Tentang Hati part 2

Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, ketika Alex memarkirkan motornya di tempat parkir SMA Negeri 1 Ruteng. Dia menanggalkan sweater bulu beruangnya dan menaruh di box belakang jok motor. Seketika angin dingin menusuk kulitnya, membuatnya menyesal hanya mengenakan kemeja lengan pendek.
Puluhan murid menyemut di pintu gerbang sekolah, berbaris serampangan memasuki halaman sekolah menuju kelas masing-masing. Langit bergemuruh seperti bunyi perut yg sedang lapar, awan makin hitam, gerimis perlahan jatuh. Tak ada upacara bendera pagi ini.
“Kamu liat, kamu liat, siapa itu kaka ganteng?” Telinganya mendengar suara beberapa murid perempuan. Dia melirik dengan ekor mata dan mendapati beberapa gadis menatapnya tak berkedip.
“Dia liat ke sini tadi.. Aduh Tuhan cakep betul e,” Alex menarik napas panjang dan berlalu. Anak SMA jaman sekarang centilnya bukan main. Dia berhenti di ruang kepala sekolah dan mengetuk.
“Kepala sekolah kalau hari senin begini biasanya di ruang guru, emm Ka.” Sebuah suara renyah menghampirinya. Alex menoleh dan mendapati seorang gadis tersenyum padanya. Gadis itu memiliki wajah yg menarik, tulang pipinya tinggi, dengan hidung mancung dan bibir yg tipis. Namun garis hitam di kedua kelopak matanya membuatnya seperti perempuan stres yg kurang tidur. Tak salah lagi gadis ini adalah salah satu dari murid yg heboh melihat penampilannya tadi.
“Oh iya, kah? Baiklah. Terima kasih, e. Saya guru baru soalnya.” Alex tersenyum. Wajah gadis di depannya berubah kaget.
“Oh, iya Ka eh Pa. Ruang guru di sana.” Gadis itu menunjuk ke arah kanan dan pergi begitu saja.
Gadis yg menarik, pikirnya. Seluruh pikirannya dipenuhi wajah gadis itu. Kalau saja dia tak pake pinsil alis terlalu banyak di matanya, dia akan keliatan cantik. Astaga, baru sehari jadi guru sudah memikirkan anak murid yang manis. Alex menpercepat langkahnya menuju ruang guru.
***
Jam pelajaran pertama adalah sejarah. Siska tidak terlalu memperhatikan penjelasan Pak Agus mengenai perang dunia kedua. Dia memikirkan
Ketololannya menyapa guru muda yg tampan tadi. Semua karena Ayu dan Elis, sahabat sekaligus anggota gengnya.
“Itu pasti kaka salah satu kita punya teman. Ganteng betul e, Tuhan.” Elis berteriak dan Siska yakin teriakan itu didengar si guru muda.
“Kau pergi SKSD dengan dia, pergi sudah. Kayanya dia mau cari kepsek.” Ayu mendorong sehingga dia makin dekat dengan si guru muda. Namun, guru muda itu tak terlihat seperti guru, awalnya dia pikir itu kakak salah satu murid di sini. Huh, tapi bodoh juga aku masa ada kakak dari murid yg datang pagi-pagi ke sekolah? Namun memang dia sadari wajah guru muda itu menarik. Dia berhidung mancung, rahang yg tegas, dan mata yg sayu. Tambahan saat terseyum dia punya lesung pipit. Di sekolah yg hampir semua laki-laki keren pernah jadi pacar dan gebetannya ini, wajarlah kalau agresif sedikit lihat cowok ganteng.
“Siska, coba kau sebutkan nama pelabuhan Amerika yg dibom Jepang?” Suara Pak Agus menggelegar. Siska tersadar dari lamunan panjangnya. Seisi kelas menatapnya. Ayu, teman sebangkunya berbisik
“Sa su colek kau tadi tapi kau tidak sadar2 Pak Agus ada liat kau.”
“Siska, apa nama pelabuhan Amerika yang dibom Jepang?” Suara Pak Agus menggelegar dua kali lipat. Siska menarik napas dalam. Dia ingat pernah nonton film tentang itu bersama Papanya yg maniak film. Cerita tentang dua tentara yg jatuh cinta pada seorang perempuan. Dia menangis saat salah satu tentara mati kecelakaan pesawat karena tentara itu begitu tampan. Mengapa harus orang tampan yang mati?  Apa yah judulnya? Pearl apa gitu.. ah yah..
“Pearl harbour, Pak” jawabnya.
“Bagus! Selama pelajaran jangan melamun. Ini sejarah, anak-anak. Yang membentuk kalian sampai seperti sekarang. Bla bla bla….” Sinta malas mendengar. Pelajaran sejarah berakhir dengan tugas menulis satu halaman penuh tentang peristiwa pemboman pearl harbour. Siska yakin google punya jawabannya.
“Jangan diketik tapi tulis tangan.” Andai saja google bisa menuliskan apa yg dia cari.
Pelajaran berikutnya adalah pelajaran TIK, ilmu komputer dan informatika. Seorang pria tak dikenal masuk. Siska mendelik menatap pria itu.
“Selamat siang semuanya. Nama saya Alex. Saya akan jadi guru TIK kalian untuk semester ini.”
“Oleh Morii, inikan kaka ganteng yang tadi pagi,” bisik Ayu. Siska hanya bisa melongo.

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Hati part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s