#kisah kejutan duet dengan @bintangberkisah

kisah kEJUTAN

Maria nyaris terlonjak kaget  saat matanya menangkap sosok lelaki jangkung berkacamata dan berparas wajah baik-baik duduk manis di pojok kafe. Sosok itu tampak sedang menunggu seseorang setelah melalui perjanjian yang dibuat sematang-matangnya. Sejenak Maria ragu, apakah ia akan mendekat atau menghindarinya. Namun ia pun telah terlanjur membuat janji dengan seseorang di kafe itu, seseorang yang sudah sangat lama dinantikannya. Seseorang, yang kemudian mulai ia ragukan lamat-lamat jati dirinya.

Dulu, lelaki yang sedang duduk di bagian pojok kafe itu amat dikenalnya. Ah, siapa yang tak mengenal luar dalam mantan kekasih sendiri? Sandy memiliki goresan kisah menarik di hatinya. Namun itu dulu, ketika mereka belum memutuskan hubungan, menyudahi untuk bersayang-sayangan. Tepatnya, Maria lah yang meminta putus. Tanpa alasan. Tanpa belas kasihan.

Kisah cinta Maria dan Sandy telah berlangsung dua tahun lamanya. Bosan, tentu saja. Tak lagi ada kejutan yang membuat hatinya riang berbunga-bunga. Tak lagi ada sengatan gairah dalam tiap perjumpaan. Mereka terlanjut terbiasa satu sama lain, sampai-sampai tak lagi merasakan beda ketika ada ataupun tiada. Jenuh, itulah ungkapan sesungguhnya. Apalagi, saat itu Maria mulai tergoda oleh sosok lain yang lebih memacu hasratnya. Ia punya insting bahwa lelaki baru yang sedang diincarnya akan menjadi sosok yang berpotensi meruapkan kembali semangat hidupnya. Maria yang sudah bosan sekaligus merasa bersalah, memutuskan untuk memutus hubungan. Sandy, biarlah menjadi sekedar masa lalunya, mencari sendiri kebahagiaan tanpa perlu melibatkan dirinya lagi.

Sudah lama sekali mereka tak lagi saling berhubungan. Sandy memang masih berusaha beberapa kali menghubunginya. Bagaimanapun, masih ada sisa cinta dan kesetiaan di hati pria itu. Namun Maria telah merasa enggan. Pikirnya, lebih baik menyudahi setuntas-tuntasnya daripada meninggalkan sisa-sisa akar yang nantinya akan susah tercerabut. Salah-salah, ia yang akan terbelit. Pikirnya, ia tak mau memberi harapan palsu pada Sandy, yang pikirnya, tak punya harapan untuk masa depannya. Maria semakin menjauh, tanpa pernah menyadari bahwa Sandy menjadi semakin rapuh.

Waktu bergulir setapak demi setapak. Bahkan merajut dan menghabisi hubungan cinta pun seperti membalik telapak tangan bagi Maria. Lelaki tampan nan menawan itu telah ia dapatkan, telah pula ia campakkan. Kisah cintanya berganti-ganti, namun tak jauh berbeda, melulu menuangkan warna yang sama.

Namun yang ini, yang sekarang, agak berbeda. Seseorang yang semula ia kenal secara asal di media sosial ternyata cukup mampu membetikkan rasa penasarannya. Bahkan diam-diam, hasratnya berdesir tiap kali mereka bertukar sapa tanpa perlu saling hadir. Rasa ini jauh berbeda dari yang sudah-sudah. Maria tertarik bukan karena ketampanan, bukan karena kejantanan. Ia terpesona oleh sebuah pembawaan yang dihadirkan dalam imajinasinya.

Prasetya. Sedemikian sederhana nama akun yang mampu membuatnya berbunga-bunga. Sosok misterius itu hanya punya kata-kata, hanya punya pancaran semangat dan sedikit banyak keramahan yang mampu membuat kejenuhannya meleleh. Terlebih, ia sangat rendah hati meski banyak hal yang mampu membuatnya meninggikan diri. Kata-katanya banyak dikutip disana-sini. Karya-karyanya bahkan telah terbit berulang-ulang. Ia sangat layak dikagumi.

Namun satu hal yang membuat Maria teramat girang, teramat beruntung. Usahanya yang spekulatif membuahkan hasil yang menyenangkan. Posisinya bukan lagi sekedar seorang pengagum biasa. Mereka telah berteman lebih dekat, bersikap lebih akrab. Demikianlah anggapan Maria. Media-media yang lebih pribadi mulai menjadi pilihan. Surat-surat elektronik mulai kerap berbalas-balasan. Sekiranya, banyak hal yang mereka ceritakan. Mulai dari cara menulis yang baik, dukungan berimajinasi, kisah-kisah cinta, kompleksitas persahabatan, kesenjangan orang tua, masalah pendidikan, pemerintahan, hingga ternak peliharaan.

Pesan-pesan singkat pun mulai banyak bertebaran, memberi jeda pada kesibukan. Senyatanya, keintiman di antara mereka bukan tercipta dari bibit-bibit kemesuman, melainkan dari banyak tanya yang terlontar, banyak cerita yang tersiar. Kendati begitu, Prasetya telah mengisi relung-relung imajinasi Maria sebagai sosok yang menerbitkan harapan cintanya. Memang terlalu dini untuk mengatakan bahwa Maria jatuh cinta pada sosok Prasetya. Namun perasaan kagum itu mulai sedikit berlebih. Perasaannya seringkali berloncatan dan menari kesana-kemari, tanpa dapat ia kendalikan.

Hingga tibalah saat pertemuan. Pada akhirnya, ide ini menuntut untuk dilontarkan. Maria setengah memaksa, setengah merayu, bahwa pertemuan itu akan menjadi peristiwa penting baginya.

“Ada hal yang sedikit kukhawatirkan, bahwa pertemuan akan membawa perubahan, atau perbedaan kedekatan kita yang sudah terjalin sedemikian manis dan tulus. Tak ada yang berani menjaminku…” kata Prasetya melalui surat terakhirnya.

“Aku yang menjamin. Takkan ada yang berubah meski kita bertemu untuk pertama kali atau seribu kali ke depan. Apa kau dapat mempercayaiku?” balas Maria melalui pesan singkatnya.

“Aku yang seharusnya bertanya, apakah aku dapat mempercayaimu?” jawab Prasetya, mengembalikan pertanyaannya.

Detik-detik pertemuan itu telah memaparnya pada sebuah kejadian yang sama sekali tak diduganya. Bukan Prasetya, sosok dalam imajinasinya, yang duduk di tempat yang telah disepakatinya. Melainkan Sandy, mantan kekasihnya, yang telah ia kenal baik di masa lalunya. Sempat ada keraguan bahwa kejadian itu hanya sekedar kebetulan belaka. Barangkali Sandy memang kebetulan sedang berada di kafe tersebut, dan Prasetya belum masuk ke kafe tersebut. Namun beragam pembuktian melemahkan prasangkanya. Sandy lah yang memakai baju dengan warna yang Maria dan Prasetya sepakati. Sandy yang meletakkan novel terbaru bertanda-tangan Prasetya pesanan Marian di atas meja, bersebelahan dengan secangkir kopi yang telah setengah dingin. Dan Sandy pula melempar senyum penuh arti ke arahnya saat menyadari kedatangannya.

Maria sempat terpaku. Kakinya terasa begitu berat, seolah tak lagi punya kendali untuk bergerak ke arah tertentu. “Ah, apa yang harus kulakukan?” batin Maria, mulai merasa panik.

“Jangan panik, Tolol!” Kata Maria pada dirinya. Sayangnya mengatai diri sendiri tolol karena panik, tidak membuat panik itu pergi malah semakin menjadi. Sandy yang tadi melempar senyum kini melambaikan tangan ke arahnya. Tidak ada pilihan lain, dengan kaki berkeringat dingin dan jantung yang bertalu-talu Maria melangkah menuju ke  meja Sandy.

“Hay!” Kata Maria, Perempuan itu mengutuk suaranya yang terdengar aneh dan gugup. Astaga! Mengapa dia begitu gugup begini di depan Sandy? Dalam hati dia berdoa Sandy tidak mendengar degup jantungnya.

“Duduklah, aku sudah menunggumu dari tadi.” Sandy tersenyum, menunjukan deretan giginya yang rapi, Maria tertegun dia tak pernah ingat mantan kekasihnya itu punya gigi serapi itu. Dengan pelan dia duduk di kursi di depan meja Sandy. Dia melirik buku di meja di depan Sandy, tak salah lagi itu buku baru prasetya yang dijanjikan lelaki itu Tak salah lagi Prasetya itu adalah Sandy tetapi bagaimana bisa? Sandy sama sekali tak pernah menulis.

“Mau pesan apa?” Kata Sandy riang, senyum kembali memgembang di bibirnya. Maria memperhatikan wajah mantan kekasihnya itu seksama, Sandy yang sekarang lebih terlihat dewasa, mungkin karena kacamata tetapi ada sesuatu yang berubah. Maria coba mengorek-ngorek ingatannya tentang Sandy. Mencoba menghadirkan memori mengapa tepatnya dia bosan pada Sandy. Sandy yang dulu sangat penurut, pacaran dengan Sandy tak ada gregetan sama sekali. Mungkin lelaki seperti itu adalah impian setiap wanita tetapi bagi Maria hal itu membosankan. Dia ingin laki-laki yang bisa mengambil keputusan, laki-laki yang idealis yang tidak hanya menurut apapun keinginan Maria.

“Mau makan apa, Mar?” Kata Sandy mengagetkan lagi. Maria terkaget, dia tersenyum dan segera mengambil menu di meja.

“Aku ingin nasi goreng saja.” Katanya. Sandi tersenyum

“Masih suka nasi goreng? Bagaiman kalau kamu coba sapi lada hitam kafe ini, sangat lezat.” Sandy memanggil pelayan.

“Mba, sapi lada hitam untuk kami berdua yah.” Maria terperangah, Sandy yang dulu pasti akan berkata. “Mbak nasi goreng untuk pacar saya. Kamu mau nasi goreng apa sayang? Pedes ga? Dia takjub menyaksikan untuk pertama kali Shandi memutuskan sesuatu untuk mereka berdua.

“Apa kabar?” Kata Maria,hanya itu kata yang mampu dia ucapkan. Sandy tertawa

“Aku baik-baik saja dan yahh aku selalu tahu kabarmu jadi kurasa kau baik-baik saja bukan.” Maria menatap Sandy. Tak salah lagi Sandy adalah Prasetya

Astaga, apa yang harus kulakukan? Apakah aku tersenyum dan mengatakan: Ah jadi kau Prasetya itu? Ataukah aku marah, apa Maksudmu berpura-pura jadi Prasetya? Seribu pikkiran berkecamuk di batin Maria.

“Maafkan aku, Maria! Hanya itulah cara agar aku bisa mendekatimu.” Sandy menyadari ketidaktenangan Maria. Maria menatap lagi laki-laki itu, ada kesungguhan pada mata coklatdi balik kaca mata pria itu. Maria menarik napas panjang, sungguh dia tak tahu harus berespon apa.

“Aku tak terima kau memutuskan begitu saja, aku em aku mencintaimu sepenuh hati dan mencoba melakukan apapun yang kau mau. Apakah menurutmu aku tak sakit hati?” Kata Sandy lagi. Maria menyadari selama setahun mereka berpisah ini, Sandy masih menyimpan kekesalan di hatinya. Siapa yang tidak sakit hati diputuskan secara sepihak, apalagi dengan alasan tak jelas macam dia berikan dulu pada Sandy. Maria memilih diam, sungguh dia tidak menangka laki-laki di deannya ini akan berpura-pura menjadi orang lain untuk mendapatkan alas an mengapa mereka putus dan yah Maria ingat dia telah menceritakan semua hal mengapa dia putus dari Sandy secara gamblang kepada Prasetya.

Sandy adala Prasetya, Prasetya adalah Sandy, Maria tersadar selama ini dia jatuh cinta pada sosok maya yang dibuat oleh mantan kekasihnya. Segala angan-angannya tentang Prasetya, segala cerita yang mereka ukir hilang begitu saja. Segala tips menulis yang mereka sampaikan sia-sia belaka. Rasa marah mengkudeta batin Maria, bersamaan dengan itu pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Sandy memasang kembali wajah tenangnya.

Kita makan dulu!” Katanya tersenyum, Maria sama sekali tidak tersenyum, rasa marah menghilangkan selera makannya. Apa maksud Sandy melakukan semua ini? Mengapa dia harus berpura-pura menjadi orang lain? Mengapa dia harus menjadi Prasteya yang membangkitkan cinta di hati Maria? Mengapa dia harus menjadi Prasetya yang selalu menjadi tokoh utama di setiap bayangannya.

“Jadi kamu adalah Prasetya? Jadi kamu berpura-pura menjadi orang lain supaya mendekatiku? Astaga Sandy!” Katanya dengan nada keras. Beberapa orang di kafe itu menoleh ke arah mereka. Sandy menatapnya, kemudian tersenyum.

“Aku tidak pernah menjadi Prasetya!” Katanya.

“Lalu buku ini, ini buku yang dijanjikan Prasetya untukku, kemeja yang kau pakai itu warna yang sama yang aku dan Prasetya sepakati.” Dia benar-benar marah.

“Tenanglah, Maria. Aku tak pernah menjadi Prasetya. Aku memang mencari tahu alasan putus tentangmu dari Prasetya tetapi aku bukan dia.” Maria melongo, kejutan apa lagi ini? Astaga! Apakah Sandy membayar orang untuk menjadi Prasteya. Pikirann itu membuat dia makin jijik pada Prasetya.

“Apa maksudmu?” tanya Maria.

“Aku bukan Prasetya, Prasetya seorang penulis aku mengenalnya setelah putus darimu, dia ingin membantuku mencari tahu alasan putus kita. Dia mendekatimu, berdiskusi karya-karyanya denganmu. Dia em dia menyukaimu.” Maria terdiam mendengar perkataan Sandy. Dia tak tahu harus berespon apa.

“Ah itu Prasetya datang.” Kata Sandy tiba-tiba. Laki-laki berdiri dan melambaikan tangan ke arah pintu. Maria kembali merasakan jantungnya berdegup kencang, keringat dingin membasahi tubuhnya. Sebentar lagi dia kan bertemu Prasetya, laki-laki yang selama ini hanya bertemu lewat dunia maya, yang rajin mengirim email, lelaki yang dia kira mantan pacarnya. Dia menarik napas panjang dan memberanikan diri melirik ke arah Pintu. Seorang perempuan melangkah ke arah mereka. Maria melongo.

“Maria perkenalkan ini Prasetya alias Tya.” Sandy memperkenalkan perempuan itu pada Maria. Prasetya atau Tya mengulurkan tangan.

“Wah Maria sudah kuduga kau cantik. Aku membawakan buku yang kujanjikan padamu” Maria masih melongo, dia tidak membalas uluran tangan Tya.

“Sudah kuduga pertemuan ini akan membawa perubahan. Padahal aku sangat menikmati hubungan manis kita, Maria. Senang menemukan teman yang sangat cocok berbagi menulis denganmu.” Tia tersenyum, Maria kehilangan kata-kata.

Tamat

Advertisements

2 thoughts on “#kisah kejutan duet dengan @bintangberkisah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s