(Cerpen) Hamil

Malam telah larut, aku dan istriku Lastri tidur-tiduran di tampat tidur. Tak ada satupun dari kami yang mengantuk.

“Mas, aku benar-benar menginginkan seorang anak.” Lastri berkata pelan. Aku menatap wajah ayu wanita yang sudah lima tahun aku nikahi itu, ada pengharapan besar yang terpancar dari matanya yang bening indah.

“Kita sudah berusaha, Las. Kau dan aku tahu itu,” balasku sambil membelai lembut kepalanya yang bersandar di dadaku.

“Aku benar-benar menginginkan seorang anak, Mas,” kata Lastri lagi lebih pelan.

“Mungkin Tuhan belum ngasih, Las,” hiburku terus membelai  rambutnya.

“Kapan, Mas? Kita sudah semakin tua.” Lastri berkata lirih.

“Sabarlah, Las! Mungkin kita harus usaha lebih giat lagi.” Aku mencoba menghiburnya lagi . Lastri mengangkat kepala dari dadaku, dia bangkit dan berdiri.

“Kau mau ke mana, Las?” Tanyaku

“Ke kamar mandi, Mas. Kau benar kita harus berusaha lebih giat.” Lastri menghilang ke dalam kamar mandi meninggalkan aku yang menatap pintu kamar mandi yang tertutup dengan gamang.

Istriku Lastri benar-benar menginginkan seorang anak. Keinginan itu begitu kuat ketika kami memasuki tahun kelima pernikahan  kami bulan lalu. Berbagai cara telah dia coba: Dia belajar tentang posisi-posisi bercinta yang akan membuat sperma masuk ke dalam ovarium dengan baik. Dia juga meregangkan kakinya ke tembok sehabis bercinta dengan tujuan jalan sperma ke dalam ovarium lancar. Menghitung siklus haidnya dengan seksama dan bercinta dengan giat selama lima hari masa ovulasi. Lastri bahkan memaksa aku memakan kacang hijau dan minum susu kedele setiap hari. Entah dia tau dari mananya tapi katanya kacang-kacangan baik buat kesehatan sperma.

Sebagai suami aku mengerti keinginan Lastri yang ingin punya anak itu, Aku juga sejujurnya juga ingin punya anak tetapi, tidak semenggebu-gebu Lastri. Aku ingin punya anak tetapi tidak sekarang, mungkin dua tahun lagi atau mungkin tiga tahun lagi karena ketika aku punya anak, hubungan gelap yang ku jalani bersama Mira tentu akan berakhir. Bukan karena apa-apa, aku hanya ingin menjadi ayah yang baik saja.

Ahh, Mira! Beruntung aku masih punya dia.  Perempuan yang aku kenal setahun lalu itu membuat stres tentang Lastri yang terus-terusan minta anak itu hilang. Entah sejak kapan tetapi yang pasti aku sudah kurang menikmati rutinitas kasak kusuk dengan istriku, Lastri. Lastri benar-benar hanya ingin spermaku masuk ke dalam rahimnya itu saja tidak lebih. Berbeda dengan Mira, setidaknya aku merasakan bagaimana memberi dan diberi kenikmatan.

“Mas, gimana kalo kita periksa ke Dokter aja,”  usul Lastri ketika dia keluar dari kamar mandi. Aku menatapnya bingung.

“Untuk apa?” tanyaku sekenanya

“Untuk ngecek ada masalah atau tidak pada kita berdua.”
“Ga usah aja sih, Las. Kita nunggu saja mungkin Tuhan belum ngasih”

“Kita semakin tua, Mas. Aku tahun depan sudah tigapuluh tahun. Resiko kelahiran di usia itu cukup rentan. Aku pengenn punya anak secepat-cepatnya,” kata Lastri kemudian, dia begitu ngotot. Aku pandangi wajahnya bingung dan heran.
“Baiklah kita pergi hari Sabtu ini, Mas. Saat kau dan aku pulang dari kantor.” Lastri memutuskan. Ahh, rupanya aku telah kehilangan hak suara.

“Baiklah, terserah kau saja.” Kataku akhirnya.

“Ayo kita lakukan, Mas!” kata Lastri lagi, aku menatapnya lagi bingung

“Ayo kemana?”

“Yah bercintalah emangnya apalagi” Lastri mulai menanggalkan pakiannya satu per satu dan aku mulai membayangkan Mira

*

“Kamu kok sekarang suka murung ga jelas sih, Joko?” tanya Mira suatu sore. Kami berdua sedang baring-baring santai di Aperetement Mira yang sejuk.

“Aku pusing, Mir. Lastri terus saja merengek ingin punya anak.”

“Bukannya itu enak yah, Ko. Kau bermain terus dengan istrimu yang seksi itu,” ejek Mira.

“Aku capek, Mir. Lastri hanya ingin spermaku masuk kedalam rahimnya itu saja tak lebih.”

“Huh, kenapa kalo Lastri yang menginginkan spermamu di rahimnya kau ijinkan, sedangkan aku tidak”

“Dia istriku, Mir”

“Aku kekasihmu, Joko.”

“Kalo kamu hamil gimana?”

“Yah kau nikahi aku.”

“Aku sudah beristri, Mir.”

“Istrimu tak bisa memberimu anak, Joko,” kata Mira. Aku terdiam.

“Kami hanya belum mempunyai anak, Mir.”

“Sama sajalah. Dari pada mikirin Lastri, Mending kita bercinta saja, Ko!” kata Mira. Aku menatapnya tersenyum. Segera kuraih sebuah bungkusan dari atas meja.

“Ayolah! Jangan pakai kondom, untuk kali ini saja!” Lagi Mira meminta. Aku memandangnya dan mengalah, kuletakkan lagi bungkusan itu di atas meja.

“Baiklah!” kataku. Mira tersenyum senang.

*

Sabtu sore ini cerah, Aku dan Lastri istriku memasuki ruang pratek dokter kandungan. Dokter kandungan itu seorang pria berusia empatpuluhan tahun. Wajahnya menyenangkan dan selalu tersenyum. Dokter idaman semua ibu-ibu. Aku membayangkan sudah berapa alat kelamin yang dilihat oleh dokter ini. Nama dokter itu Budi.

“Selamat siang, Bu dan Bapak! Silahkan duduk!” Dokter Budi menyambut kami dengan ramah. Aku dan Lastri duduk di dua kursi di depan meja dokter itu.

“Bapak dan Ibu bisa perkenalkan nama? Semakin tahu nama semakin baik kan?” kata dokter Budi lagi.

“Nama saya Lastri dan ini suami saya Joko. “ Latri meperkenalkan kami.

“Baiklah, Joko dan Lastri. Apa yang saya bisa saya bantu?” tanya dokter itu kemudian.

“Kami ingin memeriksa kesuburan kami, Dok. Sudah lima tahun kami belum juga memiliki anak.” Kata lastri kemudian.

Dokter Budi tertawa. “Joko dan Lastri, itu baru lima tahun. Kenapa jadi paranoid begitu?” Katanya. Aku setuju dan berharap kata-kata itu menenangkan Lastri.

“Tetapi tak ada salahnya memeriksa kan, Dok? Biar tahu saja,” jawab Lastri kemudian. Dokter Budi manggut-manggut.

“Baiklah!” katanya kemudian. “Lastri silahkan tidur di ranjang itu!” Dokter Budi menunjukan sebuah tempat tidur putih. “ Dan kamu, Joko. Pegilah ke toilet dan isi botol kecil ini dengan spermamu!” Dokter budi menyerahkan sebuah botol kecil padaku. Aku terperangah mendengar kata-katanya. Mengisi botol ini dengan sperma? Untuk pertama kalinya dalam hidupku seseorang menyuruhku melakukan onani.
“Lakukan sekarang, Joko!” Perintah dokter Budi tegas. Aku mengangguk dan membawa botol kecil dan menuju ke kamar mandi.

Sepuluh menit di kamar mandi dan tidak juga terjadi apa-apa. Aku menjadi stres dan frustasi. Segala sesuatu yang dipaksakan memang tidak mengenakan. Di tengah keputusasaanku, aku menelpon Mira.
“Mir, tolong aku! Bikin aku ejakulasi,” kataku setelah mendengar Mira berkata halo sayang dari seberang.

“Hah?” tanya Mira bingung.

“Tolong, Mil! Katakan sesuatu yang membuatku turn on!” kataku memelas.

“Permintaanmu aneh, Joko.”

“Dokter menginginkan spermaku, Mira. Lakukanlah! Tolong aku!” Aku memohon.

“Baiklah!” Kata Mira akhirnya.

Aku kembali ke ruang dokter tiga puluh menit kemudian dengan sebuah botol berisi cairan putih kental. Lastri telah duduk di kursi di depan meja dokter. Dia rupanya telah selesai.

“Lama amat, Mas?” Tanya Lastri. Aku hanya tersenyum paksa.

Dokter Budi tertawa “Baiklah, bisa Anda taruh botol itu di meja ini.” Perintahnya kemudian. Aku segera menaruh botol kecil itu di meja dan duduk di kursi di samping Lastri.

“Hasilnya akan keluar dua jam lagi. Silahkan kalian berdua menunggu.” Aku dan Lastri mengangguk.

Dua jam kemudian kami telah kembali duduk di ruang pratek dokter Budi. Wajah dokter itu berubah serius.

“Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan kalian berdua,” katanyanya serius. Aku merasakan Lastri tegang. Dia memegang tanganku erat.

“Katakanlah, Dok! Kami siap mendengar.” Jawabku.

“Lastri, Rahimmu sehat. Begitupun ovariummu. Semuanya sehat.” Dokter Budi berkata lagi. Aku merasakan ketegangan Lastri menurun.

“Dan kau, Joko.” Dokter Budi mengehla napas sebentar. “Ada masalah dengan spermamu” Kata-kata dokter itu membuat aku terkejut setengah mati.

“Maksud dokter?” Tanyaku antara terkejut, bingung dan sedih.

“Spermamu tidak mampu membuahi sel telur Lastri, Joko.” Kata dokter Budi. Sungguh aku merasa sangat kecewa dan sedih.

“Maksud dokter suami saya mandul?” tanya Lastri tak kalah kecewa dan sedih. Wajahnya terperangah.

“Di dalam sel sperma manusia terdapat mitokondria yang berfungsi untuk menggerakan sperma. Mitokondira sel spermamu lemah, Joko. Jadi pergerakan sel spermamu kurang aktif. Sel telur berada di tuba valupi, untuk bisa terjadi pembuahan sel sperma harus bertemu sel ovum di sana dan terjadilah pembuahan. Tetapi, spermamu tidak mampu bergerak sampai di tuba valopi. Sel spermamu hanya bergerak sampai ke didinding rahim dan mati di sana. Rata-rata sperma hanya hidup selama 48 jam jika ditempatkan dalam vagina wanita. Tetapi sel spermamu hanya bertahan 24 jam. Sel spermamu lemah, Joko.”Jelas dokter Budi yang membuatku merasa tak berguna sebagai laki-laki.

“Tetapi suami saya mengalami ereksi, Dok. Bagaimana mungkin dia mandul?” Tanya lastri kemudian. Wajahnya masih menunjukan ketidak percayaan dan ketidak terimaan.

“Lastri, ereksi dan tidak ereksi sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesehatan sperma. Sel spermamu suamimu yang lemah.” Jelas Dokter lagi. Lastri mengerti dan terdiam. Aku menyimak penjelasan dokter dalam diam. Mandul! Sungguh kata-kata itu meruntuhkan semua harga diriku sebagai laki-laki.

Kami terdiam selama perjalanan pulang ke rumah. Aku menyetir mobilku dalam kegalaun dan kepasraan. Sampai di rumah kami masih juga terdiam. Masuk ke kamar tanpa kata-kata.

“Maafkan aku, Las. Aku tidak bisa memberikanmu anak. Kalau kau mau, aku siap kau ceraikan.” Kataku kemudian tak tahan dengan sepi yang mengrogoti kami. Lastri menatapku marah.

“Aku mencintaimu, Mas. Bagaimana mungkin kau berpikiran seperti itu?”

“Aku mandul, Las. Aku tak bisa memberikanmu anak. Bukankah kau sangat menginiginkan seorang anak?”

“Kita bisa mengadopsi anakkan, Mas?” Aku terpana mendengar perkataan Lastri. Kutatap wajahnya dan mendapati matanya menatapku penuh cinta. Seketika aku menangis.

“Maafkan aku, Las.” Aku memeluk istriku erat, Seketika peraan bersalah mengkhianatinya muncul. Aku harus mengakhiri hubunganku dengan Mira.

*

“Kita akhiri sampai di sini hubungan kita, Mir” Aku dan Mira bertemu di sebuah Restaurant. Aku segera menelpon Mira keesokan harinya setelah aku dan Lastri mengunjungi dokter kandungan. Yah, makin cepat makin baik.

Mira memandangku terperangah. “Kenapa, Mas?” Tanyanya Marah.

“Aku tidak sanggup lagi mengkhianati Lastri. Dia mencintaiku”

“Katamu Lastri menjengkelkan. Katamu kau tak lagi menikmati bercinta dengan Lastri. Katamu kau mencintaiku.”

“Aku ingin kita berpisah, Mir.”

“Tidak bisa, Joko!”

“Ayolah, Mir! Jangan membiarkan aku memaksamu untuk pergi. Akan kuberikan apapun yang kau minta. Asalkan Kau pergi dari hidupku!”

“Tidak bisa, Joko. Aku hamil. Sudah dua mingggu aku mengandung anakmu.” Kata Mira membuatku terperangah. Kutatap mata perempuan itu lekat, ada ambisi di sana. Ambisi untuk menguasaiku. Aku bergidik.
TAMAT

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s