Monolog Janin

Ketika pertama kali tiba ke tempat ini, mereka antusias dan bertanya-tanya padaku:

“Dari mana kau datang? Ceritakanlah kepada kami?” Aku menatap mereka dan tersenyum.

“Baiklah kuceritakan kisahku duduklah yang manis dengan tangan terlipat.” Mereka tampak antusias dan bersemangat, maka akupun mulai bercerita tentang asal hidupku.

Aku sama seperti orang lain, punya ayah dan ibu. Ayahku adalah benda mati berbentuk bula lonjong dengan ekor panjang agar dia mudah bergerak. Tak perlu kusebutkan bagaimana ayahku tercipta karena kalian tidak ingin mendengarnya dan sepertinya aku sudah tidak ingat lagi secara detail (Ayahku benda mati, ingat?). Ayahku tercipta bersama miliaran kembarannya di dalam sebuah ruangan berupa kantung. Mereka berdesak-desakan di kantung itu dan semakin hari mereka terus berkembang dan berkembang hingga kemudian mereka dikeluarkan. Mau tahu kemana mereka dikeluarkan? Mereka dikeluarkan dan dimasukan ke sebuah kantung lagi. Di kantung yang baru itu, Ayah dan kembaran-kembarannya benar-benar lelah, mereka merasakan sensasi aneh yang entah mengapa membuat mereka ingin keluar dari kantung kedua itu. Ada sesuatu yang mendorong mereka untuk keluar dari kantung itu dan benar saja, tidak beberapa watu kemudian setelah merasakan sensasi nikmat untuk beberepa detik, sebuah dorongan membuat mereka keluar dari kantung itu dan  masuk ke sebuah saluran panjang. Begitu tersadar mereka sudah berada di sebuah ruangan besar berbeda dari kantung sebelumnya.

Ruangan besar itu berbentuk segi panjang, ada dua pintu di bagian atas ruangan. Ayah dan miliaran kembarannya berada di ruangan itu cukup lama hingga tiba-tiba sesuatu yang teramat menggairahkan membuat mereka mabuk kepayang. Sesuatu itu memanggil-manggil mereka, membuat mereka ingin mencapainya. Kalian tahu siapa sesuatu itu? Itu adalah ibuku. Ibuku berbentuk bulat, dia hanya satu-satunya di dalam ruang besar berbentuk persegi panjang itu. Ibuku berada di suatu tempat lain yang dihubungakan dengan semacam pintu dengan ruangan itu. Setiap waktu tubuh ibu mengeluarkan semacam pesona. Dan pesona itu membuat ayah dan kembarannya mendekat. Tetapi asal kalian tahu, perjalanan menuju ke tempat ibuku sangatlah sulit, banyak dari kembaran ayahku yang tak bisa bertahan hingga mati hingga akhirnya yang pertama kali sampai bertemu Ibuku adalah Ayah. Aku bisa mengatakan pertemuan itu adalah cinta, cinta yang membuat ayah dan ibuku mengorbankan diri. Ayah memasuki ibu melepaskan ekor yang dia pakai untuk bergerak dan Ibu mengukung ayah di dalamnya dan tidak membiarkan kembaran ayah untuk ikut masuk. Ayah dan ibuku bersatu dan jadilah aku. Asal kalian tahu,  di detik pertama ayah dan ibu bersatu; aku telah bernyawa, aku   juga telah diberi takdir untuk menjadi hebat oleh Sang Pencipta. aku sudah mempunyai hak dan kewajiban dan aku telah menjadi manusia. Ajaib bukan bagaimana dua benda mati bersatu dan membentuk benda hidup dan bernyawa.

“Bagaimana, apa kalian sudah mengerti dari mana aku datang?” Tanyaku kemudian setelah memberi jeda panjang bagi mereka untuk berpikir, mencerna ceritaku yang lumayan panjang itu.

“Lalu dimana ibumu, dimana Ayahmu? Kenapa kau sendirian?” Tiba-tiba seseorang di tempat itu bertanya. Aku terdiam, tak meyangka akan ditanya hal itu.

“Mengapa kau berada bersama kami di tempat sampah?” Aku terdiam. Yah, mengapa aku di tempat sampah? Ada yang tahu?

END

#proyekcinta Bintangberkisah

Advertisements

5 thoughts on “Monolog Janin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s