Kucing Siluman

Aku mencintai pacarku Joko. Dia tampan, baik hati dan sangat perhatian. Kami telah bersama selama empat tahun lamanya. Dan kalo tak ada halangan dua bulan lagi kami akan menikah. Tetapi ada satu hal yang paling aku benci dari Joko, yaitu kesukaan dia terhadap kucing. Sungguh! Aku benci kucing dengan segenap jiwa dan ragaku. Tetapi karena cintaku yang begitu besar pada Joko, kecintaannya pada kucing yang begitu besar masih bisa kuterima. Namun semua berubah saat Pusy kucing hitam, entah jenis apa. Memasuki hidup kami.

“Kenalkan ini Pussy, Las. Kucing baruku,” kata Joko waktu pertama kali dia memperkenalkan aku dengan Pussy. Aku menatap Pussy enggan dan terkesiap ketika kucing itu menatapku penuh tajam. Matanya yang berwarna abu-abu itu mentapku penuh kebencian. Aku merinding.

“Pussy ini pacarku, Lastri.” Joko mendekatkan kucing itu padaku. Dan demi langit bumi dan segala isinya, aku melihat kucing itu membuang muka. Dia malah mendekatkan dirinya pada Joko.

“wah wah wah, kamu cemburu yah pada Lastri,” tanya Joko mengelus kepala Pussy penuh kasih sayang. Pussy mengeong manja mendekatkan kepalanya ke dada Joko.

“Darimana kau dapatkan kucing ini, Ko?” tanyaku risih dan mulai jijik dengan Pussy

“Dia datang sendiri. Tadi pagi tiba-tiba dia sudah berada di depan rumah. Mungkin dia tahu kali yah, aku ini sangat menyukai kucing,” jawab Joko acuh sambil terus mengelus kepala Pussy

“Tapi kau kan sudah memiliki sepuluh ekor kucing. Ko. Kenapa kau masih memelihara kucing ini. Siapa tahu dia ada pemiliknya?” Aku berkata ngotot. Tiba-tiba timbul keinginan untuk menjauhkan pussy dari Joko.

“Kita lihat saja kalo satu minggu ga ada yang mencari Pussy, dia akan aku pelihara. Terus terang, Las aku mulai sayang pada kucing ini.” tanggap Joko dan sumpah demi langit dan bumi lagi, aku melihat pussy menyeringgai puas ke arahku seolah mengatakan. Joko milikku.

Dan sialnya sudah satu bulan berlalu, tak ada satupun ada orang yang merasa kehilangan kucing. Dan selama satu bulan itu hubunganku dan Joko terancam bahaya. Kami tak pernah lagi berduan, Pussy tiba-tiba begitu lengket dengan Joko. Tak pernah sekalipun dia meninggalkan Joko sendirian berduan denganku. Bahkan saat kami kencan di malam minggupun dan anehnya, Joko tiba-tiba begitu lengket dengan kucing sialan itu. dan Tiba-tiba ide jahat terbersit di benakku, Aku akan menghilangkan kucing sialan itu selamanya dari dunia ini.

“Tumben kau ingin bersama pussy, Las. “ Itu pertanyaan Joko ketika aku mengutarakan niatku meminjam Pussy

“Aku hanya ingin dekat dengan hewan kesukaanmu itu, Ko,” jawabku manja. Joko yang tidak menaruh curiga apa-apa memberikan kucing sialan itu padaku. Aku menerima pussy dengan enggan dan anehnya pussy tidak protes waktu aku membawanya masuk ke dalam mobilku dan segera Menjalankan mobil meninggalkan rumah Joko. Sempurna! Pikirku senang, kepalaku memutar otak mencari kira-kira ide apa yang paling baik untuk melenyapkan kucing sialan ini.

“Akhirnya, kita bisa berduaan, Lastri.” Terdengar suara perempuan. Aku bergidik dan kaget waktu menyeadari itu suara pussy.

“Lastri yang malang. Kau pikir aku tidak akan memanfaatkan kebersamaan kita ini?” Pussy meloncat naik ke pangkuanku. Mobilku oleng. Segera aku menginjak rem menghentikan mobilku dipinggir jalan

“Apa-apaan ini? Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau bisa bicara?” Aku bertanya bingung takut dan ngeri. Pussy menatapku tajam dan jahat.

“Aku juga mencitai Joko, Lastri dan aku juga ingin bersamanya. Kau hanya mengganggu hubungan kami” tiba-tiba mobilku berjalan sendiri. Aku ketakutan setengah mati. Berkali-kali kuinjak pedal rem tak terjadi apa-apa. Selamat tinggal Lastri. Kata Pussy sebelum mobilku menabrak sebuah truk besar.

Arghhhhhhhhhhhhhhhh

*

Aku terbangun dan mendapati diriku di sebuah ruangan berwarna putih. Tampak Joko berdiri di hadapanku.

“Kau sudah bangun, Pussy.” Joko mengelus-ngelus kepalaku. Hah? Pussy? Apa maksudnya?

“Maafkan aku, Sayang. pussy tiba-tiba menyerangku saat aku sedang mengemudi. Aku tak sengaja membuang dia keluar mobil dan akhirnya dia ditabrak Sepeda motor” sebuah suara tiba-tiba muncul dan aku mendapati diriku berdiri di samping Joko.

“Bukan salahmu, Las.” Joko memeluk perempuan yang mirip aku itu.

“Dia bukan lastri, aku lastri”.” Teriakku kencang tetapi yang terdengar kemudian membuatku ngeri. Suaraku berbunyi meong meong lirih.

“Ayo pergi sayang!” Perempuan yang menyerupaiku mengajak Joko keluar. Joko menurut! Sebelum pergi perempuan itu memandang tajam dan jahat padaku. Pandangan jahat dan tajam seperti pandangan Pussy.

Tamat

Advertisements

2 thoughts on “Kucing Siluman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s