Prompt 19 Ibu

Saat seperti ini sungguh aku ingin sekali Ibuku menemaniku di sini. Mulas ini sungguh tak tertahankan sekali rasanya, sungguh! Aku ingin sekali ibu berada di sampingku, memegang tanganku, mengusap-ngusap kepalaku dan berbisik lirih di telingaku. Sinta sahabatku memandangku khawatir.

“Lo tenang aja, Las. Pasti akan berjalan lancar.”

“Gue mau Ibu gue, Sin. Gue nyesal telah menyakiti hatinya.” Sinta menarik napas panjang.

“Gue tahuu. Gue udah SMS Ibu lo kalau hari ini Lo lahiran. Ga ada balasannya, Las.” Kata-kata membuat sakit perut yang kualami semakin menjadi-jadi.

“Mbak, suami Ibu Lastri dimana? Kami butuh keluarganya untuk mengurus sesuatu.” Seorang Bidan menghampiri kami. Aku dan Sinta berpadangan. Sinta meremas tanganku.

All is well,” bisiknya. Sahabatku itu bangkit dan berjalan menuju sang bidan.

“Saya keluarganya, Bu. Dia tak punya suami.” Aku bisa mendengar suara sahabatku itu. Bidan itu mengangguk mengerti dan megajak Sinta keluar dari bilik bersalin. Aku terbaring di tempat tidur, kali ini bukan perutku saj yang sakit tetapi hatiku juga. Aku benar-benar rindu Ibuku sekarang. Seumur hidup aku tak pernah mengenal ayahku. Ibu juga tidak pernah membicarakannya.Saat berumur dua belas tahun, tiba-tiba Ibu mengajakku berjalan-jalan ke kebun raya bogor. Kami mengelilingin kebun besar itu dengan senang hati. Ibu mengajakku berjalan di atas jembatan merah. Kami berdiri di tengah-tengah jembatan dan Ibu menyuruhku meihat ke sungai di bawah jembatan.

prompt 19Sumber Foto Nurul Noe

“Las, kurasa kini saatnya aku mengatakan yang sesungguhnya.”

“Dulu saat berumur duapuluh satu tahun. Ibu bertemu Ayahmu. Kami berdua melompat ke jurang yang berbahaya. Seperti melompat dari jembatan ke sungai itu.” Ibu menunjukkan sungai di bawah jembatan. Aku memandang sungai yang lumayan dalam itu.

“Ibu bunuh diri?” tanyaku tidak mengerti. Ibu tersenyum dan memandangku.

“Bukan sayang itu hanya perempumaan. Ibu hamil di luar nikah. Kehamilan Ibu membuat Ibu terperosok di jurang yang dalam. Namun, Ibu bertahan dan sekarang bangga karena memilikimu. Ibu menyayangimu.” Ibu lalu memelukku erat. Lalu sepuluh tahun kemudian, aku mengajak Ibu kembali ke jembatan merah yang sama.

“Ibu aku telah jatuh ke jurang yang sama dengan Ibu. Aku dan Joko…” Ibu memandangku tak percaya.

“Kau hamil, Las?”

“Iya, Bu. Aku dan Joko sepakat untuk mengugurkannya.” Sebuah tamparan melayang di pipiku.

“Menggugurkan? Bagaimana mungkin kau melakukan hal serendah itu. Bagaimana mungkin kau bisa jatuh ke jurang yang sama denganku.” Emosi seketika membutakanku.

“Aku ga sekuat Ibu hamil dan melahirkan anak di luar nikah. Semuanya salah Ibu. Coba kalau Ibu menggugurkan saja aku dulu. Aku ga akan tumbuh dan menjadi perempuan yang hamil di luar nikah sepertimu.” Ibu terdiam. Matanya memandangku. Mata seorang Ibu yang terluka.

“Aku pergi dan akan tetap menggugurkan kandunganku ini,” ujarku terakhir kali sebelum pergi dari Ibu. Meninggalkannya di jembatan itu.

“Bu Lastri. Saya mau memeriksa keadaan Ibu dulu yah. Kira-kira sudah pembukaan berapa sekarang?” Seorang bidan masuk ke dalam kamarku. Aku cepat-cepat melap air mata yang membanjir di pipiku. Sejak saat itu aku dan Ibu tak pernah saling menyapa lagi.  Sementara Joko kekasihku.

“Kau pilih, Las. Mengugurkan bayi itu dan aku tetap bersamaku atau membiarkan dia hidup tetapi aku pergi dari sisinya.” Perkataan laki-laki itu menyadarkanku akan sesuatu. Orang lain akan selalu bisa pergi dan meninggalkanmu. Darah dagingmu sendiri pasti akan tetap tinggal denganmu.

“Aku pilih mempertahankan bayiku.” Kata-kata yang keluar dari muluttku itu menyadarkanku kembali betapa jahatnya aku pada Ibu. Aku meninggalkannya dan mengatakan hal buruk. Terlalu buruk sehingga tak berani menemuinya lagi. Dan kini saat aku akan menjadi Ibu, Aku sungguh membutuhkannya. Meski selama sembilan bulan ini sahabatku Sinta terus bersamaku tetapi beda rasanya kalau Ibuku yang di sini. bersamaku.

“Bu, sudah pembukaan sepuluh*, yah. Sudah saatnya Ibu melahirkan. Saya akan menyiapkan peralatan melahirkan dulu.” Bidan yang memeriksaku tiba-tiba berkata. Seketika aku merasakan rasa mulas yang teramat sangat.

“Bu… aku.. tak.. tahan aku ingin..” ujarku lalu mengerang.

“Jangan mengeden dulu!” Bidan lalu memakai apron* dan mempersiapkan peralatan melahirkan. Seorang bidan lain datang.

“Mbak siapin oksitosin*, yah! Sudah kala II*, nih.” Perutku semakin mulas dan mulas. Keirngat menganak sungai.

“Bu aku sudahh hh takk tahann lagiii.” Suaraku terengah-engah.

“Lass!” Sebuah suara memanggilku. Suara yang sangat kukenal. Bersamaan dengan itu, Sinta muncul bersama Ibuku. Ibuku segera berjalan ke bagian kepala.

“Maaf, Ibu datang terlambat,” bisiknya lirih.

“Ibuu aku.. maafkan akuu. Arghhhhhhhhhhhhhhh,” aku berteriak kencang merasakan sakit mengerikan di bagian perut dan selangkanganku.

“Tarik napas panjanggg dan kemudian hembuskan seperti orang yang ingin buang air besar, jangan bersuara yah, Bu.” Demikian intruksi bidan tetapi aku tidak peduli.

“Arghhhhhhggggggggg!” Aku berteriak kencang menahan sakit yang mengerikan. Sakit yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

“Jangan teriak Sayang. Kalo kau teriak hanya akan membuatmu kehabisan tenaga. Santailah. Ibu ada di sini mendukungmu.” Ibu memegang tanganku

“Ibuuuu, Sakit sekali, Bu!” aku menagis kesakitan.

“Iya sayang, Ibu tahu. Sekarang. Ayo mengedan Ikuti instruksi, bidannya!” Ibu menggemgam tanganku kuat. Seketika rasa lega menghampiriku. Sungguh rasa sakit bukan kepalang itu tak lagi berasa.

“Ibuuu, maafkan aku. Kalau aku tahu betapa sakitnya melahirkan ini. Maafkan aku telah mengatakan hal mengerikan padamu!” Bisikku di sela-sela mengedan. Ibu mengecup dahiku lembut.

“Nak, Itulah mengapa seorang Ibu sangat menyayangi anaknya. Perjuangan keras saat melahirkan inilah yang membuat anak selalu berharga. Sungguh! Kami para Ibu sudah berjuang keras menahan sakit saat melahirkan. Tentu tidak mungkin kami menyia-nyiakan anak kami. Dengan ayah atau tanpa ayahnya kami bertekad anak kami akan hdup bahagia. Ibu sudah memaafkanmu sejak lama. Terima kasih sudah mau menjaga bayimu,” bisik Ibu lembut.

“Percayalah tak ada yang paling membahagiakan di dunia ini ketika kau mengendong anakmu!” bisik ibu lagi. Dan benar saja kata Ibu. Ketika bidan memberikan bayi mungilku kedalam pelukanku. Saat itu juga aku bersumpah akan selalu membuat anakku bahagia.

TAMAT

OK Ini FF paling panjang yang gue bikin 😛 900 kata tetapi FF kan kurang dari 1000kata kan?

Pembukaan 10: Pembukaan terakhir sebelum melahirkan. Dari pembukann 1-10 bisa memakan waktu sampai 24 jam penuh dan percayalah sakit banget *lihat ibu melahirkan soalnya*

Oksitosin :Suntikan agar plasenta keluar

Kala 2: kala persalinan, ketika seorang Ibu mau melahirkan

Apron: pelindung yang dipake saat membantu melahirkan

Prompt19 lainnya bisa dilihat di sini

Advertisements

22 thoughts on “Prompt 19 Ibu

  1. Haduuh.. perjuangan seorang ibu 🙂
    Mba, kalo boleh koreksi kata yang thypo 😀
    “kali ini bukan perutku saj yang sakit tetapi hatiku juga.” itu *saj maksudnya *saja?
    terus perempumaan, maksudnya perumpamaan ya?
    hihihi aku malu sendiri, kalo habis publish postingan di blog sendiri pasti nemu aja kata thypo.

  2. Eewwhh…jadi inget prosesi melahirkan. Keringetan bacanya
    Btw, ada beberapa typo mbak
    -mengelilingin (ga baku): mengelilingi
    -mengeden, mengedan: mengejan
    Sama beberapa kesalahan penulisan 😀

  3. Memang harus panjang kalau cerita tentang ibu dan melahirkan apalagi kalau sampe gede pasti panjang banget dah hehehe

    Nice mbak ajen

  4. Wah, ngedennya salaaah. Ndak boleh teriak, Bu! Ditahan seperti mau e’ek! *what midwife says* :p
    Keren, Mbak. Memang baru ngerasain perjuangan seorang ibu kalo udah jadi ibu, ya :’)

  5. bagus Jen. tapi sebenarnya ini tetap bisa dibikin pendek, kalau mau dijadikan FF. kalau mau lebih dalam ya jangan nanggung, dibikin cerpen aja.

    dan percayalah, mules ketika mau melahirkan itu lebih sakit dari yang kamu gambarkan :p

  6. so sweet, Jen.. :)))
    eh, 900 kata? kok ga berasa ya? berarti kamu berhasil bikin aku (sebagai pembaca) menikmati ceritanya. apa karena aku pernah ngalamin lahiran ya jadinya terasa banget ceritanya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s