Black Memoar : Mengapa Saya Meniduri 100 laki-laki… (part 1)

Permulaan..

Saya bertemu Arlene Putri Bintang, medio april 2012.. Senyum lebar terpatri di wajahnya yang pucat saat itu.

“Kamu pasti Joko?” ujarnya lirih. Aku mengangguk. Dia menarik napasnya berat. Selang oksigen di hidungnya membuat menarik napas adalah pekerjaan tersulit di dunia.

“Kamu mau cerita saya dari mana, Ko?”

“Dari kecil, Mbak…. Apa yang membuat mbak akhirnya tidur dengan begitu banyak pria?” dia terkekeh..

“100 pria Joko. Hanya 100 pria. Akan kuceritakan pria-pria itu secara acak. Apakah kau akan tahan mendenagr kisahku? Ah Joko waktuku tak lama.. Tak lama lagi..” Dia memandang langit kamar rumah sakit.

“Saya punya banyak waktu untuk mendengar Mbak..”

“Baiklah, siapkan pena dan kertas. Aku ingin kisahku jadi novel yang bagus. Sangat bagus..

CERITA 1 : Laki-laki ke 39

Napas Arlene memburu. Tubuh telanjangnya bergerak teratur di atas tubuh sorang laki-laki. Sementara itu, mulutnya melumat mulut laki-laki itu dengan buas, seperti singa betina memangsa anak rusa setelah tiga hari kelaparan di padang rumput, tak menyisakan apapun selain tulang-belulang. Laki-laki itu terus mengelus-ngelus punggung Arlene, merasakan sensasi luar biasa yang ditimbulkan gerakan dan lenguhan mahkluk mempesona di atas tubuhnya. Gerakan mereka semakin cepat dan liar, bergantian di atas dan di bawah hingga akhirnya laki-laki itu mengerang kuat dan membenamkan kuku-kuku jarinya di punggung Arlene.

“Ahhh, kau memang hebat,” ujar laki-laki itu di sela-sela desahannya. Dia memindahkan tubuh Arlenen ke sampingnya tubuhnya lalu berbaring terlentang memejamkan mata menikmati sensasi nikmat. Mata Arlene memicing dan melongo memandang laki-laki itu.

“Yang benar saja? Ayo lakukan lagi!” Arlene memeluk tubuh laki-laki itu. Mengusap perut dan terus ke arah selangkangan laki-laki itu.

“Hentikan, Arlene! Sudah empat kali dan aku lelah.” Laki-laki itu menepis tangan Arlene. Sebongkah amarah menyesap masuk memenuhi rongga dada Arlene.

“Sudah empat kali katamu. Tapi, benda sialan yang menempel di selangkanganmu itu sama sekali belum mampu memuaskanku.” Dengan gusar perempuan itu bangkit dari tempat tidur dan meraih pakian dalam dan bajunya yang berserakan di lantai kamar hotel. Laki-laki itu menatap tubuh sintal Arlene yang mulai tertutupi baju satu persatu. Seluruh tubuhnya lelah terutama lututnya.

“Kau gila, Arlene. Kita sudah melakukan empat kali dan kurasa spermaku sudah kering,” Nada suara laki-laki itu masih terdengar lemah. Arlene menatap laki-laki itu sengit, bara api meletup dari mata cokelat tanahnya. Dia telah memakai seluruh bajunya sekarang dan memandang jijik tubuh laki-laki di depannya. Wajah tampan dan dada bidang laki-laki itu berubah menjadi sampah tak beguna akibat ketidak perkasaannya. Empat kali dia membuat laki-laki sialan ini melenguh dan tak sedetikpun laki-laki itu berhasil membuatnya mengernyit nikmat.

“Terserahlah!” Arlene mengancing kancing terakhir di kemejanya. “Aku benci pada laki-laki lemah syawat sepertimu. Jangan pernah menghubungiku lagi atau kukatakan pada istrimu semua tentang kita,” ujarnya meraih tasnya.

“Laki-laki mana yang bisa mengimbangi nafsumu yang mengerikan itu, Arlene.” Laki-laki itu mencoba duduk dengan sisa tenanganya yang terkuras habis. Dia merasa seluruh ototnya lemas setelah bergumul hampir tiga jam bersama perempuan cantik di depannya itu. Namun, perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan kelelahan dan kelegaan. Dia yakin ada yang salah dengan Arlene.

“Ah terserah kau saja! Aku ingin pergi dari sini!” Mata cokelat Arlene menyala-nyala penuh amarah. Laki-laki itu menarik napas. Dia tahu kalau Arlene pergi hari ini, permepuan itu takkan kembali.

“Ayolah, Arlene. Jangan marah padaku! Sekarang sudah jam dua dini hari, tinggalah sampai subuh.” Laki-laki itu coba membujuk. Alene mencibir. Sampai subuh? Dia ogah tertidur di samping laki-laki sialan yang tak mampu memuaskan hasratnya. Dengan sigap dia meraih tasnya di atas meja di samping tempat tidur dan meraih dompet laki-laki itu yang terletak dekat tasnya. Dia merogoh berapa lembar ratusan ribu. Si laki-laki pasrah saja melihat hal itu.

“Ini!” Dia mengankat lembaran uang itu tinggi-tinggi. “Anggap saja sebagai bayaran karena kau tak mampu memuaskanku,” ujarnya membuang dompet laki-laki itu ke tempat tidur dan lalu melangkah keluar kamar. Tidak lupa dia membanting pintu kamar hotel itu dengan keras. Di luar kamar perempuan itu mendesah tak puas. Dia meraih tasnya dan mengambil sebuah notes hitam. Dia membolak-alikkan halaman notes itu hingga menemukan lembaran kosong.

“Laki-laki nomor 39 payah, carilah laki-laki ke 40 yang lebih kekar.” Tulisnya singkat. Seharusnya dia tahu bahwa bertemu laki-laki cia facebook sama sekali tidak menyenangkan. Mereka hanya jago mengumbar kata-kata mesum tetapi susah lama di tempat tidur. Kemampuan seksual seorang pria berbanding terbalik dengan mulutnya. Kalau dia sering mengucapkan kata mesum, berarti kemampuan di tempat tidurnya nihil. Dia tidak akan menjaring pria dari facebook lagi.

***
Bersambung

Senin depan kisah dengan laki-laki ke 13.

Advertisements

6 thoughts on “Black Memoar : Mengapa Saya Meniduri 100 laki-laki… (part 1)

  1. Apa aku boleh komentar? Maaf meskipun kuakui ini tulisan keren, tp detailnya masih kurang entahlah. Sekilas, klo boleh kubandingkan dg adegan Zarah yg melepas keperawanannya (Novel : Partikel) di sana DEE menulis detail yg begitu PECAHKAN IMAJINASI LIAR. (ohya, jelaslah beda… buat Arlene bukan yg pertama sih ya, tp yg ke-39) Kunantikan lanjutannya…

    Klo boleh saran, kenapa tak kau buat ending yg memicu penasaran pembaca klo ini bersambung. hehe.

    • Makasih komennya Jun.. soal detail aku memang kurangi..
      Aku lebih fokus ke bagaimana pengalaman arlenennya..
      Soal clue ini bersambung aku sih percaya aja orang bakalan penasaran secara 100orang gitulah hahaha..
      Makasih sudah singgah yah

      • Ohhh maaf komennya dobel. Submit sekali tak muncul. Submit dua kali pun sama. Ternyata dua2nya berhasil. Oh iya yah, secara tdk langsung saya menunjukan rasa penasaran saya. Pelajaran baru nih, mmg klo jd penulis harus jd diri sendiri ya, ga harus jd spt dee, atau tere liye. Tp tak ada yg larang to saya ingin sekeren ngana, Ajen Angelina #eh. Sukses terus ya!

      • Ahahahahah dan diriku membalas komentar mu dua kalii…
        Iyaa awalnya ikuti mereka dan sampai satu titik kita ketemu ciri khas kita :b

  2. Apa aku boleh komentar? Maaf meskipun kuakui ini tulisan keren, tp detailnya masih kurang entahlah. Sekilas, klo boleh kubandingkan dg adegan Zarah yg melepas keperawanannya (Novel : Partikel) di sana DEE menulis detail yg begitu PECAHKAN IMAJINASI LIAR. (ohya, jelaslah beda… buat Arlene bukan yg pertama sih ya, tp yg ke-39) Kunantikan lanjutannya…

    Klo boleh saran, kenapa tak kau buat ending yg memicu penasaran pembaca klo ini bersambung. hehe.

    maaf, jelaslah aku takkan bs menulis cerita sekeren ini. Aku cuma bisa berkomentar.

    salam

    • Ahahahahaha makasih Jun..
      Apapun yg sudah di post di blog ini adalah milik pembaca jadii pembaca punya hak untuk berkomentar apapun..
      Semua saran dan masukanmu aku terima dan akan membuat cerita lebih baik lagii nanti.. ayolah dirimu bisa menulis lebih keren dari ini asal TULIS.. nulis yuks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s