Detektif Sebeth agu Polisi Nadus

Episode 1: Misteri Kematian Sang Istri

 

1

Yoland membelokkan motor matic-nya ke jalan Gua Maria, jalan ke arah Tenda, di samping kiri bangunan gereja Kumba, dan tersenyum lega ketika lampu motornya menyoroti tanjakan yang sepi. Dia akan segera sampai rumah dan tak ada satupun yang melihatnya. Gelap masih menggerayangi Ruteng, pun dingin yang mulai membuat bulu kuduknya berdiri. Namun, debar jantungnya terlalu kuat untuk dikalahkan dingin.  Tepat di ujung tanjakan, dia membelokan motornya masuk ke halaman  rumah paling besar di daerah itu.  Dentang lonceng gereja Kumba, pertanda misa harian akan segera dimulai,  mulai terdengar ketika dia memasukan kunci ke pintu depan. Dia bersyukur Fatima, tetangganya tak pernah berpikir untuk misa pagi. Dia tak jamin hidupnya akan tenang jika perempuan penggosip itu melihatnya baru pulang rumah pagi-pagi buta. Dia yakin, Fatima akan dengan senang hati menjelek-jelekkan namanya pada Gusti, suaminya. Dia terkenang pertengkarannya dengan Gusti, tiga hari lalu.

“Yoland, Ratna bilang kau pasang foto seksi di foto profil facebook. Betulkah?” Tak ada angin tak ada hujan suara Gusti meninggi di balik telepon. Yoland meringis sebal, apa salahnya memasang foto menggunakan baju you can see? Ratna, huh? Pasti itu akal-akalan Fatima yang bawa-bawa nama anaknya. Dia mangatur nafas dan berusaha tenang.

“Tidak ada kah, Kaka Gusti. Saya pasang foto biasa saja.” Dari seberang suaminya mendengus.

“Kau tidak usah main facebook sudah, tah. Banyak sekali saya dengar orang selingkuh karena itu facebook. Kalau sampai kau selingkuh karena itu facebook saya bunuh kau!” Yoland menarik napas sebal. Si Gusti keparat ini kalau cemburu amarahnya luar biasa dasyat, kalau di tempat tidur persis seperti kain kusut. Dia mengatur suaranya agar tetap terdengar tenang.

“Iya saya hapus itu facebook, Kaka… Kaka kerja baik di Borong e.” Gusti menceramahinya tentang perselingkuhan selama 30 menit kemudian. Setelah telepon membosankan itu dia mengubah foto profilnya dengan fotonya bersama Gusty.

“Yoland, kau dari mana saja jam segini baru pulang?” Jantung Yoland hampir copot mendengar suara dari dalam rumahnya. Dia terkejut mendapati seseorang berdiri di depannya. Orang itu memakai topeng vendora yang mirip salah satu topeng koleksi kesayangan Gusti. Namun yang membuat Yoland ketakutan adalah pisau di tangan bersarung tangan hitam orang itu. Pisau itu adalah benda terakhir dalam hidupnya yang dilihat oleh Yoland

***

2

Eisabeth sedang memasukan air dalam gelas berisi kopi dan gula, ketika Bernadus, sahabatnya muncul dan langsung duduk di kursi. Sebeth mengerutkan dahi melihat tekukan di wajah sahabatnya yang mengingatkannya pada  lipatan   di perutnya ketika dia duduk.

Ata co’o hau e,(bahasa Manggarai(BM): Kenapa kau-red) teman? Pagi-pagi kaup muka macam manuk bambo (BM: ayam yang tampak loyo karena penyakit-red)” Nadus tidak bereaksi. Dia malah menghela napas panjang.

“Sebethhh, kau tolong buat saya kopi, kah.” Alih-alih menjawab pertanyaannya, Nadus memandang Sebeth dengan tatapan anak anjing minta tulang. Sebeth memandang gelas kopinya yang kini mengepul menguarkan aroma khas yang membuat lambungnya bergejolak minta diisi. Dia yakin sesuatu telah terjadi pada Nadus atau setidaknya pada seseorang yang membuat dia harus menangani kasus itu.

“Eh, kau minum sap kopi saja sudah.” Sebeth menaruh kopi yang dia bikin di meja di depan Nadus dan mulai membuat kopi untuk dirinya sendiri lagi.

“Sebeth, saya ke sini mau minta kaup bantuan,” ujar Nadus saat kopi di depannya hanya sisa setengah gelas. Sebeth bersemangat, terakhir kali dia membantu Nadus adalah sebulan lalu saat kepolisian resort Ruteng dibikin bingung oleh pembunuhan seorang Ibu yang dilakukan oleh anak tirinya. Nadus yang berprofesi sebagai kepala unit pembunuhan, bagian Reskrim Polres Ruteng meminta bantuannya sebagai sarjana Psikologi untuk menemaninya bertemu saksi. Mereka berdua kemudian menyadari kalau Sebeth punya bakat menyelidiki yang mumpuni macam Sherlock Holmes dan Poirot. Sejak saat itu Nadus selalu meminta bantuannya apabila ada kasus pembunuhan

“Siapa yang mati?” tanya Sebeth serius.

“Mending kau ikut saya saja ke TKP.” Sebeth memandang gelas kopinya dan Nadus.

“Tunggu habis kopi dulu e,” ujarnya tersenyum

***

3

Garis polisi telah terpasang di sekeliling rumah besar di ujung tanjakan jalan Gua Maria ketika Sebeth dan Nadus sampai. Beberapa orang yang penasaran tampak berdiri di dekat garis kuning itu. Beberapa orang polisi tampak sibuk  keluar masuk rumah.

“Keluarga yang meninggal dimana, Nadus?” tanya Sebeth. Nadus mengangkat bahu.

“Dia tidak ada saudara dekat di Ruteng, orang tuanya sudah lama meninggal, kakak satu-satunya tinggal Satar Mese dan baru dikabari. Suaminya baru berangkat tadi jam 6 pagi dari Borong. Jadi jangan heran tidak ada yang urus mayatnya selain polisi. Sebeth mengangguk-angguk mengerti.

“Untung Pak Nadus dan Ibu Sebeth su datang, lah…” Theo, polisi muda asal Bejawa menyambut mereka. Sebeth tersenyum pada pria berkulit gelap yang selalu bersemangat itu.

“Biar  Sebeth lihat dulu mayatnya, Theo,” ujar Nadus. Theo mengangguk dan menyerahkan masker dan sarung tangan pada Sebeth dan Nadus. Kedua orang itu berjalan pelan masuk ke dalam rumah.

“Yang mati nih Yolanda Sedia, Perempuan, umur 27 tahun, menikah sejak tiga tahun lalu, diap tetangga ketemu dia tergantung di ruang tamu,” Nadus menunjukkan tiang penyangga atap di ruang tamu. Ada tali yang mengantung di situ. Rumah yang mereka masuki cukup besar. Sementara itu sesosok mayat terbaring di kursi sofa ruang tamu. Mayat itu dulunya adalah seorang perempuan yang sangat jelita. Hidungnya mancung dengan bibir ranum berisi. Kulit mayat itu pucat memutih seolah-olah semasa hidupnya tidak punya darah di tubuhnya.

“Nadus, kau bilang tadi ini perempuan ditemukan tewas gantung dirikan? Tetapi kenapa diap kulit pucat pasi kaya kehabisan darah.”

“Itu sudah Sebeth, kami temukan luka sayatan di lehernya.” Nadus menunjukkan luka memanjang di leher mayat. Luka yang Sebeth yakin menembus sampai nadi jugularis.

“Yolandddddddddddd!!! Sap istri cantikkkkk kenapa matii e? Siapa yang bikinnn begini kau kah enuu sayangg?” Seorang laki-laki tahu menyeruduk masuk dan langsung memeluk mayat itu.

“Ini Kaka Gustiiii sudah datangg… Bangun sudahkah Enu sayangg..” laki-laki itu terus berteriak histeris. Sebeth dan Nadus berpandangan.

“Saya pergi lihat-lihat sekeliling ini rumah. Kau coba tunggu sampai diap suami selesai habis itu bawa mayatnya ke rumah sakit.” Sebeth berlalu ke ruangan lain di rumah itu. Rumah itu berbentuk persegi. Terdiri dari empat ruangan, dua ruangan di depan dan dua ruangan di belakang. Ruang tamu terletak di kanan depan, sebelah ruang tamu adalah  kamar tidur. Di kiri belakang adalah ruang tengah berisi meja makan dan seperangkat televisi,  di kanan belakang adalah dapur dan ruang kecil kamar mandi. Ada dua pintu masuk ke rumah itu, dari depan dan dari belakang dapur. Ada enam jendela di rumah itu, dua di ruangan tamu, dua di  kamar, dan dua di ruang keluarga. Jendela-jendelanya tidak diberi trali, Sebeth melangkah ke arah jendela di ruang tengah dan mendapati satu jendela tak bisa dikunci.

“Sebeth!” Nadus sudah berada di dekatnya. Sebeth menoleh..

“Mayatnya mau dibawa ke rumah sakit. Kau mau lihat-lihat lagi?” tanya Nadus. Sebeth menggeleng.

“Sa mau ketemu sama tetangga yang pertama kali ketemu mayat dan orang-orang lain yang terakhir ketemu dengan mendiang,” kata Sebeth mantap.

-Bersambung-

Advertisements

3 thoughts on “Detektif Sebeth agu Polisi Nadus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s