jangan bawa-bawa Tuha,  Bud. Emang Tuhan masih peduli sama orang kayak kita?” Agus semakin emosi. “Paling ga kita kerja, kita memanfaatkan talenta yang kita miliki elo paling jago membuka brankas dan gue paling jago berkelahi, menggunakan pistol dan pisau. Emang selain rampok lo bisa kerja apa? Mengemis, meminta-minta?” berondong Agus.

” Tapi bang, Gue mau tobat. Gue mau jadi orang baik-baik. Gue mau jadi suami dan ayah yang baik. Apakah itu salah?”

“Cuih” Agus membuang ludah “terserah elo dah, kalo lo mau jadi orang baik. Tapi jangan nyesal kalo lo Cuma dapat duit sedikit” Agus membuang muka menatap arah mereka datang tadi.

“Karena itu , Bang.  Gue mau memanfaatkan duit rampokan yang terakhir dengan baik, makanya gue setuju waktu Abang bilang kita beroperasi di bank itu”

“Katanya mau tobat, tetapi menggunakan uang haram sebagai modal usaha” Budi diam mendengar sindiran Agus.

“Bang, hasil rampok kita dibagi 50:50 yah” katanya kemudian. Agus menatapnya berang.

“Bangsat lo, kita udah janji pembagiannya 60:40 dari awal”.

“Tapi bang, tolong bang, ini terakhir kalinya kita bersama”.

“Gue ga peduli, 60:40 itu kesepakatan kita” Agus tetap ngotot. Budipun Naik pitam

“Bang selama ini gue udah nganggap abang kakak. Gue tahAbang selalu yang bekerja keras selama ini. Tapi tolonglah, bang. Ini  terakhir kalinya gue minta bagian kita sama” Kata Budi dengan suara keras, emosi Agus naik berlipat- ganda Dia mencengkram kerak baju Budi.

“Eh kampret, lo seharusnya bersyukur selama ini gue kasih 40% dari hasil rampokan” Agus menatap mata Budi tajam. Budi yang biasanya takut padanya kali ini tak gentar.

“Ah! Kita sama-sama bekerja keras bang. Gue berhak le…” “Bruk” Agus yang sudah emosi dari tadi menghantam pipi Budi keras. Budi terjungkal kebelakang, belum selesai dia berdiri Agus sudah mendaratkan tendangan telak di perutnya. Seketika Budi mual, tendangan Agus tepat di hatinya. Sial! Agus bukan tandingan yang sepadan.

“Elo bukan tandingan gue, Bud” Agus mengepalakan tinju memberikan pukulan telak ke dada Budi lagi. Budi terjungkal kebelakan, Dadanya sakit bukan kepalang. Pukulan Agus mungkin sudah membuat tulang-tulangnya patah

“Elo masih berani ama gue, Bud? Lo bukan tandingan gue” Agus mngangkat Sebuah Batu besar dan menghantamnya ke arah kepala Budi. “Mending gue akhiri hidup lu sampai disini” Budi ketakutan. Dia tidak ingin mati. Dia mencintai Siti

“Jangan Bang Agus.. jangan bunuh gue” Bukkkkkk batu itu mengenai kepala Budi. Arghhhhhhhhhhhhhhhh” Budi berteriak untuk terakhir kalinya

“Mas Budi, Mas Budi, Mas Budi” Tiba-tiba suara seorang perempuan terdengar. Budi membuka mata. Di depannya telah berdiri Sinta istrinya. Napasnya memburu, keringat bercucuran. Sial! Ternyata hanya mimpi.

“Kau bermimpi buruk, Mas?” tanya Sinta khawatir. Budi memandang sekelilingnya.  Diaberada di dalam sebuah tenda. Dipandangi Sinta dengan seksama. Istrinya memakai pakian wanita jaman yunani.

“Ada apa? Apa yang terjadi kenapa kau memakai pakian seperti itu?” tanyanya bingung tapi dia lebih bingung lagi mendapati dirinya memakai baju ksatria romawi abad ke lima.

“Kau tertidur karena terluka di dadamu mas, waktu kita berperang melawan bangsa Thor. Rakyat sangat khawatir mengetahui Panglima perang mereka terluka” kata Sinta menenangkan.

“Gawat Panglima, Bangsa thor menyerang” tiba-tiba seorang prajurit muncul dari luar kemah. Seketika bau benda yang dibakar menyeruak menusuk hidung.

“Mereka sekarang sedang membakar kemah kita panglima” muncul lagi satu orang prajurit. Budi menatap mereka bingung

“Budi, keluar kau!”tiba-tiba seseorang berbadan besar muncul. Budi terperangah itu Agus dia memakai baju ksatria, baju bangsa Thor. Tangannya memegang sebilah pedang.

“Kali ini kau pasti mati, Budi. Siti istrimu yang cantik ini akan menjadi milikku” Agus tertawa terbahak-bahak dia memeluk Sity. Budi sama sekali tak bisa bangun dari tempat tidurnya.

“Mas, tolong aku” Sity berkata ketakutan. Budi geram.

“Bakar dia” Kata Agus tiba-tiba pada anak buahnya yang secara tiba-tiba pula telah memenuhi kemah itu.

“Baik, panglima” jawab salah seorang anak buah Agus. dia memegang sebuah ember, Budi mengira itu adalah bensin.

“Byurrrrrr”

Seseorang menyiram air ke muka Budi. Budi tersadar. Tampaknya ibunya berdiri memegang ember. Seluruh tubuh Budi basah.

“Budi, Budi. Udah ibu bangunkan berulangkali tidak juga kau terbangun” dumel ibunya sebelum menghilang ke arah dapur. Budi menatap sekelilingnya, akhirnya dia berada di kamarnya.

“Budiiii, Cepatan udah jam dua belas siang kau ga kerja?” ibunya berteriak dari arah dapur.

“Iyaa bu” Budi balas berteriak. Dia menatap undangan pernikahan Siti dan Agus di meja samping tempat tidurnya.

“Siti berbahagilah selalu” bisiknya lirih. Sungguh Budi iri setengah mati pada Agus. Dalam mimpipun pria itu selalu menang.

TAMAT

Inception: seseorang yang bermimpi dalam mimpi.

Keterangan: Hipoksia: keurangan oksigen pada otak

      1
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s