Project terjemahan- Oleander Girl

Olander Girl
Karya : Chitra Banerjee Divakaruni
Part 1
Aku berenang menyelusuri kolam panjang yang dihiasi cahaya biru, kolam penuh cinta, dengan Rajat berenang di dekatku. Kami sedang berlomba, dan sejauh ini aku memenangkannya karena ini semua ada di dalam mimpiku. Terkadang ketika aku bermimpi, aku tak tahu kalau aku sedang bermimpi, tetapi malam ini aku tahu kalau aku sedang bermimpi. Terkadang ketika aku terbangun, aku berharap aku sedang bermimpi. Hal itu, bagaimanapun, adalah cerita lain.

Aku tersenyum dan merasakan mulutku dipenuhi gelembung-gelembung perak yang dingin. Jari-jari Rajat menyapu bagian belakang lututku. Walaupun sedang bermimpi aku tahu bahwa jika aku memperlambat sedikit gerakanku, dia akan menangkap pinggangku dan menarikku mendekat ke arahnya dan memberiku sebuah ciuman nakal. Membayangkan ciuman itu membust kesenangan mengerikan meliputiku. Namun, aku belum menginginkan ciuman itu. Perlombaan ini terlalu menyenangkan. Aku berenang jauh dan memberikan sebuah tendangan yang heboh. Hey! Dia memanggil dengan nada memprotes, aku menyeringai lebar. Merasa tersaingi, dia membelah menyusuri air dengan gaya renang kupu-kupu dasyat dan menerjang pergelangan kakiku. Aku menunggu genggaman kuatnya yang akan mengantar arus listrik ke aliran venaku. Mulutku dibanjiri kemungkinan terjadinya ciuman.
Kemudian, entah darimana sebuah gelombang menimpahku. Aku mengecap asin air laut dan pasir. Aku mencoba memuntahkan, tetapi air laut dan pasir memenuhi mulutku. Dimana Rajat saat aku butuh bantuannya? Terengah-engah, aku menebah dan terbangun kusut di tempat tidurku.
Bisa dibilang, di tempat tidur ibuku. Tempat tidur yang kugunakan setiap hari saat aku berlibur ke rumah dari asrama sekolah. Tempat tidur yang dibuat dengan seprai yang sama yang dia gunakan saat gadis.
Saat mataku mulai terbiasa dengan kegelapan, aku tahu bahwa seseorang berada di kamar ini bersamaku. Jantungku bertalu-talu. Hal yang mustahil. Aku selalu mengunci pintu sebelum tidur dan jendela telah dipalang. Tetapi di sini, di lengan kursi di sudut kamar tampak bayangan tenang seorang perempuan. Hitam melawan kegelapan ruangan, memandang ke arahku.
“Mama?” Aku berbisik, ketakutanku diganti kerinduan yang sama sekali tidak masuk akal. Aku tahu sangat sedikit tentang Ibuku, yang kutahu hanya dia meninggal 18 tahun, dia melahirkanku- beberapa saat setelah ayahku, mahasiswa hukum yang ambisius tewas dalam sebuah kecelakaan mobil. Mungkin Ibuku meninggal karena patah hati. Aku tak pernah tahu pasti karena tak ada satupun yang membicarakan tentang mereka. Kakek nenekku mengesampingkan rasa sakit kehilangan anak mereka dan terus merawatku. Aku senang mereka melakukannya dengan baik. Walapupun demikian selama tahun-tahun aku bertumbuh, aku merindukan kunjungan dari Ibuku. Beberapa gadis di sekolah asramaku, menceritakan tentang peristiwa saat orangtua yang sudah meninggal muncul untuk menyelamatkan keturunan mereka dari bahaya. Aku berdkoa diam-diam agar itu terjadi dan ketika hal itu tidak terjadi, aku membuat diriku mengalami bahaya, mencari tahu kemungkinan Ibu atau Ayahku muncul. Namun, aku hanya berarkhir dengan memar, keseleo, batuk berlebihan, hingga akhirnya patah lutut. Petulanganku itu membawaku pada hukuman, pengurangan uang jajan, dan sedikit reputasi berlebihan sebagai si berani mati. Petualangan-petualangan itu juga menyebabkan banyak dampratan dari kepala sekolah kami, yang mana tak mempengaruhiku, dan akhirnya, telpon jarak jauh dari Kakekku, yang mana mempengaruhiku.
“Korobi,” Kakek berkata dengan suara keras dan dalam yang kusukai sejak kecil, “Aku sudah terlalu tua untuk semuanya. Lagipula, mengapa seorang gadi pintar sepertimu melakukan hal bodoh seperti berjalan di balkon jendela tingkat atas?”
Bajingan tua yang cerdik. Dia mengetahui diriku cukup banyak untuk menarik tiga kelemahan besarku: Kesombonganku, rasa bersalahku, dan yang paling penting, rasa sayangku untuknya. Bagiku, kakek adalaj gabungan ayah dan Ibu, dan memikirkan aku telah mengecewakannya membuatku menangis. Jadi, hal itulah yang membuatku berhenti memaksa orangtuaku untuk muncul.
Sekarang, bertahun-tahun setelah aku menguatkan hatiku dan menerima kenyataan Ibuku pergi dari hidupuku, dia ada di sini. Bagaimana aku bisa yakin yang berdiri di depanku adalh Ibuku? Ada beberapa hal yang kami tahu, di napas kami, di tulang kami. Hal tersebut membuat rasa tertentu bahwa dia harus mengunjungiku sekarang. Besok aku akan mengambil langka nyata menuju kedewasaan : Aku akan bertunangan dengan Rajat dan pertunangan itu memulai perjalanan keluar dari keluarga ini ke keluarga baru. Mungkin ibuku datang untuk mengucapkan selamat tinggal, untuk memberikan restunya? Apakah dia peduli? Sebuah tegangan aneh keluar darinya…
Bersambung…

PS: Oleander Girl adalah sebuah novel romance comedy yang unik dan keren.. Thanks untuk E-Pubnya Mbak G. Saya coba translate dari English ke Indonesianya sebagai latihan untuk jadi penulis keren versi Eka Kurniawan 😀 Semoga saya bisa menerjemahkan seluruh novel…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s