#CERFET Segitiga

Ratih nelangsa, sejak peristiwa Alya menemukan buku hariannya. Ingatan tentang Dio dan masa lalunya tanpa permisi mengkudeta pikirannya. Kini dia mendapati dirinya begitu sering melamunkan Dio. Dio yang muda, Dio yang memberi dia kecupan ringan di dahi saat masalah percarian mendiang ayah dan ibunya, Dio yang merasa terhina dengan kehadiran Abdi, Dio yang memilih untuk memutuskan hubungan mereka, Dio, Dio dan Dio.

Dia bergidik ngeri. Usainya 49 tahun sekarang, bukan ABG kemarin sore yang baru mengenal cinta dan tenggelam dalam kegalauan memikirkan seseorang yang mungkin masih dicintai.

“Kau tolol dan dungu kelau memikirkan hal konyol itu, Ratih!” Dia berkata pada dirinya sendiri. Beraharap dengan mengatai diri tolol kenagan akan Dio akan hilang.

“Mama! Mama!” suara renyah Alya terdengar memanggilnya. Ratih tersentak dan mendapati anaknya telah berdiri di depan pintu kamarnya.

“Ada apa, Sayang?” tanya Ratih. Alya memandang Ibunya penuh selidik. Hal pertama kali dalam hidupnya dia melihat sang Ibu melamun. Dia berdehem sebentar.

“Aku ingin minta ijin menginap di rumah teman Sabtu Nanti. Kami akan nonton festival band indie yang dilaksanakan oleh Orion Enterprise.” Mata Ratih berbinar mendengar nama itu.

“Baiklah! Kabari Mama yah.” Ratih tersenyum dan berlalu keluar dari kamarnya. Perempuan itu meraih smarphonenya dan mengetik keyword di google. “Konser band indie Orion Entreprise” Foto Dio muncul di laman pencarian paling awal. Ratih menarik napas panjang dan mengklik foto itu. Jantungnya berdetak kencang, perutnya melilit seperti ada segerombolan kupu-kupu yang terbang di sana. Dio terlihat begitu tampan.

“Mama, Mama baik-baik saja?” Alya memanggil dari belakang. Ratih menoleh dan tersenyum.

“Mama mau ke kantor dulu. Mama baru ingat ada kasus yang akan Mama kerjakan.” Alya menatapnya bingung.

“Mama, hari ini hari Minggu, Loh” Ratih mengangkat bahu.

“Oh yah?kalau begitu Mama ingin istirahat dulu.” Ratih melangkah masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Dia bersandar di daun pintu dan menarik napas panjang. Pelan-pelan dia melihat gambar DIo di google. Dalam hati dia menyesal baru membuka gambar laki-laki idamannya itu 15 tahun setelah Abdi meninggal.

“Dio apakah kau masih akan tersenyum jika melihatku lagi?” Dengan perlahan dia mengklik website Orion Enterprise dan mencari no telpon perusahan itu. Dengan perasaan campur aduk dia menekan nomor telepon yang terdapat di contact person di websiter tersebut.

“Selamat siang, Orion Enterprise di sini. Ada yang bisa kami bantu?” Ratih membeku sebentar.

“Siangg, Saya Ratih teman Ferdi Orion. Bisa sambungkan saya dengan dia.” Ratih yakin jantungnya akan keluar dari dadanya saat mengatakan kata-kata itu.

“Sebentar yah, Bu. Saya akan menghubungi pak Rio.” Telepon dibiarkan menggantung begitu lama.

“Halo?” sebuah suara berat dan sangat dikenalnya menyapa. Airmata tahu-tahu mengenang di mata Ratih.

“Dio…” bisiknya lirih.

***

Alya tahu sejak dulu dia selalu tertarik pada pria yang jauh lebih tua. Dia menyadari perasaan itu di SMA. Saat semua teman-temannya waktu itu mengagumi personal backstret boys, Blues dan sebagainya, dia malah merasa David Foster dan kemampuannya bermain piano benar-benar memukau. Memikirkan piano membuatnya terkenang akan Rio dan piano. Dia tiba-tiba teringat akan alunan Air on the G-String yang selalu dibawakan Rio untuknya. Dan kini mengetahui fakta bahwa Rio miliknya adalah cinta masa lalu Ibunya membuat dia ketakutan. Apalagi mendapati binar di wajah Ibunya yang selalu kaku saat dia mengatakan Orion Enterprise. Belum lagi tingkah pola Ibunya yang tiba-tiba seperti remaja ABG jatuh cinta. Sering salah tingkah.

“Ya Tuhan, jangan sampai cinta sejatiku adalah cinta sejati Ibuku juga,” Dia berdoa dalam hati.

 Bersambung

PS: Saya sadar sayalah yang membuat cerita ini rumit.. Ah saya serahkan pada Bang Riga untuk kelanjutannya. Maaf telat 8 hari karena saya batuk luar biasa selama ini dan sampai sekarang belum sembuh. Tolong doakan saya, yah!

Salammmm..

Advertisements

7 thoughts on “#CERFET Segitiga

  1. Pingback: Cerfet #MFF : Gerimis Kala Senja | AttarAndHisMind

  2. Pingback: Cerfet #MFF : Labirin Rasa | AttarAndHisMind

  3. Usia ratih dah 49th sekarang…

    Di cerita no.2, waktu nemu buku harian, Alya bilang 23th yang lalu saat ibunya berusia 22thn… brarti sekarang usia 45 bukan ya harusnya?

    ‘Dalam hati dia menyesal baru membuka gambar laki-laki idamannya itu 15 tahun setelah Abdi meninggal.’

    di cerita no.2 usianya 23th…
    Usia Alya 2thn saat ayahnya meninggal.. brarti Alya masih 17th dong?

  4. Dia bergidik ngeri. Usainya 49 tahun sekarang, bukan ABG kemarin sore yang baru mengenal cinta dan tenggelam dalam kegalauan memikirkan seseorang yang mungkin masih dicintai.
    >>>Di cerita no.2 : Di Lembar pertama dia menemukan nama Ibunya dengan tanggal 21 September 1988.. 23 tahun lalu, saat Ibunya berumur 22 tahun.
    Artinya usia Ratih 45th bukan?

    Dalam hati dia menyesal baru membuka gambar laki-laki idamannya itu 15 tahun setelah Abdi meninggal.
    >>>Ayah Ayla meninggal saat Ayla usia 2th, artinya skrg usia Alya 2+17?
    Di cerita no. 2 disebut usia Alya 23th

  5. Pingback: (Cerfet #MFF1) : Gejolak Masing-Masing Hati | Miss Rochma. Notes. Fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s