Rahasia-Rahasi (part 1)

1

Yudistira keluar dari kamar mandi dengan perasaan senang. Istrinya yang masih cantik di usianya yang lima puluh enam sedang duduk di depan kaca.

“Kau masih tampak cantik, Tih. Ngapain lama-lama berkaca?” Katanya. Ratih memandang suaminya yang rambutnya mulai beruban itu. Ketampanan wajah mudanya masih terpatri di situ, ketampanan yang diwariskan kepada Jio anak mereka.

“Aku hanya sedang memikirkan apa saja yang akan  kita bawah ke Jogja,” katanya bangkit dari kursi dan berjalan ke arah suaminya. Yudistira memegang tangan Ratih, tangan yang mulai keriput tetapi tetap hangat itu.

“Anak kita sudah besar. Ah aku tak menyangka sekarang kita punya tiga orang cucu,” katanya lagi.

“Empat, ingat Putri sedang hamil,” ralat Ratih. Iva anak sulung mereka menikah tujuh tahun lalu dan telah dikarunia sepasang anak kembar , dua tahun kemudian Jio juga menyusul kakaknya, memiliki seorang putra dan sebentar lagi anak kedua dan  tujuh bulan lalu si bungsu Reya juga telah menikah. Mereka berdua kini sendirian di rumah mereka yang besar itu.

“Yah empat dan sebentar lagi si kecil Reya akan mempunyai anak dan aku akan jadi seorang kakek yang bahagia,” Katanya. Ratih menatap wajah suaminya dalam diam, sesuatu yang tak enak dia rasakan menyeruak masuk ke dalam hatinya.

“Sebaiknya kita tidur. Besok kita berangkat pagi ke Jogjakarta. Kau kan susah bangun pagi sejak.” Ratih tersenyum. Yudistira mengangguk.

“Maukah kau memelukku malam ini? Rasanya sudah lama sekali kita tidak saling memeluk?” Air mata Ratih hampir jatuh mendengar permintaan suaminya itu. Dia berjalan mendekat ke suaminya. Untuk pertama kalinya entah sejak kapan, mereka tidur sambil berpelukan. Tengah malam, Ratih terbangun. Dia memastikan suaminya telah tertidur nyenyak, lalu melepaskan pelukan mereka, dan melangkah ke meja rias. Dia mengambil sebuah kertas dan pulpen lalu mulai menulis. Besok pagi-pagi sekali dia akan menyuruh Boris datang ke rumah mereka.

***.

Perasaan sedih melanda Jio Atmojo yang berdiri kaku di depan rumah mendiang orang tuanya. Tangan kekarnya menggegam erat terali pagar yang mengkarat dimakan usia. Mata cokelatnya menanggkap cahaya lampu di balik jendela kaca besar di depan teras. Seseorang telah berada di rumah itu sebelum dia. Bisa jadi kakaknya Iva atau adiknya Reya. Laki-laki itu menarik napas, ini kali pertama dia menginjakkan kakinya lagi ke rumah itu sejak peristiwa mengerikan yang menimpa keluarganya dua bulan lalu.

Rumah itu masih sama. Di pinggir halaman, rapat dengan pagar besi, masih tumbuh  bunga matahari kesukaan ibunya yang kini sedang menghadap ke bagian barat mengikuti matahari yang akan terbenam sebentar lagi. Pot-pot berisi bunga lainnya yang ditata rapi masih mengapit jalan kecil dari gerbang  menuju teras. Rumput-rumput hijau yang agak tinggi, lantaran tak pernah ada yang merawat sejak dua bulan belakangan masih tumbuh di halaman. Empat kursi rotan beralas bantal empuk juga masih berjejer di teras di depan rumah. Tak ada yang berubah dengan rumah ini tetapi jauh di lubuk hatinya Jio tahu rumah ini takkan pernah lagi sama.

Dahulu, setiap kali datang ke rumah ini selalu di sambut sang ayah yang setiap sore selalu duduk di salah satu kursi rotan di teras. Mereka akan ngobrol ngalur ngidul tentang kerjaan Jio sebagai pengacara, perkembangan anak Jio Radit yang kini berumur tiga tahun, sampai ke rencana ayahnya yang ingin menganti bunga-bunga ibunya dengan tanaman herbal. Ibunya akan muncul dari dapur membawa makanan ringan dan kopi panas akan menolak rencana itu dengan keras. Kopi buatan ibunya adalah kopi terenak yang pernah dia cicipi. Kopi buatan istrinya Putri pun bahkan tak mampu mengalahkan kopi ibunya. Jio menghela napas lagi, dahulu setiap pulang ke rumah ini dia selalu menemui kenyamanan dan rasa betah. Sekarang,  Kenyamanan telah pergi meninggalkan rumah ini, seiring dengan kepergian kedua orang tuanya untuk selama-lamanya.

Rasanya baru kemarin, ia meninggalkan rumah orang tuanya untuk membangun rumahnya sendiri bersama istrinya Putri. Rasanya baru kemarin ayah ibunya berpamitan mudik akhir tahun ke Jogjakarta. Rasanya baru kemarin, dia membaca berita kecelakaan pesawat dan mendapati nama ayah dan ibunya ada di antara para penumpang yang tewas.  Yatim piatu memang menyakitkan, pikirnya. Dia tak pernah menyangka akan kehilangan kedua orang tuanya di usia awal tiga puluhannya. Tidak secepat ini.

Dua bulan lalu, Ayah dan Ibunya berangkat ke Jogjakarta. Dia mengingat hari terakhir dia, Iva kakak sulungnya, dan Reya adik bungsunya bersama mereka.

“Sudah lama kami berdua tidak berkunjung ke Jogja,” kata sang ayah waktu itu.

“Ibu juga sudah lama tidak kemana-mana bersama ayah kalian,” sambung Ibu. Iva kakaknya paling khawatir waktu itu.

“Cuaca bulan desember ga bagus, Bu. Hujan, badai, dan petir dapat membahayakan perjalanan kalian,” kata Iva. Kedua orang tua mereka tersenyum.

“Tenang, Ibu akan aman bersama ayah kalian,” hibur Ibunya.

“Ayah hati-hati di Jogja, yah. Jangan lupa berdoa dulu sebelum naik pesawat dan jangan genit sama pramugari.” Mereka semua tertawa mendengar perkataan si bungsu Reya. Reya memang paling dekat dengan ayah mereka. Meski sudah menikah enam bulan lalu dia paling rajin mengunjungi kedua orang tua mereka.

“Tenang saja, Rey. Ibumu wanita paling cantik di dunia pasti akan menutup mata ayah agar ayah tidak melihat orang lain selain dirinya.” Mereka semua tertawa lagi mendengar perkataan sang ayah.

“Hush, tua-tua makin gombal,” komentar ibunya. Sungguh, sama sekali tak ada firasat bahwa itu adalah kesempatan terakhir mereka berlima berkumpul bersama. Seminggu kemudian pesawat yang ditumpangi orang tuanya mengalami masalah dengan roda saat lepas landas hingga akhirnya pesawat itu tergelincir dan menabrak menara navigasi di bandara. Semua awak pesawat dan penumpang tewas di tempat. Kehilangan yang mengerikan dan membuat Jio depresi. Prosesi pemakaman diikutinya dengan setengah nyawa, dua bulan berlalu dan tadi malam, Iva menelponnya untuk datang kembali ke rumah ini membicarakan suatu hal yang sangat penting. Yah Jio tidak akan datang ke rumah ini kalau bukan karena urusan penting itu.

“Jioo.. Mengapa kau berdiri saja di pagar?” Sebuah teriakan terdengar dari arah rumah. Jio menoleh, seorang perempuan dengan rambut hitam panjang yang dikuncir sekenanya berdiri di teras rumah. Perempuan itu memiliki mata cokelat, hidung yang sedikit mancung, dan struktur wajah yang sama dengan dirinya. Orang-orang menggambarkan mereka berdua adalah kembar.

“Aku akan segera masuk,” katanya membuka pagar dan masuk ke dalam rumah. Iva sang kakak segera meraihnya ke dalam pelukan ketika mereka berhadapan di teras.

“Astaga, sudah lama sekali kita tak bertemu,” kata Iva di sela-sela pelukannya. Jio mengusap rambut kakak sulungnya itu pelan.

“Bagaimana kabarmu? Bagaimana keadaan Putri? Apakah keponakanku Radit baik-baik saja?” tanya Iva setelah mereka saling melepaskan pelukan. Perempuan itu memandang adik laki-laki satu-satunya itu seksama. Jio agak sedikit kurus, ada kantung mata di bawah matanya dan dia dapat melihat gambaran kesehilangan di mata cokelat laki-laki itu, sama seperti yang dia lihat di matanya setiap kali bercermin. Perempuan itu menarik napas panjang, melepaskan resah yang menggumpal saat melihat sosok adiknya di pintu gerbang.

“Aku baik-baik saja, Va. Putri dan bayi yang dikandunganya juga baik begitupun Radit,” jawab Jio. Laki-laki itu tersenyum, senyuman yang sangat dipaksakan.

“Baguslah, banyak berita baik membuat suasana menjadi lebih baik,” kata Iva lagi. Jio mengangguk setuju. Terlalu banyak berita buruk tak baik bagi kesehatan.

“Bagaimana kabar Mas Tio dan si kembar?” Jio balik bertanya tentang keluarga kakaknya.

“Mereka semua baik-baik saja.” Iva tersenyum lagi, “masuklah Reya sudah menunggu di dalam,” kata Iva menepuk pundak Jio lalu melangkah masuk ke dalam rumah, Jio melangkah pelan mengikuti Iva. Rumah peninggalan kedua orang tuanya suram , Rumah itu terdiri dari dua lantai dan lima kamar. Dua di lantai bawah, tiga kamar di lantai dua. Rumah itu dicat senada teras dengan berbagai tempelan lukisan koleksi ayahnya dan berbagai guci kesayangan ibunya di sudut-sudut ruangan. Dulu sebelum menikah Jio menempati kamar paling sudut di lantai dua bersebelahan dengan Reya. Iva kakaknya memilih kamar lantai satu karena enggan naik turun. Setelah ketiga orang anaknya menikah, ayah dan ibunya  memilih tinggal berdua saja di rumah dengan banyak kamar itu.

“Bang Jio udah datang?” Sebuah suara mengagetkan Jio. Reya tampak duduk di meja cokelat bundar di ruang tengah memandang ke arahnya, mata adik bungsunya itu berkaca-kaca.

“Wah si pengantin baru kita sudah lama di sini?” Jio berusaha agar suaranya terdengar riang. Reya bangkit dari kursi dan mendekati Jio. Senyuman paksaan terpatri di bibirnya, memunculkan lesung pipit di kedua pipinya. Orang-orang selalu menganggap Iva Dan Jio kembar sementara mereka agak lama menyadari Reya sebagai adik keduanya. Reya berkulit kuning langsat sementara Jio dan Iva berkulit putih susu. Hidung Reya lebih mancung dari kedua kakaknya, dan dia punya lesung pipi. Hanya mata cokelanya saja yang mirip dengan kedua kakaknya, mata cokelat yang diwariskan ibu mereka.

“Aku kangen sama Bang Tio, “ ujarnya segera memeluk Jio, laki-laki itu membalas pelukan Reya erat dan seketika bahu perempuan itu berguncang.

“Reya ga nyangka ayah dan ibu pergi secepat ini, Bang,” katanya terbata-bata. Jio merasakan pundaknya basah. Rio menngusap-usap rambut panjang adiknya.

“Sudah-sudah… Kita semua sedih karena kematian ayah dan ibu. Tetapi cukuplah larut dalam kesedihan. Ayah dan ibu tentu tidak suka melihat kita berduka” kata Jio menghibur. Iva memandang adegan itu dalam diam. Di antara mereka, Reyalah yang  paling tidak kuat menerima kabar kematian ayah dan Ibu mereka. Faisal suami Reya pun sering meminta saran Iva karena khawatir istrinya yang terus menangis. Reya memang anak kesayangan. Ayah mereka sangat menyayangi Reya. Sejak kecil apapun yang diminta Reya selalu dituruti Ayah.

“Reyaaa gaa nyangka aja, Bang, Ka. Sebelum ke Jogja ga ada perasaan apa-apa,” isak Reya. Sungguh dia tidak bisa menerima mengapa kedua orang tua mereka pergi secara mendadak dan mengerikan. Iva memutuskan tangisan kesedihan Reya harus segera dihentikan sebelum dia ikut menangis. Perempuan itu menarik napas entah yang keberapa hari ini.

“Karena kita semua sudah berkumpul di sini, aku akan memberitahukan hal penting apa yang harus kalian tahu,” katanya lantang. Jio dan Reya melepaskan pelukan dan melihat ke arah Iva. Reya segera menghapus air matanya memandang kakaknya.

“Hal apa?” tanya Jio yang sudah penasaran sejak kemarin. Iva masuk ke dalam kamar kedua orang tua mereka, tinggal di sana beberapa menit lalu ke luar membawa sebuah kotak hitam berukuran 30 centi meter.

“Ibu ingin kita membuka kotak ini.” Kata iva lantang. Jio dan Reya memusatkan pandangan pada kotak itu.

“Ibu ingin kita mengetahui isi kotak ini.” Ulang Iva. Hawa penasaran menguasai rumah itu.

Bersambung- Minggu depan..

Catatan singkat: Novelet ini sudah menjadi milik @plotpoint

Advertisements

One thought on “Rahasia-Rahasi (part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s