Babi (unfinished Story)

Saya tulis cerpen ini pada bulan Juni 2011, tiga tahun lalu, waktu itu kemampuan saya masih minim sekali dan saya enggan mengedit typonya (sampai hari ini sih sebenarnya kemampuan saya masih minim) tersimpan di draft D notebook saya tidak berguna seperti kotoran babi. Sudah berkali-kali saya buka untuk dilanjutkan tapi tak berhasil.. maka jelaslah ini adalah salah satu karya saya yang takkan pernah selesai 😀

Begitu terbangun di suatu pagi yang cerah, seekor babi mendapati dirinya berubah menjadi seorang manusia.  Semua bermula ketika terbangun babi itu tak terbangun di kandang kotor di pertenakan babi tetapi di sebuah kamar kecil yang sempit. Tentu saja, Babi itu kaget bukan kepalang. Apalagi saat mendapati dirinya  tidak lagi memiliki empat kaki melainkan dua tangan dan dua kaki. Bulu-bulu hitam kasar di sekujur tubuhnya pun hilang berganti dengan kulit putih berbulu halus.  Dengan kalut babi yang  menjadi manusia itu bangkit berdiri dari tempat tidur. Karena terlalu terburu-buru sikunya tak sengaja menabrak meja di samping tempat tidur. Babi itu meringgis sakit, dia kembali terkaget. Alih-alih mendengar nguikan, dia malah mendengar kata “aduh” dari mulutnya. Sama seperti binatang-binatang lainnya, babi tak bisa berbicara. Hanya manusia yang bisa bicara karena mereka mempunya bahasa. Bahasa membuat mereka bisa berkomunikasih satu sama lain, bahasa membuat mereka mengeluarkan ide mereka masing-masing,bahasa juga membuat mereka hancur karena semakin banyak manusia yang tak mengerti bagaimana berbahasa baik dan sopan.

Seribu pertanyaan bergumul di otak babi yang menjadi manusia itu, mengapa dia tiba-tiba bisa berbicara? Kemana perginya empat kaki dan bulu kasar di sekujur tubuhnya? Apakah dia bermimpi? Untuk sesaat babi yang menjadi manusia itu terganggu dengan pikiriannya, Ini pertama kalinya dia berpikir. Seumur hidupnya menjadi babi, babi yang menjadi manusia itu tidak pernah berpikir tentang hal yang terjadi di sekitarnya. Hanya manusia yang diberi anugerah berpikir dari Tuhan. Saat menjadi babi,  Segala sesuatu yang terjadi di sekitar si babi yang menjadi manusia itu dicerna dengan menggunakan insting atau bahkan tidak dia pedulikan. Yang babi itu pedulikan adalah perutnya. Dia akan menguik keras jika perutnya lapar dan saat menjadi babi, babi itu selalu lapar.

Semua teka-teki pagi hari itu terpecahkan saat babi yang menjadi manusia itu memadang cermin, seorang laki-laki berpipi gemuk dengan lemak mengelantung di sana-sini terpatri di benda bulat yang tergantung di dinding itu.  Astaga, pikir si babi yang menjadi manusia itu. Saya berubah menjadi seorang manusia. Dan seketika bersukacitalah  babi yang menjadi manusia itu, akhirnya keinginan terbesarnya terwujud, dia menjadi manusia juga. Sejak dahulu babi itu tidak ingin terlahir sebagai babi. Dia membenci tinggal di kandang kotor dan jorok. Dan yang paling penting dia benci mendapati dia dipelihara di tempat yang tidak layak untuk memuaskan manusia. Tiba-tiba dia teringat, mengapa da menjadi manusia. Dia menjadi manusia atas permintaan sendiri kepada Tuhan. Tuhan yang tidak pernah adil kepada kaumnya.

Babi yang menjadi manusia itu terlahir sebagai seekor babi. Dia dilahirkan oleh babi betina yang tambun bersama empat ekor babi lainnya. Babi itu hanya diberi kesempatan selama dua bulan untuk menyusu dan tinggal bersama ibunya, sebelum kemudian dipindahkan ke kandang lain dan bergabung dengan babi-babi kecil lainnya. Ketika berumur enam bulan baru babi itu mengerti bahwa manusialah yang memisahkannya dari induknya. Manusia! Huh mahluk apa pula itu? Babi yang waktu itu masih menjadi babi mengerutu.

“Manusia pelayan kita. Kau pikir kau dapat makan begini karena siapa? Yah karena manusia yang setiap hari memberi kita makan.” Kata salah satu babi yang lebih besar di kandang. Si babi yang dulunya babi itu merenung. Yah manusia itu pelayan kaum babi, dia berkata senang dan memang betul setiap kali dia lapar babi yang berubah menjadi manusia itu akan menguik keras dan beberapa waktu kemudian manusia akan datang membawa makanan, begitu terus sampai suatu waktu dia menyadari teman-teman babinya perlahan-lahan menghilang. Mula-mula babi besar yang dulu bilang manusia adalah pelayan mereka, lalu seekor babi yang besar seperti babi itu dan dalam sebulan sudah lima ekor babi yang pergi meninggalkan pertenakan. Seekor laba-laba yang bersarang di atap kandang babi itu berkata pada babi yang dulunya babi itu.

“Babi-babi itu  disembelih manusia untuk dijadikan daging dan memuaskan perut mereka yang rakus.” Kata si laba-laba asyik membuat sarang dari sesuatu yang dikeluarkan mulutnya. Babi yang dulu masih menjadi babi itu menatap laba-laba tak percaya. Siapa juga yang percaya? Manusia itu pelayan para babi bagaimana mungkin dia mau memakan babi? Memakan tuannya. Laba-laba mencibir melihat tatapan tak percaya si babi.

“Ah kau memang polos dan dungu, Babi. Yang kau pikirkan hanya perut saja. Manusia itu mahluk hidup paling tidak tahu diri. Mentang-mentang mereka bisa berpikir dan berbicara mereka jadi berkuasa. Mereka mulai mencap tanah ini milik mereka, rumah ini milik mereka. Bayangkan aku tak boleh bersarang di rumah mereka padahal coba kau pikir Tuhan menciptakan dunia ini secara cuma-cuma dan para manusia yang rakus memberi harga atas apapun yang Tuhan ciptakan itu.” Gerutu laba-laba. Si babi yang saat menjadi babi memiliki perut lebih besar dari kepala tampak tak mengerti, di memandang laba-laba bingung.

“Jadi kalau aku jadi manusia maka aku bisa memiliki segala sesuatu begitu?” Kata si Babi, Laba-laba mendelik kepada si babi.

“Astaga! Untunglah yang berkuasa atas dunia ini adalah manusia bukan babi.” Katanya kembali sibuk membuat sarangnya dan meninggalkan si Babi yg merenung. Babi merenung kata-katanya. Astaga, senang sekali kalau menjadi manusia. Maka dia bertekad untuk berdoa pada Tuhan agar menjadi manusia. Tuhan memang menyangi kaum Babi, pikir si babi yang kini menjadi manusia dan masih memandang wajah manusia di cermin. Kini aku bisa berkuasa atas apapun. Dia terkikik senang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s