#30harimenulisFF #FF4 Cita-cita

“Joko, kau tahu apa cinta-citaku? Aku ingin mati muda!” ujar Lastri, bukan ujaran sebenarnya tetapi lirihan yang diucapkan seperti desahan. Joko yang berbaring terlentang di sampingnya menoleh ke arahnya sebentar, mata cokelat laki-laki itu memancarkan tatapan datar. Dia tidak mengucapkan kata-kata, hanya mengusap kepala Lastri. Lastri menjauhkan kepala dari tangan Joko.
“Aku serius, Ko! Cita-citaku ingin mati muda!” Suaranya meninggi, mata cokelatnya mendelik. Joko menghela napas.
“Kenapa cita-citamu rumit begitu? Kenapa cita-citamu tak sesederhana Pinurbo, punya rumah dah minum kopi bersama senja.”
“Rumit bagaimana? Mati lebih mudah daripada punya rumah. Mati cukup menggorok nadimu sendiri dengan pisau. Cukup minum sianida. Cukup mengantungkan diri dengan tali. Kalau rumah? kau butuh tanah, butuh papan, butuh batu-bata, butuh pasir, butuh semen, butuh uang. Uang, Joko. Butuh uang.”
“Lalu kau pikir kalau mati tidak butuh uang? Kalau kau mati aku harus mengurus jasadmu. Membayar orang untuk membersihkanmu, membeli peti matimu, dan membayar tanah pemakaman. Mati juga butuh uang Lastri.” Jeda panjang di antara mereka
“Joko!”
“Apa Lastri?”
“Aku ingin menganti cita-citaku. Aku bercita-cita melakukan sesuatu yang tak mengeluarkan uang! Adakah?”
“Ada. Mencintaiku Lastri.” Mereka saling menoleh lalu saling mendekatkan bibir. Sementara itu, gedoran kuat terdengar dari pintu.
“Hey! Yang di dalam, Buka Pintu! Sudah tiga bulan kau menunggak uang sewa”Mereka tidak peduli.. Mereka saling mencintai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s