Telepon yang Berakhir Jam Dua Dini Hari

Sudah tigapuluh menit saya berada di dalam kamar mandi. Membasuh tubuh dengan air dari kepala sampai kaki, dari kaki sampai kepala. Saya berharap air bisa membersihka noda yang ditinggalkan lelaki itu dari tubuh saya. Noda yang selalu membuat saya benci dan jijik. Sementara itu, suara ngorok terdengar dari kamar tidur. Itu suara ngorok Joko, suami saya yang telah terlelap karena lelah dan nikmat. Suara ngorok yang menjadi lagu pengantar tidur selama tiga tahun kami bersama. Joko tidak pernah tahu, saya selalu menghabiskan waktu lama di kamar mandi setelah bergumul denganya. Saya benci dan jijik setiap kali dia menyentuh saya. Saya benci dan jijik setiap kali tangannya menggerayangi seluruh tubuh saya. Saya benci dan jijik setiap kali bibirnya mengecup seluruh kulit saya. Saya benci saat dia memasuki saya, menari jalang di atas tubuh saya dan menodai saya dengan cairan yang dia sebut benih (saya lebih baik mati bila benih itu berbuah di dalam rahim saya). Sungguh saya benci dan jijik kepada suami saya, tetapi saya hanyalah perempuan lemah yang hanya bisa menyimpan segala kebencian dan rasa jijik itu di dalam hati dan berakting setengah mati untuk tidak jijik dan benci. Kalau sudah begini ingin rasanya saya menelpon Ari, dia selalu bisa menghilangkan rasa jijik dan benci sehabis bergumul dengan suami saya.

*

Lastri menelpon aku, katanya dia menghabiskan tiga puluh menit di dalam kamar mandi, membasuh tubuh dari kepala hingga kaki, dari kaki hingga kepala. Dia berharap dengan membasuh diri dengan air setelah bergumul dengan Joko suaminya, noda yang ditinggalkan suaminya bisa hilang. Lastri bilang Joko tidak pernah tahu, dia selalu menghabiskan waktu di dalam kamar mandi sehabis suaminya itu mengumulinya. Waktu kutanya dimana suaminya, dia bliang Joko sedang tidur mengorok. Suara ngorok yang menjadi lagu pengantar tidur selama tiga tahun mereka bersama. Lastri bilang dia benci dan jijik setiap kali suaminya menggumulinya. Lastri bilang, dia benci setiap kali suaminya menyentuhnynya. Lastri bilang, dia benci setiap kali tangan suaminya menggerayangi tubuhnya. Lastri bilang, dia benci setiap kali bibir suaminya mengecup seluruh kulit tubuhnya. Lastri bilang, dia benci saat suaminya memasukinya, menari jalang di atas tubuhnya dan menodainya dengan benih. Benih yang membuat dia lebih baik mati dari pada berkembang di dalam rahimnya. Aku hanya bisa menghiburnya, kusuruh dia membayangkan aku saat bergumul dengan Joko lagi. Itu mungkin bisa membuat rasa jijik dan bencinya bisa hilang. Hanya itu yang bisa aku lakukan sebagai kekasihnya, kekasihnya yang selalu terbakar cemburu setiap kali dia menceritakan kejijikan dan kebencian saat suamiya menggumuli tubuhnya. Tetapi kemudian aku berpikir, kenapa Lastri selalu menghabiskan waktu di kamar mandi membasuh seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki, dari kaki hingga kepala begitu setelah selesai bergumul dengan suaminya? Mungkin dia phobia kotor.

*

Tigapuluh menit setelah selesai membasuh diri di dalam kamar mandi dengan air dari kepala hingga kaki, dari kaki hingga kepala. Lastri menelpon Ari. Suara ngorok Joko suaminya yang selalu menjadi pengantar tidur selama tiga tahun mereka bersama terdengar dari ruang tidur.

“Saya menghabiskan waktu di kamar mandi selama tiga puluh menit. Membasuh tubuh dengan air dari kepala sampai kaki, dari kaki sampai kepala. Saya berharap tubuh saya bersih dari noda yang ditinggalkan lelaki itu.” Kata lastri ketika mendengar suara merdu Ari terdengar.

“Di mana suamimu?” Tanya Ari.

“Dia sedang tertidur dengan suara ngoroknya yang selalu menjadi pengantar tidur selama tiga tahun dia menjadi suami saya. Suami saya tidak pernah tahu, Ri. Setiap kali selesai menggumuli saya, saya selalu habiskan waktu di dalam kamar mandi, membersihkan diri dari noda yang dia tinggalkan” Kata Lastri, ada nada benci dan jijik di suaranya.

“Saya tidak tahan lagi Ari. Saya benci dan jijik setiap kali dia menyentuh saya. Saya benci dan jijik setiap kali tangannya menggerayangi seluruh tubuh saya. Saya benci dan jijik setiap kali bibirnya mengecup seluruh kulit saya. Saya benci saat dia memasuki saya, menari jalang di atas tubuh saya dan menodai saya dengan cairan yang dia sebut benih” Lastri kembali berkata.

“Sabarlah Lastri. AKu mencintaimu dan kau tahu itu. Pikirkan aku ketika kau menggumuli suamimu. Dengan begitu rasa jijik dan kebencian itu akan sedikit berkurang.”

“Kau gila Ari, saya juga mencintaimu tetapi saya tak mau melakukan hal itu. Lagi pula tubuhmu lebih bagus dan lebih indah dari pada tubuh Joko.” Ari terdiam lama. Tiba-tiba dia berkata lagi:

“Lastri kau mungkin menderita phobia kotor. Kau selalu membersihkan diri setelah habis bergumul dengan suamimu kan? Itu artinya kau tidak tahan ada noda melekat di tubuhmu.”

*

Saya terkaget waktu Ari mengatakan saya phobia kotor. Jelaslah tidak. Saya tidak pernah merasa keberatan dengan kotor. Saya tidak pernah membersihkan diri setiap kali habis bergumul dengan Ari. Saya selalu menikmati setiap kali tangan Ari menggerayangi tubuh saya. Saya selalu menikmati setiap kali bibir Ari mengecup seluruh tubuh saya. Saya selalu menikmati setiap kali Ari menari jalang di atas tubuh saya, memasuki saya meski kemudian dia tidak meninggalkan benih. Padahal saya mendambahkan setengah mati benih darinya untuk berbuah di dalam rahim saya. Meski saya tahu itu mustahil dan tidak pernah terjadi. Saya menyampaikan keinginan itu kepada Ari, dia tertawa dan berkali-kali mengucapkan kata cinta untuk saya. Perlahan tetapi pasti rasa jijik dan benci terhadap suami saya menguap entah kemana. Ya Tuhan, saya sangat mencintai Ari. Saya mencintai dia dengan sepenuh hati saya. Dan tiba-tiba saya tersadar. Alasan saya membasuh diri di dalam kamar mandi sehabis begumur dengan suami saya karena saya ingin tetap bersih, saya ingin tubuh saya bersih untuk Ari. Tiba-tiba terdengar teriakan, Ari tiba-tiba berkata ingin pergi. Anak perempuannya memanggil, Anaknya pasti mimpi buruk. Saya segera menutup telepon,keluar dari kamar mandi dan tidur di samping Joko yang terus mengorok. Saya melihat weker di samping kamar tidur waktu menunjukkan pukul dua dini hari.

*

Lastri menolak waktu aku berkata dia phobia kotor. Dia bilang tidak mungkin itu terjadi, karena dia selalu menikmati saat bergumul bersamaku dan lebih memilih mendekam dalam pelukan daripada kemar mandi. Lastri bilang dia menikmati setiap kali aku menyentuhnya. Lastri bilang, dia menikmati setiap kali tangan aku menggerayangi seluruh tubuhnya. Lastri bilang dia menikmati setiap kali bibirku mengecup seluruh kulitnya. Lastri bilang, dia menikmati saat aku memasukinya menari jalang diatas tubuhnya. Meski aku tidak bisa memberikan benih yang dapat tumbuh subur ke dalam rahimnya. Aku hanya tertawa ketika mendengar dia berkata ingin benihku tumbuh subur di dalam rahimnya. Kami sama-sama tahu itu mustahil, tidak pernah akan terjadi. Aku menjawab keinginannya itu dengan berkata aku mencintainya, mencintainya sepenuh hati. Ya Tuhann, aku mencintai Lastri, aku mencintainya dengan seluruh hidupku meski aku tahu kami tidak akan pernah bisa bersama. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari kamar putriku. Sepertinya dia sedang mimpi buruk. Aku pamit pada Lastri menutup telepon dan segera melangkah ke kamar putriku. Jam dinding menunjukan pukul dua dini hari.

*

“Ahh saya tidak Phobia kotor, Ari. Kalau saya phobia kotor, kenapa saya tidak pernah menghabiskan waktu di kamar mandi sehabis bergumul bersamamu.” Kata Lastri. Ari terdiam

“Saya selalu menikmati setiap kali tanganmu menggerayangi tubuh saya. Saya selalu menikmati setiap kali bibirmu mengecup seluruh tubuh saya. Saya selalu menikmati setiap kali kau menari jalang di atas tubuh saya, memasuki saya meski kemudian kau tidak meninggalkan benih.” Sambung Lastri.

“Saya sangat ingin kau meninggalkan benih di dalam rahim saya, Ari. Saya ingin mengandung anakmu.” Kata Lastri. Ari terdiam lama lalu tertawa.

“Kau tahu itu takkan mungkin Lastri, tidak akan pernah bisa.” Kata Ari. Lastri terdiam..

“hey ayolah meski tidak mungkin dan tidak bisa aku mencintaimu lastri. Mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Kau tahu itu kan?” Kata Ari.

“Saya juga mencintaimu Ari. Demi Tuhan saya sangat mencintaimu.” Kata Lastri lagi. Keduanya terdiam lama, merenungkan kata cinta yang mereka ucapkan. Meski mereka tahu mereka tidakmungkin akan bersama.

“Arghhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!” Sebuah teriakan terdengar.

“Lastri, itu suara Putriku. Sepertinya dia mimpi buruk. Sampai jumpa lagi sayang. Aku mencintaimu.” Kata Ari.

“Baiklah, Aku juga mencintaimu, Arina.” Kata Lastri. Dia menutup telepon, keluar dari kamar mandi dan segera tidur di samping Joko yang masih Mengorok. Dia menatap weker. Pukul dua dini hari. Lastri memejamkan mata, memikirkan lekuk tubuh indah Ari perlahan tetapi pasti tanganya menyusuri perutnya, terus ke bawah dan masuk ke dalam celana dalam suteranya.

Sementara itu Ari telah sampai ke dalam kamar anaknya. Dia melihat weker menunjukan pukul pagi dini hari.

“Ada Apa sayang?’ Katanya.

“Mama, aku bermimpi buruk.” Jawab putrinya.

-Tamat-

Advertisements

One thought on “Telepon yang Berakhir Jam Dua Dini Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s