Prompt Lampu Bolham #7 Tirai

“Selamat datang ke istanaku, Sayang,” kata Joko, suaranya terdengar ceria, senyum lebar menghiasi bibir hitam akibat nikotin miliknya. Laki-laki tegap itu berdiri tepat di depan pintu apertemennya yang terbuka. Aku tersenyum malu-malu dan mengintip sedikit ke dalam ruang apertemen itu. Wangi lemon menyeruak masuk ke dalam hidungku, Aku bisa melihat sebuah sofa di cokelat di ruangan balik pintu.

“Ayo masuk!” ajaknya ceria lalu melangkah ke dalam apertemennya. Aku melangkah kikuk di atas jubin putih yang bersih. Sebuah ruangan besar berwarna putih dengan berbagai tempelan foto dan lukisan menyambutku. Wangi lemon yang kucium di depan tadi berasal dari pengharum ruangan yang tertempel di dinding di atas televisi besar. Apertemen Joko terdiri dari tiga ruangan, ruangan yang kami masuki ini kukira ruang tamu, sebuah sofa berukuran cukup besar yang sempat terlihat dari luar tadi tertempel di dinding menghadap televisi berlayar besar dan sebuah DVD player di laci meja tempat TV itu diletakkan. Sebuah ruangan lain dengan pintu tertutup yang kukira kamar tidur (dan membuatku gugup memikikrkannya) terletak di ujung kanan dan sebuah rak piring tampak di sebuah ruangan kecil lain  bersebelahan dengan kamar tidur. Joko adalah seorang koki handal, pantaslah kalau dia punya peralatan makan yang komplit. Ruangan itu diterangi lampu padahal masih siang, aku mencari jendela dan mendapati sebuah tirai merah yang besar menutupi jendela itu.

“Bisakah kubuka tirai itu?” tanyaku.

“Jangan!” Joko setengah berteriak. Aku terkaget.

“Emm aku tak suka sinar matahari jadi tirai itu selalu kututup,” kata joko tersenyum, senyuman yang membuat otot-ototoku lemas dan sesuatu di dalam diriku menegang. Aku cepat-cepat melihat ke arahnya lagi dan tersenyum.

“Ah yah maaf,”

“Bukan sesuatu yang perlu dimaafkan. Duduklah aku akan membuatkan minuman. Maafkan aku! Aku em benar-benar tidak ingin kau membuka tirai itu,” katanya lembut.  Aku tersenyum gugup tak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya hanya Joko yang mampu mengajakku bermain ke apertemennya. Teman kencanku sebelumnya mana mau berani mengajakku ke tempat tinggal mereka, kami biasa melakukan itu di hotel murahan atau di tempat tak banyak orang. Aku bisa mengerti alasannya tak ingin membuka tirai itu. Joko membaca kegugupan di wajahku. Dia melangkah mendekat ke arahku

“Bayu sayangku di samping gedung apertemenku ada pembangunan proyek, tukang-tukang itu pasti dapat melihat kita,” katanya pelan. Suaranya berubah serak lalu tanpa tahu siapa yang memulai bibir kami saling memanggut.

 

Advertisements

21 thoughts on “Prompt Lampu Bolham #7 Tirai

  1. bayu ini laki-laki? hati-hati, sekarang banyak yang tricky, nama belum jaminan menunjukkan jenis kelamin.
    cerita begini sudah banyak sih, jadi harus bisa mengemas dengan beda.

    terima kasih sudah menulis untuk Lampu Bohlam
    keep writing ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s