Pengadilan Omong Kosong

Ruang pengadilan itu tercekik dan gelisah seperti ada suara mengeram dari balik dinding-dindingnya. Udara panas matahari yang tak mampu dikalahkan AC menambah tampangnya yang muram. Gerah dan keringat menggerayangi tubuh setiap orang yang menunggu kedatangan hakim yang datang terlambat.

Para wartawan memenuhi tiga deret kursi penonton. Mereka sama sekali tidak gelisah hanya gerah dan mengumpat hakim yang belum juga datang. Banyak dari antara mereka yang telah menunggu lebih dari tiga jam untuk meliput kasus ini. Di deretan bangku ketiga tepatnya di bagian tengah, duduk seorang wartawan muda dengan wajah berseri-seri. Kasus ini adalah berita pertamanya, harus istimewa, harus menggelegar. Dia mengamati setiap ruangan, mencoba mendeskripsikan keadaan ruangan, berharap mendapatkan kata pertama yang tepat untuk artikelnya. Kata pertama yang memukau redakturnya.

Duduk dengan enggan di kursi di depan podium hakim, sang terdakwa kasus ini. Sang terdakwa seorang laki-laki berusia seperempat abad dengan wajah yang terpahat sempurna, Mata coklatnya tenang menatap ruang pengadilan. Dia sama sekali tidak merasa tercekik dan gelisah berada di ruangan tempat kejahatannya diadili. Pembelanya, pria bertubuh kecil dan berkepala hampir botak duduk sama tenang dengan kliennya di meja pembela. Wartawan itu tahu,  Ayah laki-laki yang akan diadili itu orang  terkenal dan kaya. Si pembela itu pastilah sedang membayangkan uang banyak yang akan dia terima jika kasus ini menang, sama sekali tak ada kegelisahan di wajahnya.

Kegelisahan terbesar justru muncul pada meja penggugat. Seorang perempuan bertubuh sayu dan mata bengkak duduk dengan gelisah. Mulutnya komat kamit membaca doa agar tenang, tetapi tingkahnya itu malah membuat dia jadi tak tenang. Sang wartawan bisa melihat sinar kebencian dari mata hitam perempuan itu saat melihat sang lelaki.

Bagaimana tidak, Laki-laki yang duduk di podium itu digugat ke pengadilan karena pemerkosaan.  Sang wartawan masih ingat, sebulan lalu kasus itu ramai dibicarakan publik, dari rakyat jelata sampai petinggi negara. “Anak orang terkaya di Indonesia dituntut  dengan tuduhan pemerkosaan” menjadi berita yang paling dicari dan diminati masyarakat. Entah mengapa masyarakat lebih suka membaca kasus seperti ini daripada membahas korupsi yang telah menjadi penyakit politikus. Mengumpat si anak orang kaya dan mengasihani perempuan yang diperkosa lebih menarik  daripada memikirkan miliyaran bahkan triliyunan uang yang dikorupsi. Apapun yang dibicarakan orang banyak merupakan emas bagi pemburu berita dan jadilah selama sebulan ini artikel pemerkosaan itu menjadi headline di mana-mana.

Sementara itu, di samping perempuan penggugat duduk dengan wajah tersenyum, laki-laki kurus dan berkumis. Dia adalah pembela si perempuan yang secara tiba-tiba menawarkan bantuan suka rela pada perempuan itu

“Keadilan di negeri ini harus ditegakkan.” Begitu kata pengacara itu berapi-api ketika banyak wartawan bertanya alasan dia menjadi pembela sang perempuan. Gunjingan-gunjingan miring bahwa pengacara itu melakukan hal itu untuk mencari ketenaran.Setelah puas memandang berkeliling. Wartawan muda tiba-tiba menemukan kalimat pertama yang tepat untuk artikelnya.

. “Ruang sidang mencekam ketika sidang akan dimulai. Terdakwa tampak duduk di kursi dengan perasaan gelisah, dalam hati dia memikirkan kebebasan yang mungkin hilang dari dirinya jika sang hakim mengatakan bersalah. Sementara itu si penggugat tampak sedih dan berlinangan air mata peristiwa pelecahan pada dirinya tentunya menimbulkan efek traumatis.” Wartawan muda itu tersenyum memikirkan kalimat-kalimat yang muncul di kepalanya. Kalimat yang dilebih-lebihkan dan berkesan mengada-ada, tetapi begitulah koran mereka melebih-lebihkan kejadian apa pun untuk dibuat dalam bentuk berita. Namun, meskipun masyarakat tahu koran suka melebih-lebihkan cerita mereka menikmati hal itu. Mereka membaca berita di koran itu dan kemudian menyampaikan sindiran betapa berlebihannya koran itu, lalu kemudian membaca lagi dan menyindir lagi. Begitu terus sampai mereka puas dan masyarakat tidak pernah puas.

“Hakim akan memasuki ruangan.” Suara protocol sidang terdengar membahana di seluruh ruangan. Wartawan muda dan para wartawan bernapas lega, Laki-laki terdakwa tampak tak peduli, dan perempuan penggugat tampak semakin gelisah. Seorang hakim bersama dua asistennya masuk ke ruang sidang. Hakim itu seorang laki-laki gemuk dengan mulut yang siap mengeluarkan kata-kata menakutkan bagi mereka yang bersalah. Tampangnya selalu kelihatan marah dan melotot kepada siapa saja yang membantah .Wartawan muda memikirkan kalimat selanjutnya di artikelnya.

Suasana tambah muram ketika hakim memasuki ruang sidang, sang terdakwa terlihat gelisah dan pucat di tempat duduknya. Sang penggugat terlihat lega berpikir sang penyelamat telah datang.

“Sidang hari ini saya buka.” Hakim mengetuk palu. Dengan enggan

“Agenda sidang hari ini, mendengar kesaksian tergdakwa dan tergugat.” Asistennya berkata. Hakim berdehem sebentar lalu berkata lantang

“Saudara terdakwat silahkan naik ke podium.” Suara hakim itu terdengar menggelegar. Semua mata memandang laki-laki di kursi tergdakwa yang melangkah santai menuju podium. Dia bahkan tersenyum sinis pada perempuan penggugat. Hal itu tertangkap mata wartawan muda tadi, dia menimbang apakah hal tersebut dia masukan ke dalam artikelnya atu tidak.

“Silahkan ceritakan apa yang terjadi pada malam kejadian.” Perintah hakim setelah laki-laki tergugat mengucapkan sumpah demi Tuhan dan negara. Laki-laki itu terbatuk dengan nada angkuh.

“Semua perempuan di Indonesia tergila-gila sama gue, mereka bakalan melakukan apapun agar gue bisa tertarik sama mereka. Apapun termasuk memberikan tubuh mereka. Sama seperti perempuan itu, dia memberikan tubuhnya ke gue gratis. Mana bisa gue tolak.” Laki-laki tergugat memulai. Dia tersenyum sinis pada si perempuan.

“Laki-laki pembohong, pemerkosa!” teriak si perempuan sambil berdiri mengacungkan jari telunjuk pada podium terdakwa. Wartawan muda menatap adegan itu dengan semangat pun demikian rekan wartawannya yang lain. Selagi pembela si perempuan menahan tubuh ringkihnya. Juru kamera mengambil beberapa foto. Suasana menjadi berisik. Perempuan penggugat menatap pembelanya dan memohon dibela.

“Interupsi Pak Hakim, terdakwa menggunakan bahasa non baku di ruang sidang.” Pembela si perempuan berdiri. Perempuan penggugat menatap si pembela tak percaya, wartawan yang tadi hiruk pikuk juga menatap tidak percaya,  bahkan hakim pun menatap pembela tidak percaya. Laki-laki terdakwa tersenyum senang, kemenangan muncul di matanya. Suasana gaduh menjadi hening. Wartawan muda terperangah sebuah kalimat meuncul di kepalanya, “Sidang diawali dengan larangan menggunakan kata non baku di ruang sidang oleh pembela penggugat kepada tergugat.” Kalimat pertama yang berkesan.

“Interupsi diterima. Mohon terdakwa tidak menggunakan bahasa non baku.” Hakim berkata malas.

“Baiklah, seperti yang seluruh Indonesia tahu saya ini adalah anak orang paling kaya di Indonesia. Tak ada perempuan yang bisa menolak pesona saya termasuk perempuan yang duduk di situ” Si laki-laki penggugat berkata dengan sombong. Perempuan menatapnya penuh kebencian. Darahnya tiba-tiba mendidih. Pengadilan ini omong kosong!

“Aku tidak pernah menginginkanmu. Kau yang mengikatku di tempat tidur hotel dan memperkosaku.” katanya marah. Suasana gaduh kembali terdengar. Juru foto bergantian membidik kamera ke arah perempuan itu.

“Anda diam saja, saya yang membela Anda!” Pembela si perempuan berkata jengkel.

“Kau tidak membelaku, kau pengacara busuk! Jangan-jangan kau suruhan laki-laki di depan itu untuk membelaku.” Sang perempuan penggugat terlihat marah. Suasana semakin gaduh saja. Para wartawan berbisik-bisik, kamera menjepret tanpa henti. Laki-laki terdakwa tersenyum senang di podiumnya, pembelanya juga tampak sumringah, bagaimana tidak dia tak melakukan apa-apa tetapi  sepertinya kasus ini akan dimenangkan kliennya. Wartawan muda pusing, terlalu banyak kejadian spektakuler di ruang sidang ini dan dia bingung menentukan kalimat pertama yang tepat untuk artikelnya.

“Cukup! Tenang! Semua diam!” Suara hakim terdengar menggelergar. Wajahnya emosi dan tampak tidak suka susasan berisik di ruang sidangnya.

“Kau terdakwa apakah kau menikamati pemerkosaan yang kau lakukan?” kata hakim menunjuk jari telunjuk pada terdakwa. Terdakwa mengangguk senang. Kembali semua suara terdengar di sidang itu

“Apa maksud hakim itu bertanya demikian?”

“Hakim ini sudah gila”

“Astaga komentar yang aneh.”

“Kau saudari penggugat apakah kau menikmati pemerkosaan ini?” gantian hakim menunjuk perempuan penggugat. Perempuan itu bergeming, tak mampu menjawab. Astaga, pikir si wartawan muda pengadilan ini omong kosong. Bagaimana mungkin hakim gila itu bertanya tentang hal-hal aneh?

“Baiklah karena kau terdakwa menikmati pemerkosaan ini dan kau penggugat diam saja dan mungkin itu tanda kau menikmati pemerkosaan ini maka aku memutuskan kalian berdua dinikahkan. Nikahkan saja mereka. Nikahkan saja laki-laki muda ini dengan perempuan itu. Kasus ini ditutup.” Hakim mengetuk palu. Laki-laki terdakwa terkejut dan pucat, demikianpun pembelanya. Perempuan penuntut dan pembelanya menatap hakim bingung,  para wartawan  terkaget juru foto mulai membidikkan kamera ke arah hakim. Di tengah wartawan yang hiruk pikuk, wartawan muda yang masih berusaha mencari kalimat pertama untuk artikelnya merenung.

Astaga pengadilan ini omong kosong betul, batinnya lagi. Tiba-tiba dia menemukan kata pertama yang sempurna untuk artikelnya. “Hakim telah menemukan hukuman layak bagi para pemerkosa, menyuruh mereka bertanggung jawab dengan menikahi korbannya.” Dia ingin segera pulang dan mulai mengetik.

TAMAT

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s