Obrolan Ringan dengan Jakarta

Ini saya tulis dua tahun lalu sebelum Jokowi jadi gubernur  #JKW4P

Suatu Sore di hari minggu saya duduk santai di depan rumah. Segelas kopi dan sepiring pisang goreng bikinan istri tercinta tersedia di depan meja. Langit Jakarta cerah seperti biasa, panas matahari sudah mulai layu, tak segarang siang tadi. Saya sedang meneguk kopi yang sisa setengah gelas ketika Jakarta tergopoh-gopoh berlari menghampiri saya.

“Selamat sore, Beh!” Suara Jakarta terdengar lelah. Dia mengatur nafasnya yang sesak karena berlari-lari.

“Kenapa lo, Jak? Lari-lari kaya banci dikejar Pol PP.” Jakarta nyengir mendengar perkataan saya.

“Yehh si Babeh. Gue kesini yah buat diskusi, Beh. Berdialog. Babeh, kan orang paling terpandang di sini.” Jakarta berkata lagi. Napasnya sudah mulai teratur.

“Halah, belagu lo dialog-dialog segala. Bilang aja lo kemari mau pinjam duit karena dompet lo dibobol koruptor atau untuk subsidi rakyat miskin,” kata saya angkuh. Jakarta nyengir.

“Ah, Babeh Jakarta itu ga identik dengan korupsi ama kemiskinan aja kale.” Saya tertawa melihat Jakarta yang sewot.

“Lah paling itukan yang selalu menjadi masalah lo sejak sepuluh tahun terakhir ini. Kalau ga kemiskinan dimana-mana, Korupsi, macet, Sampah, Banjir, kejahatan dan lain-lain.”Lagi-lagi Jakrta sewot mendengar perkataan saya. Dengan kesal dia meraih pisang goreng di meja dan memasukannya ke dalam mulutnya. Saya tertawa melihat cara makannya yang terburu-buru itu.

“Gue kemari pengen diskusi, Beh. Kira-kira menurut Babeh yang paling cocok menjadi bos gue itu orang yang bagaimana, yah?” Jakarta terlihat seirus, memang akhir-akhir ini dia khawatir soalnya dia bakalan dapat pemimpin baru.

“Menurut lo, Jak! Apa sih masalah yang paling besar yang lo hadapi?” Saya bertanya kepada Jakarta kemudian. Jakarta termenung lama.

“Gini yah, Beh sekarang itu yang paling menjadi masalah buat gue itu adalah macet, sampah, dan polusi. Tiga hal itu mengganggu gue banget, Beh.”Jakarta menarik napas sebentar.”Sebenarnya banyak lagi masalahnya.Tadi malam gue data satu-satu. Aihhh, setebal kamus besar bahasa Indonesia, Beh.” Saya tertawa

“Lo kan ibukota Negara, Jak. Pantaslahh kalau elo tuh gudang masalah.”

“Ia gue tahu, Beh. Untuk itulah gue pengen figure yang memimpin gue kelak peduli ama rakyat gue dan peduli ama kondisi gue yang morat-marit ini. Gue butuh pemimpin yang mendengar keluh kesah rakyat gue. Gue malu, Beh kalau meeting ama ibu kota Negara lain. Gue pasti paling terpolusi, termacet, termiskin, terkumuh, dan lain-lain. Gue mau mengubah itu semua, Beh. Biar gue bisa bangga kepada dunia.” Saya berpikir sebentar mendengar Jakarta.

“Kalau itu,  mah bukan pemimpinnya aja kale yang mesti lo pikirin. Orang-orang lo juga harus bekerja sama. Kan rakyat itu juga bagian dari pemerintahan. Pemerintahan bakalan bagus kalau rakyat dan pemimpinnya bersatu.

“Wahhh, kalau itu mah gue ga tahu kapan bisa bersatu. Babeh tahu sendiri rakyat gue sibuk banget. Mereka suka cuek sama Jakarta yang penting mereka bisa dapat makan aja deh hari ini. Mereka juga suka buang sampah sembarangan eh kalau banjir nyalahin pemerintah. Aduh Beh gue bingungg. Kira-kira orang yang bagaimana yang cocok jadi pemimpin gue kelak?” Saya terdiam mendengar perkatann Jakarta.

“Aduhh, Jak. Masalah lo sulit juga, yahh. Gue ikut PRIHATIN. Semoga aja lo dapat pemimpin yang bisa ngertiin lo dan rakyat dulu. Sudah yah, gue mau ke Cikeas dulu.” Saya pergi meninggalkan Jakarta. Jakarta berteriak memanggil-manggil

Depok, 18 april 2012 4:56

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s