Malam bersama kekasihku

Malam ini kekasihku tampak luar biasa mempesona. Dia duduk di kursi sofa berwarna coklat di ruang tengah apertemenku yang luas. kaki jenjangnya dibiarkan memangku satu sama lain. Tangan kirinya memegang gelas berisi vodka sisa seperempat. Di hadapannya ada sebuah meja kecil berbetuk bundar dari kayu jati. Di atas meja ada sebotol vodka dan tiga bungkus rokok menthol. Sinar bulan masuk dari jendela apertemenku yang dibiarkan terbuka atas permintaa kekasihku, mengenai dada telanjangnya yang sempurna. Matanya memandang ke luar jendela, aku yang berdiri membelakangi jendela dapat melihat kerlap-kerlip lampu jalanan terpantul di mata coklat indahnya.
“Aku suka melihat jalan di malam hari.” Kekasihku bersuara. Aku memandang wajah ayunya. Ada sedih yang terpancar di situ.
“Mengapa?” tanyaku. Kekasihku menatapku sejenak, alih-alih menjawab dia meneguk habis vodkanya dan meletakkan gelasnya di atas meja bundar di hadapannya.
“Tak ada alasan spesifik. Haruskah segala sesuatu beralasan?” Dia berkata lagi, kemudian meraih  botol vodka dan kecewa mendapati botol itu tak lagi berisi.
“Kau mau vodka lagi? Aku masih punya satu botol. Kuambil jika kau mau.”tawarku. Kekasihku menggeleng dia berdiri dari duduknya dan melangkah mendekat ke arahku. Aku menatap tubuh telanjangnya lekat, dari kepala sampai kaki berlama-lama di dadanya yang bulat dan berisi dan perutnya yang rata dan putih. Tubuh kekasihku tubuh bidadari, molek dan indah.
“Aku benci jika kau menatap tubuhku seperti itu, Kau mengingatkan aku pada suamiku yang brengsek itu.” Kekasihku berhenti mendekat ke arahku. Dia menatap aku muak. Aku memandang dan berjalan ke arahnya.
“Maaf, aku hanya tak bisa menyembunyikan kekagumanku pada tubuh seksimu.” Aku meraih kedua wajahnya dengan kedua tanganku dan mengecup cuping hidungnya mesra. Kekasihku kembali melunak.
“Aku juga minta maaf, aku semakin benci saja pada suamiku itu.” Kekasihku membenamkan wajahnya di bahuku. Aku bisa merasakan air mata mebasahi bahuku.
“Ada apa lagi? Ceritakan padaku, kekasihku!” Aku mengelus-ngelus rambut hitam panjangnya.
“Aku bosan menjadi ibu rumah tangga!” Aku terperangah mendengar perkataannya.
“Bukankah kau selalu menyukai hal itu!” Kekasihku menarik diri dari pelukanku dan melangkah kea rah jendela, memadang jalanan yang mebentang di luar sana.
“Iya aku suka tetapi aku bosan. Bosan bukan berarti tidak lagi suka kan?” Katanya sambil terus memandang jalanan luas.
“Mengapa kau bosan?” Kekasihku tertawa mendengar pertanyaanku.“Kau ini selalu saja bertanya mengapa, untunglah aku suka menjawab karena.” Aku mengernyitkan dahi mendengar pernyataannya.
“Kau bertengkar dengan suamimu lagi?” Kekasihku mengangguk.
“Kali ini masalahnya karena Nino anak kami. Kau tahu anak laki-lakiku itu sekarang berusia enam tahun dan sangat nakal. Nino jatuh dari sepeda dan dia marah karena hal itu. Katanya aku tak becus mengurus anak.” Kekasihku menarik napas panjang sebelum melanjutkan. Wajahnya ayunya bersemu merah karena marah.“Padahal kau tahu sayang! Jadi ibu rumah tangga itu susah. Bangun pagi langsung memasak dan menyiapkan sarapan untuk suamiku. Siangnya mencuci, menyetrika, dan membersihkan rumah. Sorenya menyiapkan makan malam untuk suami. Malamnya melayani suami di tempat tidur. Aku muak!” Nafas kekasihku memburu. Aku melangkah mendekatinya dan meraihnya ke dalam pelukanku.
“Aku tak punya waktu mengurus diri, tak punya waktu mengerjakan hobiku. Untunglah aku diberi kesempatan bertemu kau setiap malam. Kalau tidak aku bisa gila.” Kata kekasihku lagi. Kali ini dia terisak.
“Apa kau mau bekerja lagi seperti dulu?” tanyaku.
“Suamiku takkan mengijinkan hal itu.Dia bilang tugas perempuan adalah melayani suami di rumah, di dapur dan di tempat tidur.”
“Sudahlah! Kalau kau mau aku akan berkata kepada suamimu untuk menyewa pembantu atau baby sitter, Itu akan meringankan tugasmu.” Kekasihku terpanah mendengar perkataanku.
“Astaga.. kenapa tak pernah kupikirkan hak itu dari dulu. Maukah kau menolongku? Suamiku mungkin akan lebih mendengar perkataan kakak perempuan semata wayangnya.” Katanya. Aku tersenyum kukecup bibir kekasihku.
“Anything darling! I am gonna do anything for you.”

End

Depok, 11 Juni 2012 11.53 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s