Kisah Karma

Sejak dahulu saya merasa bahwa mama saya tidak pernah mencintai saya. Dia tidak pernah membangunkan saya di pagi hari. Dia tidak pernah membuatkan saya sarapan. Dia tidak pernah menyiapkan baju seragam untuk saya. Dia tidak pernah menyambut saya ketika saya pulang sekolah. Dia tidak pernah membacakan saya dongeng sebelum tidur. Dia bahkan jarang sekali berbicara dengan saya. Semua yang melakukan tugas-tugas itu adalah Bi Lala perempuan tua yang menjaga saya sejak kecil. Saya memang jarang sekali bertemu mama. Dia selalu pergi kerja saat saya belum bangun dan pulang saat saya sudah tidur. Kata Bi Lala mama saya seorang manajer perusahan, meski saya tidak begtiu tahu apa arti kata manajer itu yang pasti sepertinya itu pekerjaan yang bagus.

“Mama Non bukanya tak sayang sama Non. Mama Non sibuk dia sering ke luar kota bahkan ke luar negeri.” Begitu kata Bi Lala ketika saya menyampaikan perasaan tentang mama saya tidak menyayangi saya itu.

“Apa yang mama lakukan, Bi? Apa yang mama lakukan malam-malam?” Tanya saya kemudian.

“Mama Non bekerja mencari duit untuk Non.” Kata Bi Lala. Saya berpikir sebentar.

“Kenapa duit mesti dicari. Bi? Siapa yang menyembunyikanya? Bukankah mama sudah punya banyak uang” Kata saya kemudian. Bi Lala tidak menjawab. Dia hanya menatap saya sebentar dan segera beranjak ke dapur meninggalkan saya yang tidak puas. Sungguh saya marah kepada siapa saja yang menyembunyikan uang itu, gara-gara dia mama saya tidak pernah ada di rumah.

***

“Kalian tahu gak siapa yang menyembunyikan uang” Saya bertanya kepada Diko, Chika dan Riri teman-teman sekelas saya. Kami sedang istirahat setelah mengikuti pelajaran matematika yang sulit. Pelajaran di kelas dua lebih mudah daripada pelajaran di kelas tiga. Di kelas tiga kami banyak menghitung angka-angka ratusan dan bahkan tadi ibu guru menerangkan tentang perkalian.

“Aku gak tahu! Aku dikasih uang sama mama dan papaku” Kata Diko.

“Memangnya kenapa kau bertanya begitu?” Tanya Chika.

“Kata Bi Lala, mamaku pulang malam terus karena dia mencari uang. Kalau mencari uang berarti ada yang menyembunyikan uang itukan?” Kata saya.

“Kalau di rumahku yang mencari uang adalah papa sedangkan mama tinggal di rumah dan memasak.” Kata Riri kemudian. Saya terdiam lama. Sejak kecil Saya tidak pernah mengenal siapa sosok papa saya. Dari Bi Lala saya tahu bahwa Papa saya sudah meninggal, bahkan sebelum saya dilahirkan di dunia ini.

“Berarti yang salah bukan penyembunyikan uang dong. Yang salah adalah yang membuat papa saya meninggal.” Kata saya kemudian. Ketiga sahabat saya tampak bingung. Bersamaan itu bel masuk kelas berbunyi. Lalu kami segera berlari masuk ke dalam kelas. Di kelas Bu Ana guru bahasa indonesia sudah menunggu.

“Selamat siang anak-anak!” Katanya

“Selamat siang, Bu guru.”

“Ibu punya tugas untuk kalian. Kalian coba tanyakan kepada orang tua kalian, apa arti dari nama kalian. Besok kalian akan bercerita satu persatu di depan kelas apa nama kalian. Besok ibu tunggu yah,” kata Bu Anna dan saya merasa saya sedang dalam masalah besar. Mengapa saya berkata ini adalah masalah besar? Yang pertama saya tidak mempunyai papa. Yang kedua mama saya sibuk kami jarang bertemu-saya sangsi Bi Lala mengetahui arti nama saya. Yang ketiga, saya sendiri merasa nama saya aneh. Kalau teman-teman saya yang lain bernama Riri, Diko, Chiko dan sebagainya yang terdengar indah maka saya bernama Karma. Nama yang aneh bukan. Saya sungguh tak tahu apa arti Karma itu, saya berharap itu mempunyai arti yang baik. Maka saya pun bertekad tidak tidur malam ini. Saya akan menunggu Mama pulang, demi mencari tahu arti dari nama saya.

***

Malam itu saya tidak tidur, Saya menunggu Mama saya pulang di ruang tamu. Bi Lala ikut menunggu bersama saya. Perempuan tua itu tampak cemas dengan keadaan saya.

“Sudahlah Non Karma, ga usah tunggu.” Katanya

“Saya gak mau, Bi! Saya harus tahu apakah arti nama saya?” Kata saya. Bi Lala terdiam, dia menatap saya dengan pandangan kasihan. Beberapa lama kemudian, Mama saya akhirnya pulang. Dia tampak kaget melihat saya belum tidur.

“Lala, kenapa anak ini belum tidur?” Tanyanya marah. Bi lala tampak ketakutan.

“Dia ingin menunggu nyonya.” Kata Bi Lala.

“Sudah suruh dia tidur!” Kata mama lalu melangkah menuju ke kamarnya. Saya berlari menghampirinya.

“Saya ada PR dari sekolah, Ma.” Kata saya. Mama saya menatap saya jengkel.

“PR apa? Kau bisa bertanya pada Lala. Sudah jangan ganggu saya. Saya sibuk” Kaata mama ketus.

“Tetapi PR ini hanya mama yang bisa jawab. Bi Lala gak tahu.” Kata saya. Mama berlutut sehingga mata kami beradu pandang, ada sinar kekesalan di matanya. Diamencengkram bahu saya.

“Saya tidak suka diganggu dan saya tidak peduli tentang Prmu itu anak sialan.” Kata mama marah. Anak sialan? Apa itu? Tiba-tiba saya ketakutan setngah mati.

“Saya hanya ingin tahu arti nama saya, Ma. Itu PR bahasa Indonesia, Mengapa saya diberi nama Karma?” Kata saya. Mama saya bertambah marah, matanya berubah merah. Dia mencengkram bahu saya lebih kuat.

“Mengapa kamu bertanya arti namanu, anak sialan? Mengapa? Tidak cukupkah derita yang kutanggung selama delapan tahun kau hidup di dunia ini?” Kata mama. Dia terlihat sangat marah.

“Jangan Nyonya!” Kata Bi Lala. Mama menatapnya marah.

“Pergi kau! Aku ingin berdua saja dengan anak sialan ini.” Kata Mama. Bi Lala memandang saya penuh Iba tetapi kemudian pergi dari ruang tamu.

“Dengar anak sialan. Kau tahu kenapa aku tidak pernah ingin melihatmu di rumah ini? Kau tahu kenapa aku selalu pulang saat kau tidur dan pergi saat kau ke sekolah. Karena aku tidak menyukaimu. Kau adalah karma! Karena kau adalah aib” bentaknya membuat saya ketakutan.

“Mama aku…”

“Diam! Jangan sekali-kali menyebut aku mamamu. Aku tidak sudi sungguh tidak sudi! Delapan tahun aku berusaha akrab denganmu. Delapan tahun aku berusaha tabah dan menerimamu. Aku tidak bisa! Sungguh tidak bisa! Setiap melihatmu aib yang terjadi delapan tahun itu terus muncul dibenakku. Seharusnya kugugurkan saja kau dahulu.” Bentak Mama ldia lalu melepaskan cengkramannya dariku dan berdiri.

“Jangan pernah bertanya lagi apa arti namamu.” Mam menunjuk kepadaku “Namamu itu selalu mengingatkau kepada empat lelaki bajingan yang menaruh benih dalam rahimku. Empat lelaki kotor yang mengambil kesucianku. Empat lelaki brengsek yang meninggalkan karma yaitu kau di dalam hidupku.” Bentak Mama lagi. Aku terdiam air mata bercucuran di wajahku.

“ Dan jangan pernah berpikir untuk menunggu aku pulang ke rumah ini lagi. Masih untung kau kupelihara dan tinggal di rumahku. Dengar anak sialan, aku tidak ingin melihat kau lagi apalagi bertanya tentang namamu itu!” Bentak Mama lagi lalu mencampakan saya ke lantai sebelum beranjak dan masuk ke kamarnya. Bi Lala segera datang memelukku saat Mama telah masuk ke kamarnya. Saya menangis ketakutan di pelukan Bi Lala.

Keesokanya di sekolah saat saya berdiri di depan kelas saat pelajaran bahasa Indonesia. Saya berkata kepada teman-teman saya:

“Nama saya Karma karena saya memiliki empat orang ayah.”

Tamat

Depok, 16 Febuari 2012 1.06Am

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s