#30harimenulisFF #FF6 Laki-laki tua di lampu merah

Setiap sore kira-kira pukul lima, seorang laki-laki tua dan sepedanya berhenti sejenak di lampu merah. Kau yang senang berdiri di lampu merah sering melihat laki-laki tua itu. Mula-mula kau pikir dia hanya laki-laki tua biasa yg senang mengayuh sepeda sebagai  olahraga untuk kesehatan. Namun, karena sering melihat lelaki itu berhenti lama di lampu merah bahkan setiap hari membuatmu penasaran. Maka, hari ini kau mendekat ke arah laki-laki tua yg lagi-lagi berhenti di lampu merah.
“Mengapa kau d an sepedamu setiap hari berhenti di sini?” tanyamu. Laki-laki tua tak menjawab.
“Hei, Pak tua mengapa kau selalu berhenti  di sini setiap sore?” Kali ini kau berteriak dan laki-laki tua tetap tak menjawab malah mengayuh sepedanya dan berlalu. Betapa berangnya kau mendapati laki-laki tua itu tidak mengacuhkanmu.
Besoknya laki-laki tua kembali. Kali ini dia berhenti lama di lampu merah. Kau yang berang karena menyimpan dendam tak diacuhkan mendekat. Betapa terkejutnya kau melihat dia menangis.
“Hey Pak Tua kau baik-baik saja?” Seorang perempuan menghampiri laki-laki tua itu. Laki-laki tua itu menghapus air matanya.
“Hari ini 10 tahun lalu anak saya ditabrak di tempat ini.” Dan seketika semuanya  menjadi jelas bagimu. Ingatanmu kembali, kau dan ayahmu bersepeda mengelilingi kota dan saat kalian berhenti di lampu merah sebuah truck menghantammu dari belakang. Kau mulai menangis. Aku yg selalu mengawasimu segera mendekat dan memeluk pundakmu.
“Mari kita pergi dari sini, kau akhirnya sudah tahu mengapa kau mati.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s