Detectives Nadus agu Polisi Sebeth

Detektif Sebeth agu Polisi Nadus
Wae Ngkeling Berdarah Bagian 1

1
Pukul empat pagi, Nabas berjalan cepat menyusuri jalan utama yang membelah Langgo. Di kanan jalan, puluhan pohon ampupu dan bambu yang memenuhi wae ngkeling menari-nari pelan tertiup angin pagi. Dia merapatkan jeketnya. Udara begitu dingin apalagi tadi pagi jam dua sempat hujan. Nabas mendesah enggan saat lampu senternya menyorot puluhan ampupu dan bambu itu. Dia tak pernah takut pada setan atau poti  tetapi puluhan pohon ampupu yang menjulang dan menciptakan nuansa gelap di wae ngkeling membuatnya gentar.
Wae Ngkeling sudah ada sejak lama. Itu adalah kali kecil sepanjang kira-kira 200 meter. Kata wae berarti kali, ngkeling berarti burung nuri. Kali kecil itu dinamai demikian, karena dulu sekali sekitar kali itu adalah kebun jagung dan banyak burung nuri datang mencuri biji jagung dan membuat sarang di pohon-pohon di kali itu. Waktu dia berusia tujuh tahun, dia masih sering melihat burung nuri di sekitar kali itu. Sekarang, tiga puluh tahun kemudian, tak ada lagi ladang jagung apalagi burung nuri. Wae Ngkeling banyak ditumbuhi pohon ampupu  dan bambu yang membuatnya gelap dan angker. Bahkan, wae ngkeling bukanlah lagi kali karena hampir tak ada lagi air yang mengalir di bawahnya.
Banyak cerita angker beredar tentang kali itu. Ada yang bilang jembatannya terbuat dari kepala manusia, ada yang bilang dulu di sekitar kali itu adalah kuburan, dan bahkan Nabas pernah mendengar kisah hantu perempuan gentayangan yang konon sering muncul di antara pohon ampupu.
Cerita hantu sialan, sungutnya dalam hati lalu melangkah lebih cepat. Bulu kuduknya berdiri mendengar suara-suara daun bambu yang mendesir di tiup angin, mirip seperti suara tangisan seorang perempuan. Dia kembali memikirkan hantu gentayangan itu.
“Nabas… Kau kerja di gereja setiap hari ketemu Tuhan jangan takut hantu,” ujarnya pada diri sendiri. Kalau saja motornya tidak rusak dan masuk bengkel tentulah dia tidak jalan kaki melewati Wae Ngkeling ini. Nabas bekerja sebagai koster di gereja kumba. Hari ini dia bertugas menyiapkan misa pagi di sana. Kemarin rantai motornya rusak dan harus diperbaiki. Jalan kaki dari rumahnya di Langgo adalah pilihan satu-satunya. Tadi malam dia sangat yakin akan sanggup berjalan kaki, kali ini dia menyesal. Nabas tersadar, sudah lama sekali sejak terakhir kali dia berjalan kaki melewati wae ngkeling.
Dia lega saat melihat deker jembatan, itu berarti wae Ngkeling akan segera berakhir dan dia dapat menemukan rumah penduduk. Dia setengah berlari agar segera sampai. Begitu sampai di dekat jembatan, jantungnya hampir copot melihat sesosok tubuh terbaring di jembatan. Jantungnya berdegup kencang ketika senternya menyorot tubuh di jembatan itu. Seorang perempuan terbaring kaku memandang ke arahnya. Nabas berteriak kencang, Senternya terjatuh. Dia berlari ke arah gereja kumba sambil terus menjerit histeris.
***

2
Pukul tujuh pagi Elisabeth memarkir motor di  ujung wae ngkeling dekat beberapa motor polisi. Puluhan orang menyemut di dekat garis polisi. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, di dekat jembatan, beberapa polisi sedang berdiri. Sebeth mencari-cari Nadus, sahabatnya. Laki-laki itu sedang berdiri memegang walkie talkie tak jauh darinya. Dia melangkah mendekat saat melihatnya. Nadus tampak gagah dengan seragam polisinya. Sejak setahun lalu dia diangkat menjadi kepala unit II Reserse dan Kriminal. Jadi dia selalu jadi orang yang pertama muncul di setiap kasus pembunuhan. Sebeth teringat telpon Nadus tadi pagi.
“Sebeth, ke Wae Ngkeling, kah. Ada mayat e.” Hanya itu saja. Nadus memang selalu to the point dan karena itu Sebeth menyukainya. Laki-laki itu tersenyum saat melihatnya. Dia mengangkat garis polisi agar Sebeth bisa masuk.
“Sebeth, bagus kau sudah datang, e.”  Sebeth tersenyum manis lalu melangkah masuk. Orang-orang yang berdiri di sekitar garis polisi memandangnya penasaran.
“Kita langsung ke TKP, e. Sekalian pergi ketemu sap bos,” ujar Nadus kemudian. Sebeth mengernyitkan dahi mendengar kata bos.
“Bikin apa Kapolres…?”
“Enu Sebeth, sudah dari tadi?” suara berat dan bariton memotobg perkataan Sebeth. Dia segera berbalik dan memasang senyum sopan pada si pemilik suara. Seorang pria tinggi dan gemuk mengulurkan tangan padanya.
“Pak Kapolres.” Dia menyambut uluran tangan itu. AKBP Gede menggengam tangannya erat. Sebeth tahu bahwa mereka yang menjabat tanganmu erat saat bersalaman adalah ciri-ciri orang yang menghargai orang lain.
“Dimana mayatnya, Pak?”
“Di sana mayatnya ditemukan.” Gede menunjuk ke arah jembatan. Tampak gambar tubuh manusia yang sedang terbaring. Sebeth mencari-cari keberadaan mayatnya.
“Mayatnya sudah diangkat kah, Pak?” tanyanya. Pria lima puluhan lebih asal Bali itu mengangguk.
“Sudah divisum di RSUD Ruteng. Nanti minta saja foto mayat di Nadus. Saya tak bisa lama-lama di sini, Sebeth. Kau tolong Nadus investigasi, yah. Saya harus mengurus seseuatu di kantor.” Laki-laki itu memandang jam tangannya. Sebeth mengangguk.
“Nadus, kau cerita kronologi kejadian, deh!” ujarnya beberapa saat setelah AKBP Gede pergi.
“Yang meninggal perempuan, namanya Rita Veronika.”
    “Rita Veronika? Astaga, saya tahu dia. Diakan istri Polisi Wayan.” Sebeth terkaget. Nadus mengangguk. Sebeth akhitnya mengerti mengapa Kapolres ada di sini.
    “Penyebab kematian apa?” Tanyanya kemudian.
“Ada luka memar di kepala bagian belakang dekat tengkuk dan ada luka jeratan tali di leher. Belum tahu dia meninggal karena dipukul kepalanya atau dicekik. Waktu kematian belum tahu nanti tunggu konfirmasi dari  dokter forensik.” Nadus menjelaskan panjang lebar.
“Trus ge siapa yang ketemu pertama kali itu mayat?” Sebeth memandang sekeliling jembatan wae ngkeling. Dia memandang bagian tanah tempat mayat tergeletak.
“Koster dari gereja kumba, e. Itu dia di sana.” Sebeth menoleh dan melihat laki-laki berbadan gembul yang kira-kira berusia akhir tiga puluhan. Tiga orang polisi sedang menanyai laki-laki itu.
“Kita pergi tanya itu saksi dulu, e. Saya ingin tahu bagaimana dia menemukan mayat,” ujarnya pada Nadus, kemudian berjalan mendekat ke arah laki-laki tersebut. Nadus menyuruh ketiga polisi yang bersamanya pergi. Sebeth terseyum pada laki-laki itu.
“Pagi, Kaka em Maaf, namanya siapa, e?” tanyanya. Laki-laki itu menatap Sebeth gugup. Sebeth rasa ini pertama kalinya dia melihat mayat.
“Saya punya nama Nabas, Enu.”
“Bagaimana Kaka Nabas ketemu itu mayat tadi?”
“Saya mau pergi misa pagi pas saya lihat tubuh perempuan terbaring di itu jembatan. Saya langsung lari minta tolong ke orang-orang.” Ada kengerian di suara laki-laki itu.
“Apakah Kaka ada lihat hal lain di sekitar mayat?” Nabas menggeleng.
“Saya hanya lihat sepintas lalu. Diap muka sangat berminyak. Itu saja yang saya ingat karena saya langsunng lari.” Sebeth mengangguk mengerti. Dia menoleh ke arah Nadus.
“Saya lihat foto kondisi mayatnya tadi, deh!” Nadus mengangguk dan memanggil anak buahnya yang memegang kamera DSLR. Sebeth menoleh ke arah Nabas lagi.
“Jam berapa Kaka ketemu itu mayat?” Nabas berpikir sebentar.
“Saya jalan dari rumah setengah empat. Sekitar jam empat pagi, lah.” Sebeth mengangguk-angguk lagi.
“Ini fotonya e.” Nadus datang membawa sebuah kamera. Sebeth mengucapkan terima kasih pada Nabas dan berlalu. Dia melihat foto-foto kondisi mayat korban. Korban terbaring terlentang dengan kedua tangan dilipat di dada. Kakinya dibuka lebar. Matanya terbelalak. Dan seperti kata Nabas wajahnya sedikit berminyak. Dia mengembalikan kamera ke tangan Nadus dan berjalan mendekat ke arah jembatan. Nadus mengikutinya dari belakang. Dia memusatkan perhatian ke tempat mayat tergeletak dan menyadari sesuatu. Dia meraih sarung tangan dari kotak di tempat perkakas polisi, lalu meraba tanah tempat mayat terbaring. Basah.
“Tadi malam hujan, kah?” tanyanya. Nadus mengangguk.
“Kalau tidak salah jam dua pagi turun hujan sedikit e.”
“Sampai jam?”
“Tiga kalau saya tidak salah.”
“Pak, ini daftar panggilan keluar,” seorang polisi menghampiri mereka. Sebeth memandang penasaran.
“Siapa saja yang dia telpon?” tanya Sebeth. Nadus membaca catatan yang diberikan anak buahnya.
“Telpon dari Wayan sebanyak sebelas kali. Telpon ke Ka Putu sebanyak tiga kali. Telpon keiLydia dua kali. Terakhir telpon dari Wayan. Jam tiga pagi. Tidak ada pesan di kotak masuk atau kotak keluar.” Sebeth berpikir sebentar.
“Kayanya ini Kaka Rita tidak bahagia di diap pernikahan e. Kalau dia bahagia kenapa dia tulis nama Wayan saja diap suami tidak honey atau suamiku?” Nadus mengangkat bahu.
“Sebaiknya sekarang kita ke RS. Kita cari tahu dulu sebab kematiannya,” ujar Nadus
“Sebelum ke RS, saya mau tanya. Bagaimana dengan barang bukti? Selain Handphone apa yang kalian dapat?”
“Kami sudah cek sidik jari di bekas cekikan di leher. Tidak ada sama sekali. Sekeliling juga sama sekali bersih. Pelakunya pintar betul kayanya dia pake sarung tangan. Sa rasa ini pembunuhan berencana.”
“Nadus, sa kutip Holmes punya kata-kata ‘Sepintar apapun seorang pembunuh pasti dia meninggalkan sesuatu’ dan kita punya pembunuh ini meninggalkan handphone korban. Habis dari RS kau kasih surat panggilan sebagai saksi ke Wayan, Ka Putu, Lidya, dan Ka Anton itu. Mereka bisa jadi pelaku kita.” Sebeth tersenyum penuh arti.

***
3
Dokter Chandra, dokter forensik menyambut Sebeth dan Nadus dengan ramah di ruangannya. Dokter berdarah Tionghoa itu mempersilakan keduanya duduk di kursi di depan mejanya.
“Kapan waktu kematian, dokter?” tanya Nadus seperti biasa tanpa basa-basi.
“Kalian, nih. Duduk dululah. Atur napas dulu. Saya baru saja selesai otopsi tadi.” Nadus dan sebeth duduk di depannya.
“Jadi begini, Rita meninggal sekitar jam 9 malam. Akibat pendarahan di otak. Memar di tengkuknya itu akibat dipukul sesuatu. Kami menemukan pecahan beling di rambutnya. Dia dihantam dengan botol beberapa kali.”
“Hae, Dok bagaimana dengan bekas jeratan di diap punya leher ge? Itu kenapa?” Nadus buka suara.
“Yah itu juga saya bingung. Yang pasti itu bekas ada ketika korban sudah meninggal.” Nadus dan Sebeth berpandangan.
“Oh iya ada satu hal lagi sebelum meninggal korban sempat melakukan hubungan seks. Saya sudah mengambil contoh sperma untuk contoh DNA. Nanti saya minta contoh DNA suaminya untuk dicocokkan.” Nadus menarik napas.
“Baik, Dok.. Nanti saya suruh Wayan menghadap ke sini. Ada lagi yang lain?”
“Ah iya ada satu hal yang aneh. Saya sudah coba mensensor seluruh badan dengan sensor sidik jari. Mayatnya bersih dari sidik jari dan yang anehnya seluruh badanya di lumuri minyak goreng.”
“Minyak goreng?” Sebeth berkata heran. Jadi, minyak yang dikatakan Nadus dan dia lihat di foto tadi adalah minyak goreng? Namun, bagaimana bisa? Apa tujuan pelaku melumuri tubuh korban dengan minyak?
“Iya. Minyak goreng. Saya tidak tahu apa maksudnya.” Mereka semua terdiam beberapa saat.
“Ada lagi, kah, Dok?” tanya Nadus kemudian. Dokter Chandra menggeleng.
“Kalau ada hal baru nanti saya kabari lagi, ya,” ujar dokter Chandra kemudian. Nadus dan Sebeth keluar dari ruangannya.
“Berarti korban ditinggal di jembatan Wae Ngkeling dari jam sembilan malam i? Atau bagaimana menurut kau?”
“Tidak Nadus. Itu mayat diletakkan di Wae Ngkeling sekitar jam tiga malam.”
“Kau tahu darimana?”
“Bagian bawah itu mayat basah dan tadi pagi  dari jam dua sampai jam tiga hujan, toh? Jadi habis hujan itu mayat di taruh di situ.” Nadus manggut-manggut. Handphonenya berbunyi.
“Tunggu sebentar e. Saya angkat telpon.” Dia menjauh sebentar lalu kembali.
“Telpon dari siapa?”
“Sap anak buah sudah menemukan siapa penelpon di HP Rita?”
“Bagus, toh. Sekarang bikin surat penggilan sudah. Kita tanya ka Putu dulu pertama.”
“Tidak perlu surat panggilan. Putu itu kakak sulungnya Wayan. Dia di bagian Polantas juga.” Sebeth terkesima.
“Astaga Polisi Putu yang kepala unit Polantas inikah? Yang anaknya Pak Gede? Eh itu Wayan anaknya Kapolres kah?” Nadus mengangguk.
“Iya e, dia itu anaknya Kapolres. Itu makanya Kapolres tadi datang langsung ke TKP untuk memastikan apa betul diap anak mantu yang tewas,” ujar Nadus kemudian. Sebeth menghela napas.
“Pantas tadi Pak Gede agak pucat, i” Nadus
“Iyalah dia pasti tegang pikit kemungkinan satu dari diap anak bunuh itu korban.” Sebeth mengangguk2.
-bersambung-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s