Luka Lula

Lula bertanya kepada Bayu,

“Kak, apakah Mama akan mencari kita?” Bayu menatap gadis kecil itu lembut dan mengelus rambutnya.

“Tenang sayang, Mamamu tidak akan mencari kita,”  kata Bayu. Mereka duduk berhadapan di tempat tidur. Sudah dua hari mereka berdua meninggalkan kota kecil mereka. Sudah dua hari pula, mereka berada di kamar wisma kecil jauh di kota tetangga.

“Lula takut, Kak. Kalau Mama sampai menemukan kita. Dia mungkin akan membunuh kita”

“Tenang, Sayang! Semua akan baik-baik saja” Bayu meraih Lula ke dalam pelukannya.

“Sakittttt” rintih Lula, ketika tanpa sadar Bayu menyentuh punggung Lula.

“Maaf Sayang” Bayu segera mengusap-ngusap punggung Lula. “Lukanya masih sakit?” tanyanya kemudian. Lula mengangguk

“Sini, Kakak obati” Bayu meraih larutan kapas dan botol obat merah dari meja di samping tempat tidur. Membuka baju Lula dan kembali ngeri melihat beberapa goresan luka  melintang di punggung Lula yang kecil. Dengan lembut Bayu mengusap kapas yang telah dicelup ke dalam obat merah ke goresan luka yang diciptakan silet itu.

“Kakak, apakah Kakak menyayangi Lula?” tanya Lula kemudian setelah lukanya selesai dioles. Bayu menatap Lula lama.

“Aku mencintaimu Lula”

***

Bayu tidak pernah tahu pasti, mengapa dia tidak begitu tertarik dengan wanita dewasa? Payudara besar dan pantat berisi sama sekali tidak membuatnya ereksi. Bagi Bayu payudara dan pantat perempuan dewasa sama seperti organ tubuh manusia yang lain, sama seperti tangan, kaki atau leher. Sungguh Bayu tidak homo. Sebagai laki-laki dia mencintai perempuan. Lebih tepatnya anak perempuan. Bayu lebih bernafsu melihat kecerian anak perempuan berusia delapan sampai tigabelas tahun daripada kegenitan manja wanita dewasa, Bayu lebih terangsang ketika tangan atau kaki kecil gadis kecil itu melangkah riang daripada lengokan manja perempuan dewasa. Bayu lebih  ingin mengecup bibir mereka yang mungil daripada bibir perempuan dewasa yang sensual. Bayu lebih mendambakan dada meraka yang rata. Entah mengapa, Bayu lebih tertarik pada mereka yang berusia lebih muda. Dia menyadari kelainanku ini saat duduk di kelas tiga SMA, saat teman-temannya yang lain menganggumi Angelina Jolie, Megan Fox atau Julia Perez Bayu mengagummi Dakota Fanning. Hal itulah yang akhirnya membuat dia masih melajang padahal usia telah menginjak tahun ke duapuluh lima. Dan Lula gadis kecil itu adalah cinta sejati dan belahan jiwa Bayu.

Lula anak yang cantik, sangat cantik. Umurnya duabelas tahun, duduk di kelas enam SD. Wajahnya putih, hidungnya mancung, bibirnya mungil, tipis merah merekah, rambut sebahunya yang dipotong model bob membingaki wajahnya yang panjang. Lula gadis tercantik yang pernah diingat Bayu. Bayu sudah mengenal Lula selama kurang lebih satu tahun ini.Saat pertama kali melihatnya, Bayu merasakan dunianya berhenti, jantungnya berdetak lebih cepat, darahnya berdesir dan bayang mungil wajah lula seolah tak pernah hilang  dari ingatan. Bayu mencintai anak itu saat pertama kali  melihatnya. Saat  dia pindah ke rumah kontrakan di samping rumah Lula. Lula tinggal bersama ibunya yang seorang janda.

Setiap sore, setalah pulang sekolah, Lula selalu duduk di teras rumahnya, membaca buku cerita. Bayu yang selalu memperhatikannya, suatu sore menghampirinya.

“Sendirian saja, De?” tanya Bayu manis. Lula memandangnya takut. Bayu tersenyum

“Kakak, rumahnya di samping itu” Bayu menunjukkan rumahnya. “Baru pindah kesini seminggu lalu” jelasnya lagi.

“Kata mama, Lula ga boleh ngomong sama orang asing”

“Kitakan tetangga, bukan orang asing”

“Nanti Lula disileti Mama”

Bayu terperanjat.

“Apakah kamu sering diseliti?” Lula mengangguk. Dia menunjukan tanganya ada gores panjang di situ. “Ini karena Lula makan ga cuci tangan”.

Dia menunjukann kakinya ada juga goresan panjang di situ. “Ini karena Lula ga cuci kaki sebelum tidur”

Bayu menatap gadis itu Sedih. Ibunya pastilah perempuan gila

***

“Kak, apakah kau yakin kita akan baik-baik saja?” Lula bertanya. Matanya yang hitam menatap Bayu dalam. Kali ini dia duduk dalam dekapan Bayu. Suara kendaraan terdengar lalu-lalang dari luar kamar wisma kecil tempat mereka tinggal dua hari ini.

“Tenang saja sayang, Kakak akan selalu menjagamu”

“Kakak, Lula takut” Lula mempererat pelukannya. Sesuatu dalam diri Bayu mengeras. Dia kecup dahi Lula Lembut.

“Kakak”

“Iya Lula”

“Apakah kakak mencintai Lula?”

“Aku sangat mencintaimu Lula”

***

Dari hari ke hari  Bayu dan Lula semakin akrab. Setiap sore Bayu selalu bertandang ke rumah Lula. Menemani gadis kecil itu bermain di rumahnya sehabis dia pulang sekolah. Ibu Lula selalu pergi jam tujuh pagi dan kembali  jam dua belas malam. Ibu Lula bekerja sebagai pelayan di sebuah klub malam yang terletak di pusat kota.

“Mama selalu pulang membawa botol minuman yang di botolnya ditulis Jack Daniel” kata Lula ketika Bayu bertanya tentang kebiasaan Ibu Lula.

“Kak, tadi malam Mama melakukannya lagi”

“Melakukan apa sayang?”

Lula membuka bajunya ada goresan melintang di punggungnya

“Dengan silet lagi?”

Lula mengangguk. Setiap mabuk, ibu Lula pasti melukai Lula dengan Silet.

“Biar kaka obati pake ini yah” Bayu menunjukan sebuah botol obat merah. Lula mengangguk lagi

***

“Kak, kau tahu kurasa Mama tidak akan mencari kita” kata Lula. Dia bersandar di dada Bayu. Bayu memeluknya erat dan hati-hati jangan sampai punggung Lula tersentuh Lagi.

“Iya Sayang, kamu tidur yah”

Lula mencoba memejamkan mata. Mencoba tertidur.

“Mama ga akan ganggu Lula lagi” batinnya dalam hati

***

“Lulaaaaaaaaaaa, dimana kau anak sialan?” Lula gementar. Ibunya sudah pulang dia duduk memeluk lutut di tempat tidurnya.

“Di sini kau rupanya anak Setan” Ibunya tiba-tiba muncul ke dalam kamarnya. Tangan ibunya memegang silet. Bau alkohol tercium dari mulutnya.

“Sini kau anak sialan” Ibu Lula berteriak marah. Dia mendekat ke arah Lula.

“Mama jangann” Lula terisak waktu ibunya mulai mengoreskan silet di punggungnya

“Diam kau anak sialan. Diam kau anak setan. Salahmu begitu mirip dengan Papamu Lelaki jahanam yang telah pergi begitu saja meninggalkanmu”

“Mama Jangan” Lula menangis  semakin keras.

***

Lula telah tertidur lelap. Bayu membaringkannya di atas tempat tidur. Diliriknya jam di dinding kamar wisma itu. Pukul tiga siang, Bayu lapar. Dipandanginya Lula sejenak. Tak masalah kalau dia pergi sebentar membeli makanan ke luar wisma. Dikecupnya dahi gadis kecil yang sangat dicintainya itu sebelum pergi.

Bayu melangkah keluar wisma dengan langkah santai. Di sudut jalan beberapa meter dari wisma, dia melihat sebuah warung. Bayu melangkah memasuki warung itu.  Pikirannya dipenuhi oleh Lula. Dua hari yang lalu, pukul satu pagi Lula mengetuk pintu rumahnya

“Kakak, bawa Lula pergi. Mama akan membunuh Lula” Lula terisak. Punggung bajunya robek. Bayu melihat banyak goresan luka akibat silet di situ.

“Kenapa Lula?”

“Kakak, bawa Lula pergi dari sini sekarang juga” Lula terisak. Tubuhnya gementar dalam pelukan Bayu.

“Bawa Lula pergi jauhh Kak. Lula takut Mama” isaknya lagi.

“Mau beli apa , Mas?” Penjual warung mengagetkannya. Bayu mengamati menu yang ada

“Nasi  dan soto ayam yah, Bang” katanya kemudian.

“Pemirsa, seorang perempuan bernama Suryati ditemukan tewas menggenaskan di rumahnya di kabupaten X. Polisi mengatakan perempuan itu meninggal akibat pendarahan, karena kepalanya terluka dipukul dengan botol. Polisi belum menemukan pembunuhnya. Berikut laporan keseluruhannya” suara seorang pembaca berita terdengar dari televisi di sudut warung. Bayu terperangah perempuan yang tewas itu, Ibu Lula dan kota X adalah kota mereka.

***

“Mama jangan lukai Lula” Lula terisak. Ibunya terus menggoreskan silet di punggungnya

“Diam kau anak sialan” bentak mamanya marah. Mata Lula tertuju pada sebuah botol yang tergeletak di lantai tak jauh dari dirnya. Botol dengan tulisan Jack Daniel.

“Prang” Botol itu pecah di kepala Mamanya. Mamanya jatuh terkulai di lantai.

“Sekarang Mama tidak akan lagi mengangguku, Mama tidak akan melukaiku lagi” Lula terisak. Lalu kemudian bangkit berdiri. Dia lari ke rumah Bayu.

Tamat

 

Depok, Desember 2011

 

Advertisements

One thought on “Luka Lula

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s