Aku mau Ibu

Saat seperti ini sungguh aku ingin sekali Ibuku menemaniku di sini. Mulas ini sungguh tak tertahankan sekali rasanya, sungguh! Aku ingin sekali ibu berada di sampingku, memegang tanganku, mengusap-ngusap kepalaku dan berbisik lirih di telingaku

“Tenang , Sayang. Semua akan baik-baik saja!”

Kata itu entah mengapa lebih mujarap kalau Ibu yang mengucapkanya. Joko suamiku sudah seperti dukun komat-kamit ga karuan entah berdoa entah melafalkan mantra. Yang pasti, kata-kata penenang darinya sama sekali tidak menghentikan kegelisahanku. Sungguh! Aku sangat membutuhkan Ibuku.

“Ibuku mana, Mas? Aku mau Ibuku.” Kataku Lirih pada Joko.

“Sabarlah Lastri, Ibumu sedang di jalan. Dia pasti akan datang menemanimu.” Jawab joko memberi penghiburan.

“Aku mau Ibuku, Mas!” Pintaku lagi.

“Ibumu pasti datang, Lastri.” Kata pertama Joko yang membuatku sedikit tenang. Yah Ibuku pasti datang. Tak mungkin dia tak datang. Dia selalu ada saat suka dan dukaku.

“Malam, Bu. Ibu sudah memasuki kala tiga. Sudah pembukann sepuluh. Sebenatar lagi kita akan memulai proses persalinan.” Seorang Bidan datang menghampiri. Bidan itu mendorong troli berisi alat persalinan.

“Anda sudah siap, Bu Lastri?” tanya seorang dokter yang tiba-tiba masuk. Dokter itu sudah memakai pakian khusus untuk membantu persalinan.

“Saya tunggu Ibu saya, Dok. Beliau sebentar lagi akan datang.” Aku ngotot

“Sudah pembukann sepuluh, Bu lastri. Bayi anda akan segera dikeluarkan. Dia bisa kehabisan napas terus berada di dalam kandungan. Plesenta sudah pecahh dan seluruh organ pernapasannya sudah berfungsi dengan baik.” Jelas dokter panjang lebar. Sungguh aku tak peduli, aku mau Ibuku.

“Aku yang menemanimu, Las.”Saran Joko. Tetapi satu-satunya orang yang aku butuhkan di sini adalah Ibu.

“Baiklah, Bu mulai mengedan yah!” Pinta dokter, para bidan mengatur agar kakiku ditekuk menyentuh dada. Dan seketika Rasa sakit mengerikan yang tak pernah kurasakan seumur hidupku menyergap bagian selangkanganku.

“Ibuuuuuuuuuuuuuuuu..” aku berteriak kencang

“Tarik napas panjanggg dan kemudian hembuskan seperti orang yang ingin buang air besar, jangan bersuara yah, Bu.” Demikian intruksi bidan tetapi aku tidak peduli.

“Arghhhhhhggggggggg!” Aku berteriak kencang menahan sakit yang mengerikan. Sakit yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

“Jangan teriak Sayang. Kalo kau teriak hanya akan membuatmu kehabisan tenaga. Santailah. Ibu ada di sini mendukungmu.” Tiba-tiba Ibu sudah ada di sampingku.

“Ibuuuu, Sakit sekali, Bu!” aku menagis kesakitan dan lega. Perempuan paling berarti dalam hidupku itu ada telah ada di sampingku.

“Iya sayang, Ibu tahu. Sekarang. Ayo mengedan Ikuti instruksi Dokter!” Ibu menggemgam tanganku kuat. Seketika rasa lega menghampiriku. Sungguh rasa sakit bukan kepalang itu tak lagi berasa.

“Ibuuu, maafkan aku. Kalau aku tahu betapa sakitnya melahirkan ini. Tantu tak pernah aku membuatmu sedihh. Maafkan aku, Bu!” Bisikku di sela-sela mengedan. Ibu mengecup dahiku lembut.

“Nak, Itulah mengapa seorang Ibu sangat menyayangi anaknya. Perjuangan keras saat melahirkan inilah yang membuat anak selalu berharga. Sungguh! Kami para Ibu sudah berjuang keras menahan sakit saat melahirkan. Tentu tidak mungkin kami menyia-nyiakan anak kami. Tak adalah perasaan paling bahagia selain perasaan mengendong anak mu pertama kali sehabis melahirkan” Bisik Ibu lembut. Dan benar saja kata Ibu. Ketika bidan memberikan bayi mungilku kedalam pelukanku. Saat itu juga aku bersumpah akan selalu membuat anakku bahagia.

TAMAT

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s