Lampu Bolham #9 Perempuan bernama Mila

Bulan sedang bertengger di atas langit Depok, ketika saya membawa Mila masuk ke  mobil yang saya parkir di halaman kafe. Jeans hitam  dan blouse satin putih ketat yang dia kenakan malam ini, berhasil menonjolkan lekuk-lekuk sempurna di tubuhnya yang seksi. Sesekali saya melirik dadanya yang montok, berfantasi apa rasanya jika tangan saya bersarang di situ.

“Kalau kau memandang terus dadaku, bagaimana kau bisa menyetir, Mas?” Kata Mila mengagetkan, menerka dengan benar kemana arah pandangan dan pikiran saya.  Saya tersenyum salah tingkah, dalam hati  mengutuk diri yang tak bisa mengendalikan nafsu birahi dan mengutuki takdir sabagai laki-laki yang tak pernah bisa menyembunyikan  tatapan nafsu terhadap perempuan.

“Menyetir saja yang benar, Mas. Aku ingin kita cepat sampai di kamarmu dan kau boleh lakukan apapun dengan dadaku ini.” Perkataan Mila kembali membangkitkan birahi yang tadi coba saya turunkan. Fantasi nakal kembali menggema di dalam otak saya, membayangkan sensasi nikmat lain jika tangan saya menggerayangi seluruh tubuhnya! Ah kini di kepala saya penuh dengan gambaran tubuh Mila yang telanjang. Dengan cepat, saya membelokkan mobil saya keluar dari kafe di pinggir jalan Juanda itu dan menjalankan mobil menyusuri jalan Margonda.  Keinginan untuk sampai lebih cepat di kamar saya di Margonda resident bertambah berlipat-lipat. Sesekali saya mencuri-curi lirik ke samping kemudi memperhatikan wajah Mila yang mempesona. Mila adalah tipe perempuan yang akan mendapatkan apa saja karena kemolekan wajah dan tubuhnya. Matanya berwarna coklat tanah, bening dan tajam. Bibirnya penuh dan sensual, lipstick merah muda yang dia kenakan menambah kesensualan bibirnya itu. Hidungnya mancung dan mungil. Rambutnya lurus panjang dan dibiarkan tergerai. Saya sudah menduga dia cantik dan seksi dari suaranya yang renyah dan manja di telepon.

Ini memang kali pertama kali bertemu muka. Selama ini saya dan Mila hanya berbincang-bincang di telepon.  Perkenalan saya dengan dirinya bermula dari email yang dia kirimkan. Email itu berisi bagaimana kekaguman dia terhadap cerpen-cerpen saya yang dimuat di sebuah koran nasional yang juga saya cantumkan di blog pribadi saya. Di emailnya yang pertama itu, dia mengaku bernama Mila dan bekerja di sebuah bank swasta terkenal di Bogor. Mula-mula saya membalas pesan Mila dengan sopan, saya masih ragu dengan keberadaan dirinya mengingat betapa maraknya penipuan lewat email jaman sekarang ini. Namun, kemudian dia meninggalkan nomor telepon dan menyuruh saya menelponnya (Saya menelponnya karena dia juga mencantumkan fotonya yang cantik di Attachment). Begitu kata halo pertama kalinya terdengar, saya sudah merasa nyaman mendengar suaranya. Seiring dengan berjalannya waktu, saya mendapati rasa nyaman berbincang-bincang dan bercerita dengan perempuan itu semakin bertambah saja. Selama dua bulan kami selalu saling menelpon. Percakapan kami beragam dari cuaca sampai masalah pribadi. Keinginan untuk bertemu semakin menguat ketika perbincangan kami telah sampai ke masalah ranjang. Masalah ranjang saya dan istri saya.

“Mungkin karena permainan kalian monoton, tidak bervariasi.” Kata Mila saat percakapan tentang masalah ranjang yang saya hadapi. Saya mencerna kata-katanya hati-hati dan kemudian membayangkan permainan ranjang saya dengan istri saya Siska. Selama sepuluh tahun menikah, Siska memang jarang berinisiatif, dia adalah tipe perempuan pasif yang menyerahkan kendali sepenuhnya kepada saya. Saya menikmati itu semua dahulu, lagipula yang penting saya puas dan bisa tidur nyenyak sudah cukup. Tetapi kemudian Mila menyadarkan saya.

“Seks itu sama seperti hidup, Mas. Saling memberikan dan menerima. Semua puas baru sempurna.” Begitu tanggapan Mila, waktu saya bilang variasi tidak penting dan yang paling penting itu saya puas. Saya mencerna kata-katanya kembali, kali ini lebih lama dan tersadar, sudah lama saya tidak memberikan kepuasaan. Dan yah, memang ada yang hilang ketika saya hanya dipuaskan.

“Cobalah untuk memuaskan istrimu!” Solusi yang ditawarkan Mila akhirnya. Saya pun bertekad akan melakukan itu dengan istri saya. Tetapi sayang, Siska istri saya adalah tipikal perempuan kuno yang memandang bahwa seks adalah memberikan kepuasan kepada suaminya dan hal itu membuat saya frustasi. Saya tidak lagi menikmati setiap bersentuhan dengan istri saya apalagi saat menyadari bahwa istri saya hanya pasrah saja saja, berbaring telanjang, mengangkang dan membiarkan saya mengambil kendali. Saya frustasi dan akhirnya tidak puas. Saya pun protes terhadap Mila.

“Kamu ini bagaimana sih, Mil. Gara-gara teori kamu bahwa seks itu adalah suatu hal memberi dan menerima, saya tidak lagi menikmati rutinitas itu denga istri saya.”

“Baiklah, saya akan mencoba memuaskanmu, Mas. Kapan dan dimana kita bertemu?” tanyanya. Saya kira dia tidak serius. Tetapi ternyata perempuan itu sangat serius. Kamipun membuat janji dan akhirnya memutuskan untuk bertemu di Depok. Saya punya sebuah kamar di Margonda Residen dan kamar itu cocok untuk kami berdua. Kami memutuskan untuk bertemu dahulu di sebuah kafe kecil di jalan Juanda, makan malam di sana sebelum bermalam di kamar saya di Margonda resident.

“Aku ingin hubungan yang aman, mas. Kamu punya pesediaan pengaman?” Mila mengagetkan saya dari lamunan saya yang panjang.

“Nanti di depan Margonda resident ada sebuah mini market. Kita beli saja satu pak.” Kata saya. Mobil kami masih melaju pelan melintasi jalan Margonda. Beberapa ratus meter di depan saya bisa melihat belokan yang akan membawa kami ke dalam Margonda resident.

“Baiklah! Saya sudah tak sabar lagi mengajarkan kepadamu bagaimana variasi itu,” kata Mila sambil tersenyum nakal. Saya meriinggis, perkataannya itu mebangkitkan birahi dalam diri saya, saya tidak sabar lagi melihat dia telanjang di kamar.

Lima belas menit kemudian kami telah sampai di kamar.

“Matikan lampu, Mas!” ujar Mila mantap. Saya tampak kecewa. Saya ingin melihat dia bertelanjang.

“Ayolah, saya tidak suka bermain di tempat terang.” Mila berkata manja. Saya mematikan lampu. Dalam kegelapan, Mila menerjang saya, membawa saya ke atas tempat tidur dan berbaring di atas tubuh saya. Saya merasakan sesuatu yang tajam di leher saya. Mila memegang pisau.

***

Dua jam kemudian saya disambut Siska istri saya di rumah. Dia tampak cemas melihat penampilan saya yang kusut.

“Kenapa kau, Mas?” Tanyanya khawatir. Saya tidak menjawab hanya mengecup dahi istris saya itu pelan lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Mila si cantik dan seksi itu membawa lari separuh gaji saya bulan ini.

-Tamat-

Advertisements

14 thoughts on “Lampu Bolham #9 Perempuan bernama Mila

  1. Wooo, gitu toh ceritanya. Awal2 cerita sempet keselek juga nih Mbak, abis lagi makan 😀 Tapi setuju filosofinya, bahwa seks adalah tempat berbagi, saling memberi dan menerima. Siip 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s