#Januari50K 2014 TOkoh Pertama : Lidwina

Yehhh.. 2014 is coming dan saya mau serius mengerjakan proyek januari 50ribu kata tahun ini..

Nah sebagai pemanas, ini saya kasih 1000 kata pertama saya di sini. Semoga dalam sebulan bisa jadi novel utuh yah.. BTW saya akan pake genre Realis Magic huhuh

Yups enjoy!

Bab 1

Lidwina

Umurku tujuh tahun ketika untuk pertama kalinya kata-kata mampu mematikan semua sendi di dalam tubuhku. Membuat tubuhku tak bisa bergerak saking ketakutannya. Waktu itu, secara tak sengaja aku dan sepupuku Didi memecahkan vas bunga seharga satu juta Ibu. Aku ingat, Ibu memanggilku dengan nada suara yang tinggi, seperti pekik elang.

“Lidwina, apa yang telah kau lakukan dengan vas bunga mahalku?” Benar-benar mengerikan. Lalu selama sepuluh tahun kemudian ada ratusan kata-kata yang mampu mematikan semua sendi di dalam tubuhku. OK, agak berlebihan tetapi kenyataanya memang banyak sekali kata-kata mengerikan yang keluar dari orang-orang sekelilingku. Kata-kata Ayah “Uang jajanmu selama enam bulan dipotong 50%” karena aku menabrakkan mobilnya ke tembok dan merusak bamper mobil itu. Kata-kata Ibu “Tak ada layanan internet selama sebulan!” karena ulanganku jeblok.. Kata-kata guruku “Ibu, ingin bicara dengan kedua orang tuamu.” saat aku kedapatan memilih menghabiskan waktu di mall daripada di kelas berulang kali. Kata-kata Dika, “Aku mau hubungan kita sampai di sini!” mantan pacar yang meninggalkanku karena Linda- si centil lebih mau melayani lidahnya yang menjalar kemana-mana. Namun, tak ada yang mengerikan daripada kata-kata dokter Andi.

Semua berawal sejak dua bulan lalu, seminggu sejak Dika mencampakkanku. Setelah menangis  begitu lama aku mulai merasa dadaku sesak. Kupikir itu karena aku sering menangis. Namun, sesak semakin berat kurasakan selama hampir seminggu. Puncaknya aku kehabisan napas saat pelajaran matematika dan pingsan di kelas. Aku terbangun beberapa jam kemudian dengan Ayah dan Ibuku memandangku cemas di rumah sakit. Lengkap dengan infus dan alat bantu pernapasan berbentuk masker. Itu pertama kali aku bertemu dokter Andi. Dia tersenyum padaku.

“Aku kenapa?” Aku memandang kedua orang tuaku, menanti jawaban. Masker membuatku sangat tak nyaman tetapi membuat sesakku sedikit lumayan.

“Halo Lidwina,” dokter Andi mengulurkan tangan. “Namaku Andi, aku dokter penyakit dalam.  Ada cairan di dalam paru-parumu dan membuatmu sesak napas hingga oksigen ke otak berkurang dan kau pingsan. Karena kau sudah bangun kami harus mengeluarkan cairan itu dari paru-parumu segera mungkin.” Dokter itu tersenyum. Aku menatap sekelilingku. Cairan? Paru-paru? Apa maksudnya? Apakah karena aku menangis begitu sering sehingga air mata menenggelamkan paru-paruku?

“Bagaimana bisa? Aku merasa tak meminum air begitu banyak sehingga paru-paruku dipenuhi cairan?”

“Bukan seperti itu, pernah dengar pleura?” Aku menggeleng. “Itu adalah jaringan lunak yang membungkus paru-paru. Sesuatu yang sampai saat ini belum kami ketahui telah membuat pleuramu digenangi cairan. Kami harus mengeluarkannya agar kau tak perlu bernapas memerlukan masker lagi.” Jelas dokter Andi panjang lebar. Aku dalam kebingunganku memandang dokter itu lalu kedua orang tuaku. Tak tahu harus mengatakan iya atau tidak. Toh, akhirnya kemudian aku di bawah ke sebuah ruangan ditemani Ibuku. Setelah diberi obat bius, dokter Andi memasukkan selang yang sangat panjang ke dalam bagian bawah ketiak kananku dan lima menit kemudian cairan bening keluar. 100 mililiter. Dokter Andi menatap cairan itu lega.

“Syukurlah bukan berwarna kuning.”

Namun, adegan pengeluaran cairan itu bukanlah yang terakhir kalinya, dua minggu kemudian aku bertemu dokter Andi lagi dengan alasan yang sama dan kali ini dengan sakit mengerikan di dada dan punggung. Saat itulah dia memanggil Ayah, ibu dan Aku ke ruangannya.

“Ada pertumbuhan leukosit yang meningkat dari hasil lab darah, Lidwina. Saya khawatir ada masalah dengan pleuranya. Kami akan melakukan endoskopy untuk meyakinkan hasil diagnosis.”

“Endo apa?” kata kedua yang baru kudengar lagi.

“Nanti kami akan membuat lubang di panggulmu dan akan memasukkan kamera untuk mengambil sample jaringan di sekitar pleuramu.”

Seminggu kemudian setelah dirawat, aku masuk ke ruang operasi, aku tak tahu pasti apa yang dilakukan para dokter yang pasti saat endoskopy aku tak ingat sama sekali karena obat bius. Dua minggu kemudian, kami dipanggil kembali ke ruangan dokter Andi.

“Hasil endoskopy telah keluar. Saya rasa, Lidwina sudah cukup umur untuk mengetahui hal yang akan terjadi padanya. Kami menemukan benjolan di jaringan lunak pleura milik Lidwina. Kami khawatir ada kanker di pleuranya.” Kata-kata itulah kata paling mengerikan yang pernah kudengar seumur hidupku. Kata-kata yang mematikan seluruh sistem dalam tubuhku, bukan hanya sendi. Aku bergeming di kursiku, jantungku seolah berhenti berdetak.

Aku menatap dokter Andi tak percaya. Ibuku menangis. Ayah diam di tempat. Entahlah, aku tak begitu bisa menggambarkan bagaimana kondisi kedua orang tuaku. Aku terlalu sibuk dengan ketidak percayaan. Bayangkanlah, seorang gadis muda yang baru berusia 17 tahun mengetahui kalau di dalam pleuranya, benda asing yang baru dia ketahui ada di dalam tubuhnya sejak dua bulan lalu, terdapat kanker. KANKER!! Bukan flu atau thypus tetapi kanker.

“Bagaimana bisa ada kanker? Anak saya tak pernah sakit… Dia…” Ibuku meraihku yang mematung di kursi. Dia terisak-isak memelukku. Air matanya membasahi pipiku.

“Apakah dokter yakin?” Kudengar suara Ayahku bergetar.

Yah kedua orang tuaku benar! Bagaimana bisa aku terkena kanker? Apakah dokter ini yakin? Kau tahukan, dokter Indonesia bisa saja melakukan kesalahan diagnosis. Mungkin bukan aku yang terkena kanker. Mungkin saja orang lain dengan nama yang sama denganku? Aku ingin protes tetapi suaraku tak dapat kukeluarkan. Mungkin terkena kanker juga.

“Saya rasa dokter onkologist yang lebih mampu menjelaskan masalah Lidwina. Saya akan merujuknya ke bagian onkologi.” Aku bahkan tak sempat bertanya omkology itu apa. Baru kemudian ketika dipindahkan ke bagian onkology, aku tahu kalau itu adalah bagian kedokteran yang menangani kanker. Di sana ada dokter Budy, ahli kanker terkenal yang tua dan ramah.

“Dari hasil pemeriksaan, kanker yang diderita Lidwina cukup langkah. Yaitu sarcoma kanker pada jaringan. Biasanya kanker ini menyerang otot atau tulang dan dalam kasus Lidwina yang diserang adalah jaringan lunak pada pleura. Bla bla bla..”

Aku tak mendengar kata-kata dokter Budy lagi. Yang aku tahu aku akan segera mati.

Malamnya, di ranjang rumah sakit yang dingin aku menggogle Rhabdomyosarcoma, 1.680.000 hasil. OK, ada banyak orang menderita kanker sepertiku.

Rhabdomyosarcoma adalah kanker ganas yang paling sering ditemukan pada anak-anak. Daerah yang paling umum diserang antara lain kepala, leher, saluran urogenital, lengan atau kaki. Penyebab Rhabdomyosarcoma tidak diketahui secara pasti. Tumor ini adalah tumor langka hanya terjadi dalam beberapa pasien. (detik helath)

Tumor langkah katanya? Bagaimana bisa? Kalau langkah kenapa aku yang terkena?

Aku tercekat membaca artikel di kanker.org

Mereka yang terserang kanker ini lama bertahan hanya lima tahun.

Aku punya lima tahun, 60 bulan, 1800 hari untuk menikmati hidup.

***

Advertisements

7 thoughts on “#Januari50K 2014 TOkoh Pertama : Lidwina

    • Makasih mas sudah singgah.. yg benar Andi. Udah diperbaiki. Iya sih saya juga rasa ada yg kurangg.. nanti deh baru ditambahkan fokus mau nulis dulu hihihi.
      Salam Mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s