Pengalaman Menonton “Rahasia Pengakuan”

Saat minggu palma kemarin, dari pukul 19.30 sampai 20.00 saya menonton teater yg dibawakan oleh OMK Katedral dalam rangka mencari dana untuk pembangunan serbaguna katedral. Pentas teater itu berjudul rahasia pengakuan.
Lakon Rahasia pengakuan sendiri adalah lakon yg berarti buat saya. Itu adalah lakon teater pertama kali yang saya tonton, enam tahun lalu bersama mendiang Kakek saya. waktu itu kami menobton di ciptaria dan dipentaskan anak seminari kisol. Saat menonton lagi, saya jadi kangen kakek saya. Ini semacam lakon teater kenangan:,)
Yupss, lanjut ke paragraf berikutnya..

Lakon rahasia pengakuan bercerita tentang seorang pastor yg dituduh membunuh seorang perempuan. Ironisnya, pelaku pembunuhan itu, yang adalah suami si perempuan, mengaku dosanya kepada si pastor dan si pastor sama sekali tidak memberitahu kebenaran kepada pengadilan. Akibatnya, si pastorlah yang dipenjara. Kok bisa-bisanya si Pastor tak bilang siapa pembunuh sebenarnya? Well, itu karena sumpah mereka pada Tuhan yg tak boleh menceritakan isi pengakuan dosa umatnya kepada siapapun. (Walaupun sudah tahu kenyataan ini saya suka enggan mengaku dosa. Takutnya Romo kasih tahu orang lain (padahal tidak) BTW sudah satu tahun saya tak mengaku dosa.. ahh saya hina.. ehmm sebaiknya kembali ke topik pembicaraan.) Dipentaskan selama 1,5 jam lebih, lakon teater diperkaya tata panggung yg keren, pencahayaan yg pas, jeda pergantian adegan yg tak terlalu lama,sound yg menyempurnakan dan tentu saja akting yg bagus membuat teater ini begitu briliant.

Saat kuliah saya sering menyaksikan pentas teater..Sejujurnya saya kagum sama seni pentas satu ini. Pemain teater harus benar2 pandai berakting karena tak seperti film yg pake editing, mereka tampil live. Oleh karena itu saya selalu merasa teater yg baik adalah teater yg pemainnya keren. Anak-anak ehm maaf orang muda Katedral punya kualitas akting yg bagus. Semua peran tampak alami dan tidak berlebihan. Akting Adeng sebagai koster sangat pas dan apa-adanya terutama adegan kasih makan babi :D. Akting Etinn sebagai istri juga bagus, dia berhasil menjadi istri yg stres dengan kelakuan suaminya. Akting sang suami juga patut dipuji. Dia berhasil menjadi tokoh antagonis yg menjengkelkan. Tokoh anak juga berakting baik. Akting Jibul ehm Febri sebagai jaksa juga bagus. Dia mampu menghadirkan sosok jaksa penuntut umum yg memang dalam sidang selalu ngotot dan rese (penggemar law and order dan SVU :D) Akting Rosi sebagai hakim juga keren. Taukan dimana2 hakim selalu terkesan ga peduli..  Saya teramat salut dengan akting pastor. Oh Em Ji, panjang sekali dialognya dan dia mengucapkan dialog itu dengan sangat lancar. Secara keseluruhan akting para pemainnya brilian.
Adegan-adegan juga memukau saya. Berikut adegan yg menurut saya keren
1. Saat pastor dan si istri cipika-cipiki, kode banget.
2. Saat suami menampar si istri. Keren banget dengan tambahan sound yg cetar ulala..
3. Semua adegan koster dan pastor
4. Adegan saat si anak menjerit dan penduduk datang dari arah penonton. Ini brilian. Salut untuk Pak Sutradara karena memasukan adegan ini.
5. Saat Celi mau pukul pastor 😀 kocak aja lihat mukanya Celi.
6. Saat jaksa menanyai kedua saksi.
7. Saat hakim anggota berbisik pada Hakim ketua.. Ini briliant dan salut lagi untuk Pak Sutradara yg menambahkan detail ini.
Saya menikmati setiap humor yg diselipkan dalam teater ini. Tata panggung juga keren, salut buat kru back stage yg pastinya setengah mati angkut dan pindah barang setiap adegan. Saya suka betul dengan setting pastoran. Kebayang beti leas para kru back stage kasih pindah itu salib besar e. Saya juga salut dengan layar hitam yg pastinya membutuhkan lebih dari satu orang untuk menutup dan membukanya. Saya juga suka saat cuplikan cerita ditayangkan seperti trailler film sebelum pentas dimulai. Salut videonya kaka Ited.

Secara garis besar teater ini menarik dan briliant. Hanya saja tak ada gading yg tak retak, toh? Saya pribadi agak malas dengan dialog yg diucapkan si pastor. Panjang dan apa yah dia terlalu baik dan bullyable *halah Namun, tampaknya Rm. Edi Manori sebagai penulis naskah  memang membuat  si Pastor bijaksana dan baik hati seperti itu demi kepentingan cerita. jadi bisa dimaklumi. Pada awal agak lama panggung di tutup sehingga membuat saya bertanya2 tapi bisa dimaklumi karena setting adegan ruang tamu yg cukup rempong. Selain itu kekurangan yg lain hanya masalah teknis seperti yg dibilang Ka Ucique tempat duduknya yang rata. Jadi yg dapat tiket kelas ekonomi harus mendongakkan kepala *curhat. BTW, meski sudah tahu bagaimana jalan cerita kisah ini tapi saya merasa surprise dengan akting dan adegan di lakon oleh OMK Katredal dan no hurt feeling buat anak kisol enam tahun lalu, menurut saya pentas kali ini lebih bagus 😀
Selain daripada itu untuk sebuah grup teater yg sama sekali tdk fokus ke dunia teater , pentas teater ini keren..
Salut buat kerja keras para kru belakang panggung, para pemain, sutradara Kak Armin, produser Rm. Beben. Hasil kerja kalian sangat luar biasa dan sebagai penonton yg mengeluarkan uang 20rb pentas itu worth every penny..
Saran ayo bikin pentas teater lagi!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s