#30harimenulisFF #FF2 Pertemuan

Kami ketemu di  resturant di dekat stasiun gambir. Aku datang duluan. Dia datang lima belas menit kemudian.
“Kamu kurusan,” katanya.
“Kamu juga,” balasku.
Diam menguasai kami sampai pelayan mengantarkan minuman. Dia pesan jus jambu. Aku pesan jus mangga. Kami menyeruput minuman kami dalam diam.
“Kamu masih suka jus Mangga?” tanya dia. Aku mengangguk. Sedikit senang dia masih ingat kesukaanku. “Ingat waktu kita mencuri mangga di rumah Pak haji?” Dia tersenyum kecil. Aku ikut tersenyum. Ah itu kejadian lama sekali. Saat kami masih SMA. Saat kami masih muda. Saat kami tak ragu-ragu melakukan kesalahan.
“Sudah lama kita ketemu, yah,” gumanku.
“Iya sudah empat tahun,” ujarnya lirih. Aku mengenang kebersamaan kami. Sehabis SMA kami bersama sampai lulus kuliah. Kami berpisah karena dia melanjutkan studi di luar negeri. Dua tahun lalu kudengar dia sudah menikah dengan perempuan pilihan orangtuanya.
“Bagaimana kabar keluarga kecilmu?” tanyanya lagi. “Kamu menyesal menikahi Lastri?”
Aku menatapnya penuh tanda tanya. Matanya menatapku ingin tahu.
“Kenapa kamu tanya begitu?”
Dia mendesah, “Aku …. aku hanya penasaran saja.” Dia menatapku lembut. Tatapan yg selalu kubayangkan jika menatap istriku Lastri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s