Finding Happiness

 Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

Finding Happiness

Ajen Angelina

934691_656048247745521_1028087244_nRumah pohon Pirates Bay

            “Ada lagi yang kau butuhkan, Sayang? Sayang!”

Perlahan-lahan aku bangkit dari lamunanku.

“Apa?”

“Aku tadi bilang, ada lagi yang kau butuhkan?” Suamiku, Leo menatapku khawatir. Dia memegang botol obat di tangannya. Apa lagi yang kubutuhkan? Aku sudah minum tujuh butir obat. Tiga butir obat pain killer diantaranyahanya membuatku tidak sakit beberapa saat. Aku cepat-cepat mengenyahkan pikiran-pikiran mengerikan dari kepalaku. Aku menggeleng.

“Oh. Ya. Aku sudah meminum obat sebelum makanku. Kurasa itu sudah cukup untuk sekarang.” Aku coba tersenyum. Suamiku mengangguk lalu memegang tanganku.

“Baiklah, katakanlah kalau kau ingin makan!” ujarnya. Aku mengangguk lalu kembali menghadap ke arah pantai nusa dua. Kami berdua sedang duduk selonjoran di lantai paling atas rumah pohon, Pirate Bay, sebuah restauran dan kafe terletak di The Bay Bali, kawasan kompleks Nusa Dua. Kami menemukan tempat ini empat tahun lalu, saat aku dan Leo baru saja menikah. Kami memutuskan Bali menjadi tempat bulan madu kami karena menyukai pantai Nusa Dua. Saat itu kami habis melihat sunset dan kelaparan. Aku ingat saat itu dengan suara berat dan seksinya, Leo berkata pada seorang pedagang baju barong di pinggir pantai.

“Dimana kami bisa menemukan tempat makan yang unik?”

“Unik seperti apa?” tanya si pedagang dengan logat balinya yang khas.

“Unik seperti bajak laut misalnya?” Aku tertawa mendengar perkataan Leo. Bajak laut? Bagaimana mungkin ada tempat makan seperti bajak laut?

“Ah ada. Pirate bay namanya. Jalan aja lurus sampai menemukan kompleks nusa dua. Tanya saja sama orang-orang.” Aku terkejut. Tempat seperti itu ada? Kami berterima kasih kepada pedagang itu dan mengikuti nasehatnya. Tak jauh dari pantai kami menemukan sebuah restauran terbuka yang unik. Tulisan Pirates Bay, Cafe and restaurant berwarna kuning menempel di sebuah kapal bajak laut. Tepatnya restauran berbentuk seperti kapal. Kami disambut pelayan-pelayan yang ramah. Saat salah satu pelayan mengatakan kami boleh duduk di mana saja, kami memilih duduk di bagian atas rumah pohon.  Pirates Bay diatur seperti perkampungan bajak laut. Ada kapal bajak laut tempat nongkrong yang asik. Ada tiga rumah pohon yang tingkat tiga yang terbuat dari bambu dan beratap alang-alang. Ada kemah yang bisa digunakan jika ingin menginap. Ada penyewaan baju bajak laut sehingga kita bisa memakainya. Ada arena bermain bajak laut yang dipenuhi anak-anak. Ada tempat menyewa baju bajak laut. Pertama kami ke sini empat tahun lalu, kami merasa seperti berada di film pirates of carabian.

Selain tempat yang unik dan asyik, makanan di Pirates Bay juga sangat lezat. Leo si penggemar Seafood memesan grilled tuna. Berbeda denganya, aku memilih pirates burger dan Nachos. Aku tak pernah makan nachos seumur hidupku dan kurasa nachos pirates bay terenak. Aku mencoba nachos di beberapa restauran Meksiko di Jakarta, tak ada yang seenak nachos pertamaku. Kami langsung jatuh cinta pada tempat ini dan bahkan memutuskan untuk menginap di sini. Mereka punya tenda-tenda yang bisa disewa untuk menginap. Benar-benar saat membahagiakan. Kami berjanji akan kembali lagi ke mari jika sempat.

“Kau mau makan sekarang?” Suara Leo terdengar lagi. Aku kembali tersadar lalu menoleh padanya. Wajah tampan suamiku tampak lesu. Mata cokelatnya yang selalu berbinar-binar menatapku lelah. Bibir hitam, akibat rokok, sedikit gementar. Aku tersadar, sejak kami sampai tadi pagi kami belum makan apapun.

“Aku baru bisa makan satu jam lagi.” Aku menghela napas. “Karena obat yang kuminum. Kau lapar?” dia mengangguk. Aku mendesah, akhir-akhir ini aku sama sekali kehilangan selera makan dan lupa bahwa suamiku tidak sakit sepertiku.

“Sayang, kalau kau lapar kenapa kau tak pesan makanan?” Leo menggenggam tanganku.

“Aku hanya ingin kita makan bersama tetapi kau tak juga lapar.” Aku merasa bersalah.

“Pergilah, pesan grilled tuna favoritmu!” aku mencoba tersenyum. Leo tersenyum lalu mengecup keningku.

“Baiklah, kupanggil pelayan sekarang. Kurasa aku akan memesan dua piring grilled tuna,” katanya lalu ke luar dari rumah pohon. Kualihkan pandanganku ke tempat lain, menyaksikan pengunjung pirate bay yang bersantai. Keluarga bule yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak sedang asyik berpose mengenakan pakian bajak laut di depan kapal. Sepasang kekasih pribumi sedang bercanda di rumah pohon lain tak jauh dari kami. Empat orang pria tertawa-tawa di atas kapal bajak laut. Mereka semua tampak bahagia. Sangat bahagia seperti kami dulu. Aku sama sekali tidak bisa menikmati keindahan pirates bay seperti empat tahun lalu. Aku merasa tempat ini saja dengan dinding putih rumah sakit. Kebahagianku sudah direnggut leukemia yang datang tiba-tiba setahun lalu.

Aku tersenyum pahit. Tia yang malang. Kau datang ke tempat indah bersama suamimu yang tampan tetapi kau sama sekali tidak bahagia. Aku tahu ide Leo untuk liburan ke sini sia-sia belaka.

“Aku sudah berkonsultasi dengan dokter Budi. Dia bilang tak apa berpergian ke Bali. Justru katanya lagi itu bagus untukmu,” usul Leo dua hari lalu. Aku mendesah. Tiga bulan lalu aku baru saja mengakihiri khemoterapi yang panjang. Aku hanya ingin tidur dan berdoa agar kanker dalam sel darahku musnah.

“Bali bukanlah jawaban semua hal yang terjadi padaku, Leo,”ujarku. Leo memegang tanganku.

“Masih ingat saat bulan madu kita? Masih ingat pirates bay? Tidakkah kau ingin mengganti pasangan bajak laut itu dengan foto yang baru?” dia menujuk sebuah foto besar di sinding kamar. Kami berdua berpose saling membelakangi dan membuat tanda peace lengkap dengan baju bajak laut. Foto itu di ambil di pirate bay, empat tahun lalu.

“Tapi, Leo…. Aku sakit… Aku sakit leukemia….”

“Tia, please! Jangan lagi ada alasan. Mari kita pergi berlibur. Anggap ini bulan madu kedua kita. Kita butuh ini. Lagipula dokter bilang tidak apa-apa.” Leo memotong pembicaraanku. Dia menggenggam tanganku hangat. Aku menghela napas. Saat menatap mata Leo, aku merasa ada kelelahan di sana. Kami butuh liburan ini. Leo butuh liburan ini. Aku tahu dia merasa tertekan melihatku selama hampir satu tahu bolak-balik rumah sakit. Dia butuh liburan.

Kami memutuskan untuk menginap di kemah Pirates Bay seperti empat tahun lalu. Kami berangkat dari Jakarta tadi pagi. Dan seperti dugaanku aku tak bahagia di sini. Alih-alih menikmati liburan, aku teringat leukemia sialan ini. Teringat kembali rasa terbakar mengerikan saat obat khemo masuk ke dalam pembuluh darahku. Teringatlagi kengerian saat rambut panjangku rontok akibat obat kemo. Terbayang kembali saat aku jijik memandang tubuh kurusku setiap kali mandi. Aku takkan pernah bisa bahagia lagi dan takkan ada yang bisa membahagikanku lagi. Aku menyalahkan Tuhan untuk ketidak bahagiaan ini.

Sampai saat ini, aku merasa Tuhan sungguh tak adil padaku. Aku tak pernah berbuat dosa berat dalam hidupku. Aku selalu jadi anak yang baik bagi kedua orangtuaku, membuat mereka bangga dengan gelar masterku. Aku juga selalu jadi istri yang baik dengan tidak pernah selingkuh. Aku juga penduduk yang baik, aku membayar pajak dan selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Aku seorang pemeluk agama yang baik. Aku ke gereja setiap hari minggu dan berdoa sebelum makan dan tidur. Aku tidak mengerti mengapa Tuhan menghukumku dengan leukimia. Mengapa aku yang menjalani hidup dengan baik harus menderita leukemia?

“Maaf mengganggu, Mbak!” sebuah suara mengagetkanku. Aku tersentak. Seorang perempuan berdiri di tangga rumah pohon. Aku memandang perempuan itu. Rambutnya disanggul dan dia memakai baju pelayan pirate bay. Nama Luh tertera di nametag yang menempel di dadanya. Dia membawa sebuah nampan.

“Suami Mbak suruh saya bawa Grilled Tunanya ke sini. Dia bilang ke toilet sebentar.”

“Ah. Masuklah!” aku mencoba tersenyum. Pelayan itu masuk dan menaruh dua piring grilled tuna di lantai bambu di hadapanku.

“Terima kasih,” ujarku. Pelayan itu tersenyum

“Apakah mbak ingin pesan sesuatu?” tanya Luh. Aku menggeleng.

“Saat ini saya belum ingin makan. Terima kasih.” Aku berhrap pelayan itu segera pergi dan membiarkanku sendirian. Namun dia malah duduk di depanku.

“Maafkan saya kalau saya lancang, Mbak. Apakah Mbak menderita kanker?” tanyanya takut-takut. Aku tersentak dan kehilangan kata-kata. Bagaimana mungkin dia mengatakan itu? Sangat tidak sopan bertanya apakah seorang menderita kanker atau tidak? Bagaimana kalau aku tidak menderita kanker? Luh menatapku khawatir.

“Maaf, Mbak. Maafkan saya kalau lancang. Saya hanya…”

“Darimana kamu tahu saya menderita kanker?” AKu memotong perkataan Luh. Dia menghela napas.

“Cerita yang panjang Mbak… Maaf nama Mbak siapa?”

“Tia!” jawabku cepat.

“Oh, yah nama Saya, Luh!” Luh tersenyum manis menunjukkan nametagnya. Aku mengangguk. “Saya tahu dari rambut Mbak Tia. Saya yakin orang secantik Mbak tidak akan mennggunting rambut Mbak sependek ini.” Aku menghela napas mendengar perkataanya. Rambutku baru tiga bulan ini tumbuh dan rambut Leo lebih panjang dari rambutku.

“Selain itu Ibu saya juga terkena kanker, Mbak jadi saya tahu.” Luh tersenyum. Aku menatapnya serius. Bagaimana mungkin seorang tersenyum saat mengatakan Ibunya terkena kanker?

“Namun Mbak beruntung sekali punya Suami yang sangat perhatian. Dia tadi memohon kepada saya untuk memperhatikan Mbak. Mbak tahu Ibu saya terkena kanker ketika saya berumur tujuh tahun. Ayah saya meninggalkannya demi perempuan lain yang lebih sehat. Hidup kami seperti di neraka.” Aku memandang Luh. Ayahnya meninggalkan Ibunya yang terkena kanker? Aku tak pernah bisa membayangkan kalau Leo meninggalkanku karena hal itu. Seketika ingatan tentang Leo yang terus menemaniku selama ini memenuhi benakku. Dialah yang menghibur setiap malam saat aku menangis karena kanker ini. Dia terus berada di samping ranjangku saat proses khemoterapi yang mengerikan. Dia bahkan memasak untukku saat aku di rumah. Dia juga mau merencanakan liburan ke tempat favorit kami. Aku merasakan mataku berkaca-kaca dan air mataku jatuh.

“Maaf, Mbak. Bukan maksud saya membuat Mbak menangis,” ujar Luh khawatir. Aku menghapus airmataku dan tersenyum padanya.

“Terima kasih sudah menyadarkanku.” Luh mengangguk.

“Kalau begitu saya pamit permisi dulu, Mbak,” ujarnya.

“Bisakah kau bawakan aku Nachos?” ujarku akhirnya. Dia mengangguk dan berlalu pergi. Aku masih merasakan jantungku berdebar-debar. Aku merasa Luh adalah jawaban atas semua pertanyaan yang ada di dalam hidupku. Mengapa aku menderita kanker? Karena Tuhan ingin menujukkan bahwa aku memiliki suami paling baik di seluruh dunia.Aku merasakan mataku kembali berkaca-kaca. Kanker memang sudah mengambil kebahagian tetapi bukan berarti aku kebahagianku habis. Aku masih memilik suami terbaik dan sedang menghabiskan liburan di tempat indah.

“Hei, maaf menunggu lama.”Suara Leo terdengar dari pintu masuk rumah pohon. Aku menoleh. “Kau tak apa-apa? Mengapa kau menangis?” Dia berjalan cepat ke arahku. Aku tersenyum.

“Ada debu masuk ke mataku?” Leo mendekat dan mencoba memerika mataku.

“Maafkan aku telah menjadi istri yang menyebalkan, Leo!” Leo memandangku bingung.

“Ada apa?”

“Aku.. Aku sadar saat leukemia ini menyerang aku berubah kejam dan…”

“Sudahlah, Tia. Aku bersyukur kau berhasil melewati khemoterapi dengan baik. Aku.. aku hanya tak sanggup kehilanganmu.” Aku segera memeluknya erat. Kami berpelukan lama.

“Hei, bagaimana kalau habis makan grilled tuna kita foto mengenakan kostum bajak laut?” tanyaku setelah kami melepas pelukan. Leo melihat dua piring Grilled Tuna di meja.

“Ide yang bagus!”

grilled-tunaGrilled tuna

“Sebelum kau memakan grilled tunamu biarkan aku memotretnya. Sudah sangat lama aku tidak memposting makanan di instagram.” Aku etrsenyum dan meraih Iphone 5ku. Leo tertawa.

“Apakah telah terjadi sesuatu saat aku pergi tadi?” Aku menggeleng.

“Ayolah, kita sedang berada di tempat yang unik dan indah. Mengapa kita tak menikmatinya?” Aku mengerling padanya. Leo menatapku bingung lalu tertawa.Dalam hati aku tahu aku telah menemukan kembali kebahagiaanku.

 

 

 

Tamat

 

Sumber  gambar : Pirates Bay

 

 

Advertisements

One thought on “Finding Happiness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s