Januari50K Tokoh Kedua : Yudha

Bab 2

Yudha

Setiap malam sebelum tidur saya mengharapkan bahwa malam ini adalah malam terakhir saya hidup di dunia. Saya senang membayangkan bagaimana saya mati. Yang paling saya suka adalah besok tubuh saya didapati orang telah tak bernyawa karena serangan jantung. Jantung saya berhenti berdetak tanpa rasa sakit saat saya sedang nyenyak-nyenyaknya. Ada dua alasan  mengapa saya paling senang mati karena serangan jantung.

Yang pertama, Ita, perawat di ruangan kesehatan yang tampangnya selalu tak niat melayani mengatakan,

“Kau punya penyakit darah tinggi. Minum obat ini agar kau tak mati serangan jantung.” Sejak saat itu saya tidak pernah meminum obat yang dia berikan dengan harapan saya akan mati karena darah tinggi merusak jantung saya.

Yang kedua, serangan jantung adalah jenis penyakit yang tidak membuat tubuh sengsara. Subagyo, laki-laki tua dengan badan kurus kering, dan tangan yang kapalan karena dulunya pekerja bangunan di samping kanan tempat tidur saya mati karena serangan jantung. Dia tidur malam hari mengeluh kalau agak sedikit sesak napas. Besoknya dia tak bangun-bangun. Benar-benar mati tanpa rasa sakit. Subagyo mati tidak sengsara  seperti Ahmed yang tidur di samping kiri tempat tidur. Ada luka besar di telapak kaki Ahmed akibat penyakit gula. Benar-benar mengerikan dan bau busuk bukan main apalagi Ita jarang membersihkannya. Luka itu membuat Ahmed hanya berdiam di tempat tidur, mengerang tak jelas dan meracau seperti orang gila selama hampir dua bulan. Lalu di bulan kedua entah setan apa yang mengusiknya, atau mungkin malaikat maut mencoleknya, tiba-tiba laki-laki tua itu terbangun dari tempat tidurnya, dan telapak kakinya yang luka itu menapak tanah. Jelaslah berbahaya karena Ita mewanti-wanti jangan sampai kakinya tersentuh apapun. Hasilnya pendarahan besar-besaran terjadi. Darah mengenangi lantai kamar kami. Sebelum di bawah ke rumah sakit dia menjerit-jerit kesakitan. Dia tak pulang lagi ke kamar itu. Sejak saat itu saya memutuskan untuk menjauhi gula dan memilih mati karena serangan jantung saja.

Sayangnya, semakin saya berikir bahwa besok saya akan mati, semakin saya terbangun dalam keadaan sehat bugar. Saya benci ketika setiap pagi terbangun di antara dua temapt tidur dua orang teman sekamar saya, Togar, Batak yang berisik dan suka ngorok  dan Wayudi, Jawa yang cerewet dan suka mengigau. Itu berarti saya harus menjalani satu hari lagi di dunia. Padahal jelas, saya sudah 74 tahun, renta, tak punya apa-apa. Baju dan tempat tinggal pun bahkan hasil subsidi pemerintah. Siapa yang ingin hidup lebih lama lagi di panti jompo ini? Mau pergi, tak tahu kemana, kembali ke jalanan hanya akan membuat kantib menangkap dan membawa saya kembali ke tempat sialan ini.

Dulu, sepuluh tahun lalu, saat saya baru masuk ke panti jompo ini, saya pernah kabur. Sayangnya, saya tak tahu harus kemana, jadi saya berusaha meminta belas kasihan orang-orang di jalanan dan berakhir kelaparan di bangku taman kota.  Sialnya saya tidak mati kelaparan di taman kota itu tetapi malah terjaring razia. Petugas kantib kembali membawa tubuh sekarat saya kembali ke panti jompo ini. Kepala panti dan petugas panti memarahi saya habis-habisan.Saya tak pernah kabur lagi. Mengerikan sekali menahan lapar di taman. Saya tahu saya akan berakhir di panti jompo ini. Tinggal menunggu waktu. Saya yakin hidup saya di panti ini tidak terlalu lama. Nyatanya sudah sepuluh tahun saya belum mati-mati. Saya bernar-benar ingin mati. Serius, tidak main-main. Mengapa pula mesti main-main? Saya sendirian di dunia ini. Saya tak punya keluarga, Ayah dan Ibu saya sudah meninggal lama sekali. Saya anak satu-satunya tak ada adik atau kakak. Tak ada istri. Dulu saya memang punya istri, hanya beberapa tahun karena dia kabur bersama laki-laki lain yang lebih kaya dan jelek. Saya tak niat kawin lagi, perempuan hanya menghabiskan uang. Uang hasil buruh saya habiskan bersenang-senang atau menyewa lonte di pinggirl rel kereta apabila saya kebelet kawin.

Saya dilahirkan di kediri, tahunnya sudah lupa yang pasti sebelum Indonesia merdeka karena saat Indonesia merdeka kalau tak salah saya berumur empat tahun atau lebih. Yang saya ingat Ibu saya menggendong saya dan bersama warga kampung bersukaria waktu Indonesia dikatakan merdeka. Ayah saya seorang petani yang ulet, kami punya beberapa petak sawah yang hasilnya cukup banyak. Namun, sejak dulu saya tidak berniat menjadi petani. Saat berumur 20 tahun, saya memutuskan untuk merantau di Jakarta. Saat itu tahun 1970, teman masa kecil saya menjadi buruh di sebuah perusahan kontruksi. Dia datang  ke kampung menprovokasi saya untuk ke Jakarta. Bekerja bersamanya. Saya menjadi buruh kasar di sebuah pabrik, dengan upah yang cukup kalau tak salah waktu itu saya diupah 10 rupiah perhari. Sebulan saya dapat 300 rupiah.

Saya bekerja sebagai buruh selama empat puluh tahun, lalu begitu saya sudah terlalu tua saya berhenti secara paksa karena tak ada yang butuh orang tua. Saya sempat menjual rokok, tukang parkir, kemudian berakhir menjadi pengemis, pekerjaan paling menjijikan. Baru seminggu saya jadi pengemis kantib menangkap dan membawa saya ke panti jompo ini. Kini sudah sepuluh tahun berlalu dan saya masih ada di panti jompo ini, belum ada tanda-tanda untuk mati. Padahal, selama sepuluh tahun ini sudah ada ratusan orang yang mati. Dari mati tanpa rasa sakit seperti Subagyo, mati yang sengsara seperti Ahmed, sampai mati yang paling miris, jatuh dari lantai dua. Namun, tidak satupun dari kematian itu adalah milik saya. Sungguh ironis.

Malam ini, saya benar-benar berharap besok saya akan mati. Saya berdoa kepada Tuhan, untuk mengambil nyawa saya besok. Tak usahlah karena serangan jantung tak apa-apa. Mati dengan sadis pun tak apa, semoga ada yang lupa mematikan api dan membuat panti jompo ini kebakaran. Atau ada perampok yang datang menjarah kantor panti dan membunuh semua orang tua tak berguna di dalamnya. Saya berbaring memkikirkan kematian saya sambil tersenyum. Togar dan Whayudi sudah lama tertidur. Ngorokan Togar memecah kesunyian malam, sementara Wahyudi terus menerus mengucapkan kata-kata aneh dan menepuk-nepuk pipinya. Biasanya saya terganggu, tetapi malam ini tidak, saya begitu sibuk dengan rencana kematian saya. Persetan dengan dua manusia tak berguna itu. Saya tertidur dalam tawa.

“Heh, Yudha! Yudha! Bangun!” Seseorang mengguncang-guncang tubuh saya. Saya tersadar dan mendapati Togar berdiri di samping ranjang saya dengan cemas. Reaksi pertama saya adalah kecewa, melihat Togar berarti saya tidak jadi mati hari ini.

“Togar, kenapa dengan Wahyudi?” Ita tiba-tiba muncul di dalam kamar kami. Aku bangun dan duduk di tempat tidurku. Mataku melirik ke arah tempat tidur Wahyudi dan laki-laki itu tampak pucat pasi. Mata hitamnya tak kelihatan. Mulutnya meracau-racau tak jelas. Seluruh tubuhnya kejang-kejang. Ita memandang tubuh Wahyudi. Dari raut wajahnya saya tahu dia tak tahu apa yang terjadi pada Wahyudi.

“Astaga, jaga dia sebentar. Saya panggil ambulance.” Ita berlari keluar kamar. Pagi hari saya dibuka dengan masalah aneh yang dialami Wahyudi. Laki-laki tua itu di bawah ke RS dengan ambulance. Saya tidak tahu apa yang terjadi padanya. Dia memang kadang-kadang suka kejang-kejang begitu sejak pertama kali dia masuk panti jompo ini, setahun lalu. Selama makan pagi Togar dengan mulut besarnya menceritakan peristiwa yang dialami Wahyudi. Saya sempat menguping saat dia berbicara dengan beberapa laki-laki dari wisma lain.

“Si Wahyudi kerasukan setan. Tak salah lagi, lah! Bah! Tempat ini ada setannya.” Saya meringgis malas dan berlalu menjauh. Saya memang tidak suka berteman dengan manusia tua menyedihkan di tempat ini. Buat apa? Tak ada guna. Toh, saya yakin tak lama lagi saya akan mati.

Sorenya, Ita mengatakan kalau Wahyudi meninggal. Saya tertawa miris. Mengapa bukan saya? Bangsat, Wahyudi sekarang pasti tengah merasakan kebebasan dari hidupnya yang tak berguna. Bangsat dua kali bukan saya yang mati melainkan pria tak berguna itu.Saya benar-benar ingin mengakhiri hidup saya sekarang juga.

***

Advertisements

4 thoughts on “Januari50K Tokoh Kedua : Yudha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s