Kenangan Dalam Kardus

“Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film “Cinta Dalam Kardus” yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013.”

1044175_601146986576167_125361909_n

Happy anniversary kedua, Sayang. Lihat halaman 213, yah!

Kubaca tulisan tangan Kumbang di halaman pertama  novel “A Time To Kill” karya John Grisham, penulis favoritku sepanjang masa. Buku itu tersimpan bersama pemberian Kumbang lainnya di kardus di sudut gudang.  Pelan-pelan, kubuka halaman  213.  Di halaman itu Kumbang melingkari huruf a, k, u, s, a, y, a, n, g, k, a, m, dan, u. Aku sayang kamu. Kesedihan seolah menguar dari halaman 213 itu, menyusup masuk ke dadaku, membuka  kenangan tentang Kumbang yang dimulai sejak tanggal 21 bulan 3, tujuh tahun lalu.

Waktu itu hari Sabtu. Aku yang jomblo dan frustrasi karena banyak tugas kuliah memutuskan  makan sendirian di food court  Mall Detos.  Semua meja Food court itu penuh oleh pasangan-pasangan kekasih. Saat sedang menunggu pesanan, seorang pria berbadan tinggi, wajah lumayan manis, berdiri  celingak-clinguk di dekatku mencari tempat kosong. Tiba-tiba pelayan datang menghampirinya dan membawa nampan  makanan. Dia tampak kebingungan dan tak tahu harus menaruh makanan itu dimana. Segera saja rasa iba menyergapku.

“Mas, makan di sini saja!” kataku. Mata pria itu bercahaya menyambut tawaranku. Dia meraih nampan dari tangan pelayan yang tadi di sampingnya dan duduk di mejaku.

“Terima kasih banyak, Mbak,” ujarnya. Dia tersenyum menunjukkan giginya yang rapi. Seketika kegalauanku karena makan sendirian di  malam minggu sirna melihat senyuman itu.

“Mbak sendirian saja?” tanyanya setelah kami selesai menghabiskan makanan kami. Aku mengangguk.

“Udah punya pacar belum?” tanyanya lagi, aku mendelik.

“Tenang-tenang saya  bukan mau ngajak Mbak pacaran, kok. Jadi gini saya punya dua buah tiket nonton. Tadinya mau nonton sama teman tetapi dia nggak jadi datang. Nah,  karena Mbak sudah baik menawarkan saya meja  saya mau balas kebaikan Mbak dengan dua tiket ini.” Dia mengangkat dua tiket bioskop “Superman Returns” kupandangi laki-laki di depanku seksama, menilai apakah dia termasuk penjahat kelamin.

“Saya cuma mau ngajak Mbak nonton, kok. Sumpah nggak bakalan ngapa-ngapain,” ujarnya dengan mimik lucu yang membuatku tertawa. Kelak, ketika kami telah lama berpacaran dia mengaku kalau sebenarnya temannya itu telat. Dia menggunakan tiket itu untuk berkenalan lebih dekat denganku.

“Untunglah kamu mau diajak nonton. Nggak sia-sia aku bohong.” Sejak saat itu kami mulai dekat, berbagai barang dia berikan padaku.  Boneka lumba-lumba yang berarti keberhasilan sebagai hadiah IPKku cum laude untuk pertama kali. Boneka beruang hadiah sembilan bulan kami jadian.

“Ibaratnya gini, selama sembilan bulan kita bersama kamu hamil anakku dan ini dia jadinya.” Kami menamai boneka itu Amor yang berarti cinta, cinta kami.

Dua tangkai bunga adalah hadiah paling menyakitkan untuk dikenang. Hadiah itu Kumbang berikan saat aku wisuda, dua bulan setelah dua tahun kami bersama.  Dia datang membawa bunga itu dengan wajah berseri-seri dan gugup karena akan bertemu kedua orang tuaku. Papa menatap Kumbang dari atas kepala sampai kaki.

“Kamu gereja di mana?” tanya Papa tegas. Kumbang diam, pun aku. Kumbang sama sekali tak pernah gereja seumur hidupnya karena dia beribadah di Masjid.

Kututup kembali kardus kenangan tentang Kumbang. Lalu menyimpannya lagi di tempat semula. Suatu saat kalau rindu padanya, aku akan kembali ke sini, dan mengenangnya. Sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan suamiku.

Tamat

Advertisements

24 thoughts on “Kenangan Dalam Kardus

  1. Bukankah kita diciptakan hanya untk saling melengkapi mengapa ini yg terjadi? *Perbedaan mjdi jurang* #LagunyaTERRE

  2. “Cinta beda agama” memang isu yang menarik untuk diangkat. Twist di ending-nya dapet, tapi alur di bagian tengah (saat 2 tokoh utama kenalan sampe udah jadian) dibuat terlalu cepat hingga nggak terlalu berhasil membuatku (sebagai pembaca) mendapatkan feel-nya. Hehe ^^
    After all, aku suka FF ini. Dan kalo boleh edit dikit (1 kata aja), seharusnya “frustrasi” not “frustasi” :p

    Maaf yah, bawel. Salam jambak nggak pake bales! :p

    Tetap semangat nulis, one of my very favoriet FF-er! *smooch!

  3. Sukaa,tema perbedaan dibikin cerita yang halus kek gini…saya menikmati keseluruhannyaa
    *bawa pom pom* smangaaat Ajen..
    Semogaa menaaang..
    *tabur menyan* #eh

  4. jen, tidak konsisten di penulisan kata enggak. kata pak guru Sulung, di KBBI yg bnr itu ‘enggak’.
    trus penulisan angka juga. seingatku, ketika menuliskan selain tanggal dan nomer resmi di surat, maka penulisan angka itu menggunakan huruf. bukkan angka. CMIIW.

    selebihnya, ini cerita menarik lho..

    • Hihi iya Mbak makasih yah sudah kuperbaiki kekonsistensian pemakaian ga. Kalau saya pake Nggak karena itu ada di dalam percakapan..
      Sip makasih juga soal yang angka.. Kalau halaman buku juga bisa pake angka, Mbak 🙂
      salamm Mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s