Mencari Lastri

Dia rasakan hormone adrenalin mengalir melalui pembuluh darah ke seluruh tubuhnya, membuat ketukan jantung lebih cepat dua kali dari biasanya, dan kelenjar minyak di bawah jaringan subkutan kulit memproduksi keringat lebih banyak. Malam itu dia telah melakukan perjalanan panjang dan asing. Gulita mengkudeta malam dan tak memberikan sedikit pun tempat bagi bulan dan bintang. Walaupun demikian, mata cokelatnya telah terlatih untuk melihat dalam gelap mampu menuntun kakinya menyusuri jalan setapak dengan sempurna.

Rumah kecil itu berdiri rapuh tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia tak melihat ada lampu di teras rumah itu, walau dia terlatih melihat dalam gelap dia sama sekali tak dapat melihat gambaran jelas tentang rumah kecil itu dari tempatnya berdiri. Baru ketika dia berjalan mendekat, dia menyadari rumah kecil itu terbuat dari tembok, warna tembok itu mungkin putih atau kuning gading atau mungkin kuning muda, entahlah debu membuat warnanya jadi kusam. Di tengah-tengah rumah itu ada sebuah pintu. Sama sekali tidak ada jendela, hanya pintu. Dia mendesah, mau apa lagi dia muak menutupi semua kebenaran yang ada. Dia muak mendapati begitu banyak kebohongan. Dia muak hanya duduk diam sebagai penonton, saatnya dia maju sebagai aktris, memainkan peran utama. Dengan mantap dia membuka pintu rumah kecil itu.

“Selamat malam, Marni! Duduklah aku sudah lama menantimu,” seorang laki-laki tua menyapa sambil tersenyum manis. Marni memandang laki-laki itu,

“Siapakah kau? Dimana Lastri?” tanyanya. Laki-laki itu tersenyum.

“Aku sudah lama menunggumu, Marni. Namaku Oz.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya, Marni ragu-ragu menjabat uluran tangan itu, Oz menjabat tangannya kuat

“Masuklah! Kalau kau ingin mencari Lastri kau datang ke orang yang tepat,” kata Oz sambil tersenyum memunculkan giginya yang putih. Marni mendesah meski enggan dia mengikuti langkah Oz masuk ke dalam ruangan itu.  Ruangan itu berbentuk kubus, berdinding tembok putih tanpa ada satu pun jendela. Dua buah kursi yang dipisahkan meja bundar terletak di tengah-tengah ruangan, tak ada perabotan apapun di ruangan itu. Marni tiba-tiba merasa menyesal masuk ke dalam ruangan itu. Oz tersenyum lagi padanya.

“Ayo silahkan duduk, Marni!’ Oz mempersilahkan Marni duduk kemudian dia sendiri duduk di salah satu kursi. Marni duduk di kursi yang tersisa dan mendapati dirinya resah duduk berhadapan dengan Oz dan hanya dibatasi meja kecil.

“Ceritakan bagaimana hubunganmu dengan Lastri?” Marni mendesah, dia sudah tahu pertanyaan itu pasti dilontarkan kepadanya.

“Lastri itu sahabatku,” katanya.

“Sudah berapa lama kalian bersahabat?” tanya Oz lagi. Marni mengangkat bahu.

“Entahlah aku tak pernah menghitung yang pasti sangat lama,” jawabnya.

“Apakah kau tahu segala hal yang terjadi pada Lastri?” Marni memandang laki-laki di depannya ragu-ragu lalu mendesah lagi.

“Tentu saja, Lastri mengisahkan semua hal yang terjadi selama dia hidup padaku. Hal-hal mengerikan, kau takkan bisa membayangkannya,” ujar Marni. Oz menatapnya penuh minat.

“Maukah kau berbagi rahasia Lastri itu. Mungkin hal itu bisa membuat kita menemukannya,” kata-katanya membuat Marni berseri-seri.

“Kau yakin?” tanyanya.

“Setidaknya kita mencoba,” Jawab Oz. Marni mendesah lagi. Tak ada pilihan lain, Lastri sepertinya tak keberatan kalau dia mengisahkan kisah hidupnya. Demi kebaikan dia sendiri.

“Tapi berjanjilah kau takkan menceritakan pada Lastri aku telah membocorkan rahasianya.”

“Aku berjanji.” Marni melihat keseriuasan di ucapan Oz. Dia mendesah lagi sebelum memulai.

***

Lastri kecil sangat dimanja kedua orang tuanya. Dia lahir di keluarga kaya yang mapan. Ayahnya mempunyai perusahan pembuatan keramik yang sukses dan Ibunya ibu rumah tangga yang berkelimpahan uang. Di usianya yang keenam tahun, semua hal berubah. Dimulai ketika segerombolan orang mengutuk keturunan mereka.

“Cina Anjing! Cina Musuh!” orang-orang itu membakar rumah mereka setelah sebelumnya memperkosa Ibu Lastri di depan dirinya dan ayahnya.  Ayah dan Ibu Lastri mengalami depresi berat, mereka dimasukkan daam rumah sakit bebrapa waktu sementara Lastri dititipkan di sebuah panti asuhan.

“Apakah di pantai asuhan itu Lastri mengalami kekerasan?” Potong Oz. Marni menatapnya marah.

“Kau tak boleh memotong ceritaku,” bentaknya, Oz mengangguk.

Dua bulan kemudian, ayah dan Ibu Lastri dipulangkan kembali, mereka mendapat sebuah rumah baru tetapi sepertinya jiwa mereka tertinggal di rumah dan kekayaan yang lama. Suasana rumah lastri menjadi mengerikan.  Kedua orang tuanya berubah menjadi iblis, mereka memukul Lastri sampai babak belur. Ayahnya pernah mencucukkan rokok menyala di dadanya. Ibunya pernah menyiramnya dengan air panas bahkan pernah mengurungnya dalam kamar mandi dan mengikat kedua tangannya selama  dua hari tanpa makan dan minum. Mukjijatlah yang membuat dia bisa hidup sampai sekarang.

Marni terdiam sebentar, air matanya tiba-tiba jatuh.

“Mengisahkan kisah mengerikan yang dialami Lastri sungguh tidak muda,” isaknya. Oz menenangkannya. Mereka diam beberapa lama. Marni melanjutkan lagi kisahnya,

Namun, itu belum seberapa, saat Lastri berumur tujuh tahun entah iblis apa yang merasuki kedua orang tuanya. Mereka mengikat Lastri di kursi dan bersetubuh di depan anak itu. Hal yang mengerikan kemudian setelah puas dengan Ibunya, Ayahnya menggagahi Lastri.” Wajah Marni berubah emosi.

“Orang tua Lastri itu binatang ah bukan binatang tak ada yang menggagahi anaknya kecuali anjing. Kau tahukan anjing menyetubuhi induknya. Jadi, orang tua Lastri itu anjing, anjing jantan dan anjing betina.” Mata Marni menyala-nyala. Oz diam sejenak membiarkan emosi perempuan itu reda.

“Kejadian itu terus berlanjut sampai Lastri berusia sepuluh tahun,”

“Apa yang terjadi saat Lastri berusia sepuluh tahun?”

“Saat dia berumur sepuluh tahun kedua orang tuanya bertengkar hebat. Ayah Lastri yang mabuk dan teler karena narkoba menyiramkan bensin ke tubuh Ibunya. Dia memberikan pemantik pada Lastri dan menyuruh anak malang itu membakar ibunya.”

“Apakah Lastri membakar ibunya?”

“Yah dan ayahnya ikut terbakar bersama ibunya. Lastri sengaja membakar kedua orang tuanya. Mungkin karena kebencian yang mendarah daging di dalam dirinya. Bayangkan membakar orang hidup-hidup saat kau berusia 10 tahun, mengerikan sekali.” Ekspresi wajah Marni berubah ngeri. Mereka berdua terdiam lagi.

“Kemudian Lastri tinggal di panti asuhan. Dia menjadi anak yang pendiam dan penurut. Dia sama sekali tidak pernah membuka mulutnya. Orang-orang maklum dia trauma karena kematian mengerikan orang tuanya. Salah seorang janda kaya raya tertarik pada Lastri. Dia kemudian diangkat menjadi anak si janda kaya itu. Sejak saat itu hidup lastri berubah. Dia kuliah dan kemudian bekerja di perusahan import.”

“Apakah Lastri juga menceritakan kepadamu tentang suaminya?” tanya Oz.

“Ah, Joko. Tentu saja. Lastri tergila-gila pada laki-laki itu. Mereka berpacaran hingga akhirnya menikah. Sayangnya Joko itu ternyata hidung belang setelah lima tahun menikah Lastri mendapati suaminya itu berselingkuh.”

“Ah, jadi itulah alasan dia membunuh suaminya?”

“Begitulah dan koran-koran melebihkan cerita itu. Lastri sungguh merasa menderita saat koran-koran meliput kasus pembunuhan mengerikan yang dia lakukan itu. Bayangkan dia menikam tubuh Joko berkali-kali dan menghancurkan alat vitalnya. Perbuatan yang sangat mengerikan.” Marni bergidik lagi.

“Yah sangat mengerikan,” Oz Mengiyakan mengingat betapa hebohnya pembunuhan itu menjadi headline di koran-koran seluruh Indonesia. Mereka berdua hanyut dalam pikiran masing-masing.

“Oz, maukah kau berjanji lagi tidak mengatakan pada Lastri aku kemari dan memberitahu dan menceritakan semuanya? Aku tak enak jika Lastri mengetahui ini semua.” katanya.

“Sayang sekali, Marni. Lastri harus tahu segala hal yang kau ceritakan itu. Dia harus tahu.” Raut wajah marah terpatri di wajah Marni. Perempuan itu melotot marah pada Oz.

“Tadi kau berjanji akan menjaga rahasia ini,” Bentaknya.

“Rahasia ini harus diketahui Lastri. Selama ini dia stress dan depresi. Dia sama sekali tak merasa membunuh kedua orang tua dan suaminya,” Marni berang mendengar perkataan Oz.

“Kurang ajar! Sialan! Kau pengkhianat! Kau bajingan! Kau sama brengseknya dengan Ayah, Ibu dan Joko. Aku yang mengalami semua penderitaan Lastri. Aku yang mengalami semua siksaan ayah dan Ibu, aku yang melihat Joko tidur dengan sekerteris brengseknya itu, aku yang membunuhnya. Aku juga yang membakar Ayah dan Ibu. Aku melakukan itu semua untuk melindungi Lastri dan sekarang aku akan mmebunuhmu untuk melindungi kami berdua.” Marni bangkit dari tempat duduknya dan mencengkram Oz. Oz tergopoh-gopoh bangun dari tempat duduknya. Dia beruntung tangan Marni diborgol. Sudah cukup, waktunya memanggil Lastri kembali. Dia meraih bandul dari saku bajunya.

“Lastri dalam hitungan ketiga kau terbangun, satu… dua.. tiga,” Teriaknya. Marni yang memberontak tiba-tiba bergeming. Perempuan itu terkulai lemas ke kursi. Raut wajahnya yang penuh emosi dan kemarahan berubah pelan-pelan menjadi tenang. Dia membuka mata dan terkaget.

“Dokter Oz! Apa yang terjadi?” dia berseru lemah. Oz tersenyum pada perempuan itu.

“Semua baik-baik saja, Lastri.” katanya.

“Aku baik-baik saja, dokter. Aku tidak membunuh Joko dan aku juga sama sekali tidak gila. Percayalah padaku,” Mata perempuan itu berkaca-kaca. Oz tersenyum lagi.

“Yah kau tidak bersalah, Lastri. Sekarang kembali ke kamarmu lagi, yah,” pintanya. Lastri mengangguk. Oz mendesah lega, meski berakhir buruk Marni sang alter, kepribadian lain dalam tubuh Lastri akhirnya mau terbuka.

Tamat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s