Suatu Hari ketika Saya Memutuskan meski Menulis Membuat Saya Patah Hati, Saya akan Selalu Jatuh Cinta Padanya selamanya.

Suatu hari saya menpertanyakan hal-hal yang membuat saya jatuh cinta

Apa yang membuat saya jatuh cinta sama nulis?

Adalah novel yang membuat saya jatuh cinta pada menulis.  Saya ingat saat membaca Sidney Sheldon berjudul blodline di tahun 2002, saya benar-benar ingin membuat novel seperti itu. Lalu saya bertemu novel sidney sheldon lainnya, novel ayu utami, novel djenar, novel putu, dan ribuan novel lainnya yang membuat saya bertekad mebulis novel sebaik mereka.
Sampai sekarang saya masih mencintai buku sebesar saya mencintai menulis.

Bagaimana saya jatuh cinta sama menulis.

Cinta saya pada nulis bukanlah cinta pada pandangan pertama. Awalnya saya menulis karena ingin mengeluarkan unek-unek (bahasa halus tjurhat) lalu tahun 2009, saya menulis cerpen berjudul perempuan dan sopir taksi. Saat menyelesaikan cerpen itu saya merasa sangat amat keren sekali saat itulah saya sadar saya mulai jatuh cinta.  Lalu kemudian saya menyadari cinta saya pada menulis semakin besar dan besar hingga saya suka galau kalau tidak menulis dalam satu hari.
Sebenarnya saya tidak tahu pasti bagaimana tepatnya saya jatuh cinta, tahu-tahu rasa cinta itu sudah ada aja di hati dan tak bisa dilenyapkan.

Dimana saya jatuh cinta sama menulis?

Saya jatuh cinta sama menulis dimana-mana. Tempat favorit saya adalah meja outdoor di mantan kampus. Pohon-pohon di sekeliling membuat cinta saya mengalirkan kata dengan indah.

Kapan saya jatuh cinta pada menulis?

Saat saya menyadari menulis membuat saya bahagia.
Sebenarnya saya menulis sejak SMA tapi baru aktif saat saya duduk di tahun ketiga kuliah yaitu tahum 2011. Sudah tiga tahun menulis dan akan menulis sampai seribu tahun lamanya.

Mengapa saya jatuh cinta sama nulis?

Setelah sekian lama menulis, saya menyadari mengapa saya jatuh cinta sama nulis. Jadi penulis terkenal dan keren macam Ayu Utami dan Dee ada di alasan  nomor tiga. Mempunyai buku yang bisa dikenang anak cucu ketika sudah mati ada di alasan nomor dua. Menulis membuat saya  penting bahagia adalah alasan nomor satu dan terutama.
Semua orang di dunia ini pengen merasa penting. Ada yang orang yang beli tas mewah untuk dianggap penting, ada orang yang bagi-bagi uang agar dianggap penting,   dan saya merasa penting dengan menulis. Dengan menulis orang menjadi tahu siapa saya, meski hanya seputar blogg. Dengan menulis setiap ketemu orang yang baca tulisan saya, mereka bilang saya keren. Dengan menulis saya mengeluarkan semua hal gila di kepala saya dan saya puas karena hal gila itu tidak saya wujudnyatakan dalam perbuataan nyata. Bayangkan kalau saya pengen bunuh orang (yang mana sangat sering saya pikirkan) saya tidak mewujudnyatakan dalam cerpen tapi langsung membunuh orang itu. Sudah dipenjara saya sekarang. Selain penting menulis membuat saya berbahagia. Selalu ada rasa bahagia yang tidak bisa digambarkan dengan kata setiap kali saya habis menulis. I am on the top of the world lah… Dan rasa paling happy itu terjadi waktu saya habis nulis naskah novel pertama saya berjudul hating Rachel. Saya bangga karena dari bisa nulis empat halaman ke 98 halaman. Saya senang karena bisa nulis sebanyak itu.  Saya terharu setelah dua tahun berjuang nulis bisa juga nulis novel. Rasa yang bercampur aduk jadi satu meski kemudian naskah itu ditolak penerbit hihihi.
Penolakan itu tidak membuat saya berhenti jatuh cinta.  Karena tadi ditolak, diterima, jelek, bagus tidaknya tulisan saya, saya selalu bahagia menulisnya.

Lalu saya mempertanyakan hal-hal yang membuat saya patah hati pada menulis

Apa yang membuat saya pernah patah hati karena menulis?

Kemalasan. Saya malas mengambil laptop dan duduk di hadapannya dan menulis.

Bagaimana saya patah hati kaena menulis?

Tiba-tiba saja saya tidak bisa menulis. Dan itu berlangsung
dalam waktu yang lama

Dimana saya patah hati sama menulis?

Di semua tempat,  bahkan di tempat menulis favorit saya.

Kapan saya patah hati sama menulis?

Dua minggu ini sebenarnya saya sedang patah hati. Saya tidak bisa menulis sesuatu bahkan itu hanya sebuah FF.

Mengapa saya patah hati sama menulis?

Alasannya banyak. Karena saya nggak pd dengan tulisan saya, saya merasa iri hati karena banyak teman saya yang menerbitkan novel, saya malas mengikuti lomba, saya malas membaca, saya kehilangan motivasi bahwa saya bisa jadi penulis yang hebat,  saya berpikir saya sibuk sehingga ga punya waktu untuk menulis padahal kalau mau menulis, nulis aja ga usah pake banyal alasan, dan lain-lain.

Untungnya saya selalu kembali mengingat apa, bagaimana, dimana, kapan, mengapa saya jatuh cinta sama nulis karena dengan begitu meski saya patah hati saya selalu tahu saya pernah dan akan selalu bahagia karena menulis.
Jadi hari ini saya putuskan bahwa meski menulis membuat saya patah hati, saya akan selalu jatuh cinta padanya. Selamanya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s