(Kisah Lastri dan Joko) Pertemuan versi Joko

Rindu diam-diam menyusup dari puisi ke bibirnya. Menanti kecupan.

Aku yakin, sejak pertama kali bertemu Lastri, bibir perempuan itu telah diam-diam merindu kecupanku. Kami bertemu pertama kali di Bandara international Doha, Quatar. Sama-sama ingin pulang ke Indonesia.
Dia duduk di ruang tunggu bandara, tepat di sampingku sambil membaca Moveable Fiesta, karangan Hemingway.

“Suka Hemingway?” Aku membuka percakapan. Dia mengalihkan pandangannya dari buku tersebut dan memandangku. Aku terperangan, Dia tampak menawan. Mataku mau tak mau mencuri padang ke buah dadanya ; besar dan bulat seperti kepala bayi baru lahir, yang membusung dari balik gaun toksa tanpa lengan.
Lastri menjilat bibirnya, membangkitkan hasrat di dalam diriku untuk menerjang dan melumat sampai bibir itu tak mampu untuk menjilat lagi.

“Hemingway itu seksi. Siapa orang bodoh yang tak menyukainya?” Dia tersenyum, lagi-lagi gerakan bibirnya membuatku mabuk.

“Moveable Fiesta bagus. Di buku itu Hemingway masih muda, 30an tahun bukan? Dia pengkritik yang kejam.” Lastri tersenyum memandangku.

“Terima kasih atas review singkatmu tentang buku ini. Bagaimana kalau kau tahan sampai aku menyelesaikannya? Aku baru sampai di halaman 12.”

“Maafkan, aku. Aku takjub mendapati seorang perempuan Indonesia membaca buku karangan penulis amerika tentang paris di timur tengah,” ujarku. Lastri tertawa. Tawanya renyah dan seksi.

“Aku Lastri!” Dia mengulurkan tangan. Segera kusambut hangat.

“Joko!” Jawabku. Kebetulan yg kedua adalah, tempat duduk kami bersebrangan di pesawat terbang.

“Apa pekerjaanmu, Joko?” tanya Lastri setelah 3 jam kami berbincang panjang lebar di udara. Waktu menunjukkan pukul 3 pagi, kabin pesawat gelap, penumpang lain tertidur. Pramugari tidak terlihat mondar-mandir lagi. Buku Hemingway dia simpan entah dimana.

“Aku seorang wartawan. Ada konferensi wartawan di Doha. Aku diutus kantorku ke sini.”

“Kalau kau, apa yang kau lakukan?”

“Kalau kau tahu apa pekerjaanku maka aku akan membunuhmu!”

“Jadi kau berlagak seperti Penelope Cruz di Vanila sky?” tanyaku. Lastri tertawa. Dia menjilat bibirnya lagi. Entah yg keberapa hari ini dan masih berhasil membuatku panas dingin.

“Bisakah kau tidak menjilat bibirmu?” tanyaku parau. Lastri mendekatkan bibirnya ke arahku.

“Apa yg kau lakukan kalau aku menjilat bibirku?” Dia menjilat bibirnya. Dengan sigap kutarik dagunya dengan jariku dan menghujam bibirnya dengan lumatan liar. Kami saling melumat untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia melepaskan ciuaman kami yg panas.

“Joko, ayo kita lakukan!” Matanya menatapku lalu toilet. Kami mengendap-ngendap menuju toilet pesawat.
***
Aku dibangunkan oleh seorang pramugari. Aku mengucek-ngucek mata dan mendapati pesawatku telah mendarat. Seluruh tubuhku remuk redam. Aku terkenang pengalaman luar biasa bersama Lastri di dalam pesawat tadi pagi.

“Pak sudah sampai… Anda baik2 saja kan?” ujar pramugari cantik itu. Aku menoleh ke samping, Lastri tak ada.

“Apa kau melihat perempuan di sampingku?” tanyaku.

“Dia sudah pergi tadi.” Aku terperanjat. Kesadaranku kembali seratus persen.

“Pergi? Kemana?” Pramugari itu menggeleng. Aku mendesah. Seluruh tubuhku kaku. Mengapa Lastri pergi begitu saja? Mengapa dia tidak mengijinkanku mengenalnya lebih jauh? Apakah kami akan bertemu kembali?

****

Kembali adalah materai barangkali
Yang mengikat dua jiwa
Memabukkan hati
Membuat absurd masa depan atau masa lalu..

Bersambung….

Advertisements

3 thoughts on “(Kisah Lastri dan Joko) Pertemuan versi Joko

  1. Pingback: (Kisah Joko dan Lastri) Pertemuan versi Lastri | Ajen's Idea

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s