(Cerbung) The Files of Dr. Sex bagian satu

Rubrik : Ask dr. Sex
Minggu kedua januari 2014
Dear dr, sex
Saya senang sekali dengan artikel tentang orgasme. Sebenarnya, saya sudah lima tahun menikah dan tidak pernah merasakan orgasme bersama suami saya. Akhir-akhir ini saya sering mastrubasi. Dan saya merasa mastrubasi lebih menyenangkan daripada berhubungan seks dengan suami saya. Apakah ini normal?
Ny. T di Bekasi.

Matahari menerobos masuk melalui kisi-kisi, menyinari layar komputer yang tengah reboot. Ramona meluruskan badannya dan  duduk dalam posisi tegak untuk beberapa saat. Langit biru mengintip dari jendela kaca yang gordennya tengah tersibak.  Itu pasti kerjaan Tari, sahabat sekaligus rekan kerjanya. Ramona tidak begitu suka cahaya. Cahaya selalu membuatnya merasa risih. Sejak kecil ibunya selalu membuatnya terbiasa dalam gelap.

“Matikan lampu tidurmu! Kau pikir kita punya uang untuk membayar listrik?”

“Tutup gordennya, anak sialan! Aku tidak suka tetangga mengintip ke mari.”

“Mona! Ramona!” suara seseorang membangunkannya dari masa lalu. Ramona menoleh. Tari berdiri di pintu dengan dua gelas mengepul di kedua tangannya.

“Apa?”

“Gue tadi tanya, lo mau kopi?” Tari mengangkat gelas di tangan kanannya. Ramona mengenyahkan kenangan buruk dari masa lampau dengan tersenyum saat menerima gelas kopi dari Tari. Mengapa aku tiba-tiba ingat tentang Ibu? Mulutnya tiba-tiba pahit. Dia segera meneguk kopinya. Bara api membakar lidahnya.

“Kopinya panas banget, Mon. Seharusnya  lo diamin dulu bentar,” sahut Tari saat Ramona menjulurkan lidah dan mengibas-ngibas dengan tangan. Ramona menaruh kopinya di meja komputer dan berlalu ke luar ruangan. Begitu dia kembali membawa segelas air es, Tari sudah duduk di hadapan komputernya yang sedang reboot. Ramona menuju mejanya, komputernya kini dalam kondisi stand by. Dia duduk di kursi dan minum beberapa teguk air es. Lidahnya kini mati rasa. Sial!

“Artikel lo tentang orgasme kemarin jadi top views, loh.”  Tari bersuara. Perempuan berambut sebahu itu kini sedang mengamati homepage website yang mereka kelolah bersama, http://www.dr-sex.com. Ramona mengklik simbol website mereka di dekstop. Artikelnya perempuan harus orgasme, telah dibaca 850,000 oranng. Rekor pembaca terbanyak sejak website mereka berdiri dua tahun lalu.

“Banyak banget kayanya perempuan yang nggak orgasme di Indonesia ini,”
sahutnya sembari mengklik artikel itu. Dia menarik napas saat melihat  lima ratus komentar. Itu berarti dia harus membalas pesan itu satu-satu.

“Lo ingat nggak kapan terakhir kali lo orgasme?” ujar Tari. Ramona mengalihkan pandangan ke arah Tari. Dia tersenyum.

“Tadi malam dengan jari telunjuk gue.”
Tari tertawa, tawanya terhenti ketika melirik ke meja kosong di samping Ramona.

“Kantor sepi tanpa Jack, yah?” ujar Ramona melihat arah pandang Tari. Dia tiba-tiba pusing mengingat sudah hampir satu minggu mereka tidak punya proggamer website. Jack, proggamer yang telah bersama mereka hampir dua tahun ini dipanggil orangtuanya pulang ke Manado. Sahabatnya mengangguk.

“Gua kangen Jack. Semoga nanti yang ganttiin dia tetap asyik meski mulut kita comberan,” sahut Tari. Ramona mengangguk setuju. akan sangat susah mendapat pengganti Jack. Jack sangat baik dan bertanggung jawab, dan yang pasti tidak merasa risih mereka berbicara seksualitas sepanjang waktu.

“Sudah ada  lagi yang respon iklan IT website kita kan?” tanyanya. Tari mengangguk. Sudah ada tiga orang yang mereka wawancarai dan tidak ada satupun dari ketiganya orang itu yang membuat mereka klik.

“Ntar siang jam dua ada wawancara dengan seorang cowok. Namanya keren deh. Bumi . Kira-kira menurut lo apa yang bikin orangtuanya menamai anak mereka Bumi? Apakah karena pas waktu bikinnya di Bumi?” Ramona menggeleng kepala tidak mengerti pada sahabatnya. Dalam hati dia merasa familiar dengan nama itu.

Tari dan Ramona pertama kali bertemu lima tahun lalu. Waktu itu mereka sama-sama diterima menjadi staf HRD di sebuah perusahan asuransi. Tari yang pertama kali menyapanya.

“Lo scorpio?” tanya Tari. Ramona memandang bingung, lalu mengerti ketika melihat gantungan kunci kalajengking serupa miliknya di tas Tari. Dia mengangguk.

“Gue Tari, Mentari. gue scorpio juga.” Ramona meraih uluran tangannya. Dia menyukai genggaman tangan Tari yang kuat dan hangat.

“Lo pasti suka seks, kan?” tanya Tari lagi. Ramona mendelik beberapa saat lalu tertawa melihat  ekspresi di wajah Tari yang polos seolah-olah bilang, kamu suka permen pada anak kecil.

“Tapi gue nggak lesbian,” ujarnya. Gantian Tari yang tertawa.

“Emang seks identik dengan kegiatan esek-esek? Maksud gue lo suka baca kamasutera,  nggak?” sahut Tari. Entah mengapa Ramona mengangguk. Mereka bersahabat sejak saat itu. Sejak SMA, Ramona memang menyukai segala hal berbau seksual. Dia membaca banyak kamasutera danmempelajari semua posisi dan kegunaaanya. Itulah kemudian yang membuatnya memilih psikologi. Dia ingin mempelajari manusia secara keseluruhan dan mendalami mengapa manusia bisa diperbudak oleh nafsu seksual mereka. Dia seperti menemukan belahan jiwa yang hilang pada Tari. Sahabatnya itu juga memilih psikologi dengan alasan yang sama seperti dia. Hanya saja bedanya Tari dengan frontal bilang ke semua orang kalau dia suka ngomongin seks sedangkan dia lebih tertutup. Banyak orang di kantor mereka dulu yang menyayangkan dia bersahabat dengan Tari.

“Tari itu cewe bispak, Mon. Ntar lo jadi kaya dia, deh.” Ramona hanya tersenyum. Apa jadinya kalau mereka tahu omongannya soal seks lebih frontal dari Tari. Memang susah tinggal di Indonesia dengan pikiran tingkah laku terbuka soal seksual. Akan banyak orang yang mengira   gampangan. Lagipula bukan salahnya dia tertarik pada seksualitas. Dia juga bahkan tidak tahu mengapa.

“Karena elo dan gue berzodiak scorpio, Mon. Lo tahu nggak scorpio itu dewa sex dari dua belas zodiak yang lain,” ujar Tari suatu kali saat dia mempertanyakan kegemaran mereka itu. Ramona tidak puas dengan jawaban itu.

“Ayolah jangan bawa-bawa zodiak. Orang yang suka ngaitin sesuatu sama zodiak itu nggak bakalan bisa keluar dari zona nyaman. Contoh orang scorpio itu dibilang boros, sebagai orang scopio yang percaya ramalan bintang lo mengaminin itu dan terima kalau lo boros. Itu memicu lo menghabiskan uang pada hal yang tak berguna dan ketika lo nyesal uang lo habis lo pasti bilang, inikan karena gue berzodiak scorpio. Jadinya lo nerima hal negatif itu dan enggan ngerubahnya. Hasilnya lo akan kehabisan uang terus. So, jangan percaya pada karaterisasi yang dikasih zodiak atau sejenis itu. I believe in everybody is unique concept. Berapa orang coba yang scorpio? Yakin itu ramalan scorpio berlaku bagi semua orang?” Tari menatapnya dengan ekspresi malas.

“Elo menghancurkan kecintaan gue pada zodiak, deh,” Ramona tertawa.

“Gue hanya nggak mau segala pertanyan kita soal hidup berakhir di konsep abstrak kaya takdir atau zodiak. Gue percaya apa yang terjadi dari hidup kita adalah akibat dari perbuatan kita. Gue suka seks yah karena suatu hal yang telah gue alami waktu kecil.” Ramona terdiam tiba-tiba dia tahu apa yang membuatnya tertarik pada zodiak. Ibunya. Dia mengenyahkan bayangan tentang Ibunya jauh-jauh. Dia enggan mengingat Ibunya. Dia meminta Tari untuk tidak membahas alasan mereka menyukai duania seksual lagi.
Tiga tahun bekerja di tempat yang sama,   dua tahun lalu Tari tiba-tiba berkata

“Kita gunakan pengetahuan kita di bidang seksual untuk cari uang, yuk!”  Ramone mengernyit.

“Jadi pelacur maksud lo?” Tari tertawa.

“Bukan kita buka semacam website yang berisi artikel soal seks dan membuka konsultasi gratis buat orang-orang.” Ramona menatap sahabatnya.

“Lalu bagaimana konsultasi gratis bisa menghasilkan uang?”

“Honey, you know nothing about internet bisnis, dont you? Kalau banyak orang yang kunjungi website kita, kita bakalan di bayar sama google. Ah iya belum lagi banyak tawaran iklan.”

“Trus kalau nggak ada yang lihat?”

“Ayolah orang-orang suka segala sesuatu berbau seksual. Pasti akan  banyak yang melihat. Tinggal kasih judul yang menggoda aja.” Tari bersikeras. Ramona menghela napas. Ide Tari boleh juga. Dia menyetujui. Mereka pun membuat website bertajuk, http://www.dr-sex.com dengan bantuan sepupu Tari, Jack yang seorang IT. Mereka mengisi website itu dengan berbagai hal tentang trik seksual dan membuka rubrik konsultasi via email. Minggu pertama tidak ada yang mengirimkan email. Minggu kedua ada beberapa yang mengirm email
“Gimana kalau memilih satu dari email ini dan membahasnya di dalam satu postingan website. Kita bikin rubrik ask dr. Sex,” usul Ramona. Tari menyetujui. Tiga bulan kemudian website mereka dikunjungi lima ratus ribu pengunjung. Enam bulan kemudian banyak sponsor yang ingin memasang iklan di website mereka. Satu tahun kemudian mereka berhenti bekerja di kantor dan membuat kantor sendiri untuk mengelolah website mereka yang sudah mencapai jutaan viewers secara serius. Uang yg mereka hasilkan berlipat ganda bahkan menghasilkan sebuah honda jazz untuk Ramona. Dua ruangan lantai dua  rumah Tari disulap menjadi kantor. Satu ruangan berisi meja dan kursi untuk tamu atau rapat dan satu ruangan luas dengan empat meja  komputer. Satu untuk Ramona, satu untuk Tari, satu dulunya komputer untuk Jack, dan satu lagi sebagai persiapan jika salah satu komputer mati.

“Mbak ada yang nyariin Mbak,” Rudi, satpam rumah sekaligus kantor muncul di pintu depan. Ramona mengernyit dan memandang jam di dinding. Pukul dua siang. Ahh, janji wawancara progammer baru.

“Ah suruh masuk aja, Rud. Di ruang sebelah,” ujar Tari. Rudi mengangguk sebelum berlalu.
Tari menoleh ke arah Ramona.

“Kayanya itu Bumi, deh. Yuks wawancara dia!” Ramona merasa sesuatu hal familiar aneh melanda hatinya saat dia mendengar nama itu.

********

To. Tya@gmail.com
From : dr-sex@admin.com
Subject : tentang orgasme
Dear Ny. Tia di bekasi
Terima kasih karena sudah mau jujur soal orgasme. Sesungguhnya bukan hanya Anda perempuan yang tidak mengalami orgasme saat berhubungan dengan suami Anda. Dan juga banyak perempuan yang memutuskan untuk melakukan mastrubasi untuk mencapai kepuasan sendiri. Orgasme pada perempuan biasanya beragam tetapi klitorislah titik puncak kenikmatan wanita. Suami Anda ini mungkin tidak pernah merangsang klitoris Anda makanya ketika Anda melakukan Mastrubasi Anda lebih terpuaskan.  Pada dasarnya mastrubasi normal-normal saja tetapi akan menjadi abnormal jika akibatnya membuat Anda terganggu secara psikologis atau fisik. Mastrubasi yang Anda lakukan telah membuat Anda terganggu secara psikologi, Anda menjadi lebih menikmati mastrubasi daripada penetrasi yang dilakukan suami Anda. Ini tidak bagus karena membuat pola seksual Anda berubah. Saran dari dr.sex, berhentilah melakukan mastrubasi dan bicarakan pada suami Anda mengenai ketidakpuasan yang Anda rasakan. Kalau suami Anda orang  baik dan mencintai Anda pasti dia akan mendengarkan dan memuaskan Anda dengan sebaik-baiknya. Minta dia mengoral Anda atau minta dia memperbanyak pemanasan sebelum masuk ke bagian inti. Ada beberapa posisi kamsutera yang bisa membuat Anda lebih bisa menikmati orgasme Anda. Yang pertama woman in top, yang kedua CAT,  Coital Aligment Position. Penjelasan tentang kedua posisi ini akan kami lampirkan dalam bentuk file attachment. Semoga membantu.

NB : kami akan memuat email Anda di website dengan nama samaran

Salam
Dr. Sex

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s