Membaca Ayu Utami

image

                With Ayu Utami, 2013

Saya suka sok-sokkan jadi filsuf kalau habis membaca Novel Ayu Utami.. Ituloh jadi mempertanyakan segala sesuatu dan ujung-ujungnya jadi kepo banget . (Maafkan Saya Om Plato bukan maksud saya bilang dikau tukang kepo tapi emang iyakan filsuf itu tukang kepo :P)

Saya baca buku Ayu pertama kali, Saman pada tahun tahun 2008, waktu itu saya kuliah semester 1 dan masih cabe errr masih caem dan masih polos dan masih banyak yang naksir *halahh (benar man kalau kamu sudah menemukan orang yang tepat dan nyaman terkadang ada rasa iri karena ga bisa menikmati masa-masa ditaksir orang banyak hihihi)

Saya kagum sekali dengan beginning novel itu tentang perempuan yang ingin jadi burung dan sedang duduk di central park Newyork.. Di Saman saya berpikir banyak tentang bagaimana gereja memandang seksualitas, tentang perselingkuhan, tentang menjadi diri sendiri, huh Ayu Utami kasih banyak pesan moral tanpa harus berusaha keras menggurui pembaca.

Lalu di Larung saya berkenalan dengan Larung, aktivis muda yang ingin membunuh Neneknya, si penyihir yang kejam. Di sana juga ada sambungan kisah Saman dan akhirnya keduanya hilang ditelan bumi.

Kemudian ada Bilangan Fu, kisah Yudha dan kekasihnya Marja yang ketemu sama si cakep parang Jati. Lalu kemudian kisah Manjali dan Cakrabirawa kisah Marja dan Parang Jati yang saling suka hingga berciuman :O. Ada Lalita si vampire yang mengisap Yudha. Kemudian ada Pengakuan eks parasit lajang yang juga jadi buku favotiy saya sepanjang masa. 

Pas baca Pengakuan eks Parasait Lajang saya lagi-lagi jadi filsuf karena lagi-lagi mempertanyakan dan sok mikir kali ini tentang feminis dan derajat perempuan di gereja, sampai-sampai tanya ke teman saya yang ahlinya lebih dalam tentang feminist dan diakhiri dengan kesimpulan saya bukan feminist karena saya ga peduli kalau gerbong khusus kereta api untuk perempuan adalah bentuk pelecehan terhadap feminist dan yah sebenarnya saya juga ga peduli kalau anggota DPR semuanya laki-laki. Eks parasit lajang juga membuat saya menyadari lebih tentang Katolik dan betapa jauhnya saya dari Tuhan.

Kemudian tahun ini saya baca Maya. Membaca Maya mau tak mau mengembalikan ingatan saya pada Saman. Di Maya diceritakan kembali bagaimana pergolakan batin Saman dan tentang batu super semar alias batu yang bisa membuat Soeharto jadi presiden selamanya.. Di Maya bikin saya jadi mikir soal Indonesia sebelum reformasi saat rezim orde baru. Mereka yang kuliah di masa itu adalah orang-orang keren, tahukan mereka baca sastra yang bagus, mendengar musik yang bagus, dan serius menjalani hidup (meski hasilnya hampir semua yang dulu berjuang tahu 1998 dan sekarang banyak masuk penjara karena korupsi *ohpeople)

Pikiran itu makin menjadi kala banyak cabe-cabean dan terong-terongan makin banyak merajarela di jalanan persis macam jamur di musim hujan atau wabah flu.
FYI, Cabe itu adalah cewe ABG bisa di en**t iya parah banget kan? Nah, apakah kalau Soeharto sampai sekarang masih memimpin cabe-cabean masih ada? Kayanya memang benar kebeasan itu mengerikan kalau kita ga punya kontrol diri tetapi bukan berarti ditaktor juga bagus..
Yang pasti saya menyukai Ayu utami dan buku-bukunya dan pernah foto bareng sekali 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s