PISAU SANG PEMBUNUH bagian satu

Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?
Seperti pisau yang dicabut pelan-pelan
dari cengkraman luka.
-Joko Pinurbo-

Dengan mengenggam sebuah pisau, dia berdiri di depan cermin memandang bayangannya sendiri. Matanya dan mata pisau sama-sama tajam. Pancaran lampu kamar yang temeram terpantul di matanya dan mata pisau yang berdekatan. 
Pisau di tangannya spesial seperti dirinya. Pisau itu terbuat dari perak. Di ujung gagang yang juga terbuat dari perak, ada ukiran kepala naga. Dia teringat sebutan pemilik tokoh pisau di tempat dia membeli pisau itu di London beberapa waktu silam. Messer zu töte! A Knife to kill! Pisau yang dibuat untuk membunuh!
Sebentar lagi, dia memutuskan akan membunuh orang dengan pisau itu.

Jam di dinding kamar menujukkan pukul tiga dini hari. Dia merasakan adrenalin mengambil alih kerja darah, membuat jantung berdegup lebih kencang, dan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Dia terkejut mendapati dirinya tak gentar apalagi takut. Keinginan membunuh seolah-olah menjadi seperti oksigen. Harus dihirup, harus dilakukan, kalau tidak mati. Dia meletakkan pisau peraknya hati-hati ke dalam sarungnya. Sudah saatnya.

Untuk terakhir kali dia memandang pantulan tubuhnya di cermin. Dia tampak gagah mengenakan setelan jas armani, asli dari Italia. Apa yang Ibunya katakan jika melihat dia gagah begini? Dia mencibir. Beruntunglah perempuan itu telah mati di neraka. Dengan perlahan dia menyelipkan pisau di saku bagian dalam jasnya. Dalam hati dia senang memakai jas hitam, bukan jas putih.
***

Honey melangkah perlahan menelusuri lorong lantai tiga wisma mawar. Lampu lorong yang temeram memperjelas wajahnya yang pucat. Seluruh tubuhnya sakit terutama di bagian selangkangan. Lorong yang kira-kira sepanjang 12 meter itu sepi dan suram. Dinding tembok yang cokelat mempersuram suasana. Awalnya Honey benci warna dinding itu. Mengapa tidak putih? Seolah-olah warna putih  haram untuk mereka yang melakukan tindakan asusila. Lupita pemilik Wisma Mawar pernah berkata.

“Kata orang, warna cokelat mempengaruhi libido laki-laki. Warna ini membuat mereka ejekulasi lebih cepat. Memangnya kalian mau penis mereka terus berada di dalam tubuh kalian.” Alasan yang tidak masuk akal tetapi entah mengapa diterima Honey, mengingat selama menjadi pelacur dia jarang mengalami orgasme (Dia hanya perlu berteriak, bergoyang bila perlu, mengganti posisi, dan berdoa pelanggannya segera ejakulasi.) Walapupun dia benci warna cokelat kalau warna itu bisa membuat pekerjaannya lebih mudah tak apalah, meski kemudian dia selalu saja enggan setiap melihat dinding tembok.

Honey adalah nama dunia malamnya, nama aslinya Asri Purnamasari, orang tua menamainya demikian dengan maksud agar kehidupannya selalu asri dan bersinar seperti bulan purnama. Sayangnya arti namanya tak sebagus jalan hidupnya. Saat berumur tujuh tahun Ayahnya memutuskan lari dengan perempuan lain dan Ibunya bunuh diri. Asri dititipkan ke kerabat Ibunya, yang dia panggil bibi. Dia tumbuh sebagai perempuan dengan wajah ayu, tubuh bidadari. Dadanya membusung indah, bulat seperti kepala bayi yang baru lahir. Pantatnya berisi, kakinya jenjang, pinggulnya semampai. Bukan hanya tetangga bibinya yang meneguk liur melihat tubuhnya, tapi juga suami bibinya.
Dia diperkosa dan memutuskan lari dari rumah kerabatnya. Lupita menemukannya gelandangan di jalanan kota Wedangan. Lupita langsung melihat permata pada tubuh Honey. Dia memberi Honey makan dan tempat tinggal kemudia memaksanya bekerja padanya.

“Kamu mau dapat uang banyak tanpa susah-susah bekerja?” tanya Lupita. Honey mengangguk rapuh.

“Kamu akan saya latih.” Lupita tersenyum senang. Awal mulanya dia kesal karena Honey bukanlah perawan tetapi dia perempuan itu cepat tangkap saat memperlajari hal seputar kepuasan seks. Saat pertama kali dia dipamerkan di Wisma Rose, banyak orang yang kagum padanya. Hanya dua bulan setelah dia menjadi pelacur kelas biasa, Lupita menyuruhnya masuk kelas primadona.

“Nama kamu bukan lagi Asri, tapi Honey,” ujar Lupita. Honey menjadi pelacur paling sering dipakai.

Wisma mawar adalah wisma pelacuran besar dan bergensi di Gang jeruk. Itu adalah Wisma pertama di kompleks pelacuran terbesar di Indonesia bahkan Asia itu. Awal mulanya Wisma mawar dikelolah nenek buyut Lupita yang membuka usaha panti pijat untuk para tentara di jaman penjajahan Jepang. Seiring dengan kemerdekaan RI, wisma itu menjadi terkenal karena menawarkan jasa-jasa plus-plus. Memasuki tahun 60an, beberapa wisma pelacuran dibangun dan tahu-tahu sekarang sudah hampir seratus wisma di gang jeruk itu. Dalam hati kecilnya Honey tahu dia tidak ingin menjadi pelacur.

“Suatu saat aku kan keluar dari sini,” bisiknya lirih. Dia menarik napas ketika disadarinya dia telah sampai di ujung lorong. Dia mengambil kunci dari dalam tasnya dan membuka pintu kamarnya. Dia terkejut mendapati lampu kamarnya telah menyala.

“Dari mana saja kau?” sebuah suara mengagetkannya. Dia menoleh dan terkejut mendapati sosok manusia berdiri di hadapannya.

“Kau? Mengapa kau bisa masuk ke ka..?” Sebelum melanjutkan pembicaraanya, orang itu menutup hidung dan mulutnya dengan saputangan.
***

Jasmine membuka pintu kamarnya untuk mempersilakan pelanggan terakhirnya keluar. Laki-laki berperut buncit itu mengecup bibirnya. Jasmine mau muntah karena bau mulut dan kumis laki-laki itu. Anggota DPR kok, jorok! pikirnya sinis.

“Makasih, Sayang! Ini tip buat karena sudah bikin aku puas empat kali.” Laki-laki itu menaruh sejumlah uang seratus ribuan ke dalam bra Jasmine sambil meremas payudaranya. Jasmine menyembunyikan keenggananya dengan senyum.

“Bulan depan aku pake kamu lagi,” laki-laki itu tersenyum dan berlalu. Langkah kakinya yang gemuk menimbulkan bunyi berisik di lantai lorong lantai tiga. Jasmine bersandar di pintu dan mengambil uang yang diselipkan si bedebah. Lima ratus ribu. Lumayan. Dia hendak menutup pintu ketika dia melihat pintu kamar Honey di depannya terbuka. Jasmine tidak menyukai Honey dan mereka tidak pernah akur. Namun sesuatu yang aneh membuatnya tiba-tiba ingin melongokkan kepala ke dalam kamar perempuan itu. Dengan enggan dia melangkah ke arah pintu kamar. Keputusan yang membuat dia menyesal seumur hidupnya. Honey tergeletak di tempat tidur dengan keadaan mengenaskan. Jasmine berteriak histeris.
***
Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s