Maze

Tiga orang anak kecil kira-kira seusia Liam anak laki-lakiku yang berusia sepuluh tahun tiba-tiba berlari kecil dan masuk ke halaman rumahku.

“Tante, Liam ditabrak mobil Tante!” Kata mereka dengan wajah ketakutan. Spontan aku bangkit dan berdiri.

“Ditabrak mobil dimana?? Jokoooooooooooooooooooooooooo!” Aku panik dan berteriak memanggil Joko sopirku.

“Di jalanan di depan rumah pak RT, Tante” Jawab ketiga anak kecil yang tampak takut melihat reaksiku.

“Bagaimana kondisi Liam sekarang?” Kataku histeris pada ketiga anak kecil itu. Bukannya menjawab anak-anak itu malah lari ketakutan keluar dari rumah.

“Tunggu kalian anak-anak setan. Kalau sampai ada apa-apa dengan Liam kubunuh kalian semua” Teriakku histeris.

“Ada apa Bu Lastri?” Joko tiba-tiba muncul.

Liam Joko.. Liam.. Liam ditabarak mobil, Ko.” Kata ku. Joko tampak bingung.

“Tapi  Bu, Den Liam sedang bersama Aku di ruang tengah!” Dia menunjuk ke  arah pintu tampak Liam anakku berdiri di sana.

“Mama kenapa sih, Ma? Teriak kaya orang gila.” Katanya. Aku tercekat.Hampir tidak percaya. Joko menghampiriku.

“Kamu baik-baik saja, Sayang?” Katanya. AKu tersenyum mencuri pandang ke arah Liam yang kembali bermain.

“Jangan bermesraan denganku di depan Liam.” Aku memarahi laki-laki gagah yang sangat kucintai itu. Dia tersenyum dan memengelus tanganku.

“Aku khawatir padamu. Apakah kau yakin, kau baik-baik saja?” Tanyanya lagi.

“Aku baik-baik saja. Sebaiknya aku mengunjungi seorang psikoatrik.” Kataku. Joko mengerutkan dahinya.

“Sayangku kamukan Juga seorang psikiatrik.” AKu hanya tersenyum mendengar perkataannya. Ini ketiga kalinya aku berhalusinasi anak kecil datang menyampaikan kematian anakku. Ada yang tidak beres denganku.

***

“Dok, kayanya ada yang aneh dengan diriku.”  Aku menatap perempuan yang sedang duduk di hadapanku. Umurnya kira-kira tigapuluhan tahun, masih cantik dan seksi. Wajahnya memancarkan kecemasan. Tentu saja ada yang aneh dengan dirinya kalau tidak ngapain di datang ke psikiater. Tetapi tentu saja pendapat itu kusimpan dalam hati kalau diutarakan tentu tak ada yang datang ke tempat praktikku lagi.

“Coba ibu ceritakan apa yang ibu rasakan?” Kataku, perempuan itu tampak menarik napas panjang sebentar.

“Aku merasa aku berhalusinasi, Dok.” Aku tertegun mendengar perkataan perempuan itu.

“Mengapa ibu bisa tahu bahwa Ibu berhalusinasi?” Kataku

“Dok, Aku ini dokter psikiatrik juga tetapi aku butuh dokter lain untuk memeriksa ku. Sejujurnya aku tak bisa memeriksa diriku sendiri dan tidak yakin betul apa yang aku alami.”  Lagi ku tercekat.

“Baru kali ini aku punya pasien yang juga seorang dokter jiwa.” Kataku

“Aku butuh bantuan Anda, Dok. Aku selama ini sering berhalusinasi. Aku selalu berhalusinasi bahwa ada tiga orang anak kecil datang padaku dan mengatakan anakku Liam telah meninggal.” Kata perempuan itu.

“Anak ibu bernama Liam? Wah sama dengan anak ku. Anakku juga bernama Liam.” Kataku. Perempuan itu tampak berpikir sejenak.

“Aku bawa foto anakku.” Katanya mengambil sebuah foto dari dalam tas dan memberikan foto itu kepadaku. Betapa kagetnya waktu kulihat foto di tangan perempuan itu. Itu foto Liam anakku.

“Bagaimana bisa foto ini ada padamu? Ini foto liam anakku.” Aku berkata marah pada perempuan di depanku.

“Tidakk itu foto anakku” Perempuan di depanku tiba-tiba meraih foto dari tanganku dan karena kutahan foto itu sobek.

“Kau membunuh anakku! Kau membunuh anakku” Perempuan di depanku berteriak histeris.

“Jokoooooooooooooooooooooooo!” aku berteriak memangil Satpamku, sebelum perempuan di depanku mengamuk parah.

“Dokter Lastri Anda baik-baik saja?” Joko tiba-tiba datang.

“Bawa pergi perempuan gila ini. Masa dia bilang Liam adalah anaknya!” Kataku marah. Joko menatapku heran.

“Tidak ada siapa-siapa di sini, Bu!” Kata Joko dan seketika warna dinding ruangan berubah menjadi putih. Joko hilang berganti dua orang  berpakian dokter dan perawat berdiri di depanku.

“Siapa kalian? Dimana aku?” AKu berteriak histeris

“Ibu Lastri tidak ingat-ingat apa-apa tentang kejadian tabrakan itu?” Dokter di depanku berkata pelan dan tiba-tiba kejadian tabrakan Liam teringat kembali. Aku dan Joko Sopirku di depan kemudi. Liam di jok belakang. Liam tengah tertidur ketika aku mengecup pipi Joko dan sebuah mobil truck menghantam mobil kami.

“Bagaimana Liam? Bagaimana Joko?” Kataku histeris.

“Kasih dia suntikan penenang, Sus!” Sayup-sayup terdengar suara dokter.

“Kasihan yah padahal dulu beliau psikiater hebat setelah kematian selingkuhannya yang juga sopirnya dan anak laki-laki satu-satunnya dia jadi begini.” Terdengar sayup-sayup suara lainnya sebelum semuanya menjadi hilang.

Begitu terbangun Joko sopirku tiba-tiba ada di dekatku.

“Selamat pagi, Sayangg! Aku sudah mengantar Bapak ke kantor dan Den Liam ke sekolah. Sebelum praktik kamu mau dilayani?” Katanya nakal meraihku dalam pelukannya.

TAMAT

Advertisements

2 thoughts on “Maze

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s