Ramalan Tanta Sebina.

Pada suatu hari Minggu yang cerah, tanta Sebina datang ke rumah kami. Tanta Sebina adalah kerabat dari pihak mama. Sungguh aku lupa bagaimana hubungan kekerabatan kami. Kalo tidak salah kakek mama dengan nenek Tanta Sebina adalah adik kakak atau entahlah. Aku tengah tertidur ketika pagi itu mama membangunkan aku.

“Vero ayo bangun! Tanta Sebina datang dari kampung. Ayo bertemu!” Mama membangunkan aku. Dengan malas aku bangun dari tempat tidur. Dengan segera udara dingin Ruteng menerpa tubuhku. Satu hal yang paling kubenci tinggal di Ruteng adalah udaranya yang dingin ini. Suhu di Ruteng bisa mencapai nol derajat celcius di pagi hari. Hal itu karena Ruteng terletak tepat di bawah kaki gunung Golo Lusang. Tetapi apa mau dikata, pilihanku sendiri yang membuat akau harus merasakan udara dingin Ruteng yang membuat kulit hitam ini.

Tiga bulan berlalu sejak aku lulus dari pergururaan tinggi lalu memutuskan kembali ke Ruteng, menetap dan bekerja di sini. Dua bulan aku lulus testing PNS yang sulit dan kemudian ditempatkan bekerja di kecamatan poco ranaka. Menjadi PNS adalah impian setiap orang yang menetap dan tinggal selamanya di kota Ruteng. Dan beruntunglah aku yang langsung lulus ini. Konon ada beberapa orang yang harus testing PNS sampai enam atau tujuh kali barulah lulus.

“Kalau kau jadi PNS maka hidupmu tenang. Meski gajinya sedikit akan datang terus.” Begitulah tanggapan mereka. Aku yang kuliah di Jakarta mula-mula tidak begitu tertarik untuk menjadi PNS, tetapi begitu tinggal di Ruteng aku sadar bahwa satu-satunya cara aman untuk dapat menikmati Ruteng adalah dengan menjadi PNS.
Ruteng adalah sebuah kota kecil, ibukota kabupaten Manggrai tengah, Kabupaten yang terletak di bagian barat Flores. Dulu Manggarai adalah satu kabupaten utuh tetapi sekarang sudah dibagi ke dalam tiga kabupaten yaitu kabupaten Manggrai Barat, kabupaten Manggarai tengah dan kabupaten Manggarai Timur. Saking kecilnya Ruteng, semua orang seperti saling mengenal. Aku pernah mengenal seorang teman yang ternyata kakak dari temanku itu menikah dengan salah seorang sepupuku dari pihak Mama. Benar-benar tak selebar daun kelor. Selain kecil, tak banyak hiburan di kota Ruteng. Tidak ada mall di kota ini, hanya ada tiga supermarket besar dan beberapa toko-toko yang terletak di pusat kota. Di sini juga jarang terdapat restauran, hanya warung-warung bakso yang tersebar di seluruh jalan kota. Penduduk kota Ruteng jarang makan di luar, masakan sendiri di rumah lebih enak dan lebih bersih. Apalagi Ruteng dekat dengan Reo, Borong Dan Labuan Bajo tiga kota penghasil ikan laut terbesar di Flores.

Ketika aku sampai di ruang tamu lima menit kemudian, aku melihat seorang perempuan sedang memegang sebuah gelas berisi ampas kopi. Sementara Papa dan Mamaku tampak menyimak perkataan yang keluar dari mulut Perempuan itu.

“Sepertinya Pak Frans akan mendapatkan rejeki. Saya bisa melihat ada orang yang akan membawakan bingkisan untuk bapak.” Demikian kata perempuan yang aku duga adalah Sebina tantaku itu. Kedua orang tuaku tampak tersenyum senang mendengar perkataanya.

“Wahh akhirnya Enu Vero bangun juga!” Tiba-tiba tanta Sebina menyapaku yang berdiri mematung di pintu penghubung ruang tamu dan ruang keluarga. Aku tersenyum menatap perempuan itu. Sebina belum begitu tua. Usianya kira-kira limapuluhan lebih. Raut wajahnya yang ramah dan tatapan matanya tenang membuat aku menyukainya. Tinggi badanya sedang, badannya gemuk tetapi tidak berlebihan, rambutnya lurus akibat rebonding yang memang sedang ngetrend di kalangan perempuan Manggarai yang rata-rata berambut ombak.

“Selamat pagi, Tanta!” Aku menyapa sopan lalu segera duduk di samping orang tuaku.

“Vero sepertinya sudah lupa dengan saya. Saya ini Sebina. Saya dulu pernah ke mari saat Vero berusia lima tahun.” Tanta Sebina berkata. Aku hanya tersenyum. Jelaslah aku tak ingat dengan dia. Saat aku berumur lima tahun itu adalah tujuhbelas tahun yang lalu.

“Ayo selamat pada Tanta Sebina. Kami sedang toto kopi.” Kata Mamaku kemudian. Aku mengernyitkan dahi. Toto kopi adalah seni ramalan khas orang Manggarai. Seseorang akan minum segelas kopi tubruk sampai tersisa ampasnya. Lalu kemudian gelas itu ditekuk sehingga ampasnya jatuh dan melekat di dinding gelas. Konon ada beberapa orang yang dianugerahi kemampuan bisa membaca peruntungan dengan melihat ampas kopi itu. Aku sebenarnya bukan tipe orang yang mempercaya ramalan jadi tidak begitu antusias menanggapi kedatangan tantaku itu.

“Tanta Sebina datang ke Ruteng Cuma dua hari. Besok dia kembali lagi ke Benteng Jawa. Ayo kamu juga ikut toto kopi,” kata Mama kemudian. Aku tersenyum. Ya sudahlah apa salahnya mencoba.

“Iya coba lihat dulu jodoh si Vero ini, Kakak! Dia sudah dua puluh lima tahun dan belum pernah membawa laki-laki ke rumah ini,” kata Papaku kemudian. Aku melotot kesal pada Papaku.

“Ngapain buru-buru menikah, Papa! Aku masih ingin bebas.” Aku menjawab.

“Yang namanya perempuan umur duapuluh lima tahun itu harus sudah menikah,” kata Papaku lagi. Pemikiran orang tua yang tinggal di kota kecil memang begitu.

“ Lah saya kan masih muda, Papa! Masih duapuluh lima tahun.” Aku membela diri. Sungguh aku masih ingin bebas. Aku sendiri berencana mengakhiri masa lajangku saat berusia dua puluh tujuh tahun nanti.

“Sudah sudah sudah. Bapak ini menggoda anak sulungnya terus. Nanti kalau dia jauh kangen. Kalo menikah nanti tentu Vero tak tinggal bersama kita lagi. Siapa yang mau menemani kita? Flori dan Paul adik-adiknya pun jauhh.” Mama berkata kemudian melerai aku dan Papaku yang memang sering bertengkar. Sama seperti perempuan seusiaku yang belum menikah, Aku tinggal di rumah kedua orang tuaku. Papa adalah guru di SMA Negeri I Ruteng, sebuah SMA Negeri paling keren di kota Ruteng yang juga merupakan almamaterku. Mamaku bekerja sebagai guru SD. Aku adalah anak sulung. Dan memiliki dua orang adik laki-laki. Adikku yang kedua sedang menempuh perkuliahan di Malang sedangkan adiknya yang bungsu bersekolah di SMP Seminari Kisol.

“Ya sudah, Ayo Enu Vero minum kopi ini. Nanti kalo sudah menjadi ampas, silahkan tiris sendiri ampasnya.” Kata Tanta Sebina kemudian.
Lima belas menit berlalau, Kopiku sudah tersisa ampas, aku lalu menelungkupkan gelas kopiku dan menunggu sampai ampasnya melengket di dinding gelas.

“Ya sudah selesai. Berikan gelas itu padaku!” Kata tanta Sebina kemudian. Aku menurut memberikan gelas itu pada tanta Sebina.

“Wah wah wah, saya melihat Enu Vero adalah seorang anak yang pintar. Karir kamu akan lancar sekali. Coba lihat ini ada jalan lurus di ampas kopi kamu. Ini berarti karir kamu akan berjalan mulus,” kata tanta Sebina sambil menunjukan sebuah jalan di ampas kopi yang melekat di dinding gelas. Aku tersenyum pura-pura mengerti.

“Yah memang, Vero ini sudah dari kecil berprestasi.” Kata Papa kemudian.

“Kalo soal jodoh! Saya melihat dua orang laki-laki akan masuk ke dalam kehidupan percintaanmu kelak. Dua orang laki-laki ini yang satu bertubuh pendek yang satu bertubuh tinggi. Kalo pesan saya berhati-hatilah dengan yang bertubuh pendek. Dia sepertinya tidak serius denganmu.” Kata Tanta Sebina lagi. Aku terdiam tersenyum padanya antara tidak percaya dan percaya.
**
Sebulan berlalu sejak peristiwa ramalan itu, dan tanpa disangka-sangka dua orang pria bertubuh pendek dan dan bertubuh tinggi mendekati aku. Yang bertubuh tinggi bernama Robert dan yang bertunggu pendek bernama Leksi. Kedua orang itu aku temui saat mengikuti prajabatan atau pelatihan para calon PNS yang telah lulus testing di Kupang, ibukota propinsi NTT. Dan keduanya begitu gencar untuk mengikuti aku. Akupun bercerita pada mamaku tentang hal itu.

“Itukan apa Mama bilang apa! Ramalan tanta Sebina benar,” kata Mama.

“Memang ramalan toto kopinya jitu! Kalo tidak salah kau harus jauhi yang bertubuh pendek itukan!” Papaku ikut menyambung. Aku tersenyum pada keduanya. Kembali ramalan itu terniang-ngiang ditelingaku.

Akupun mulai menganalisa kepribadian kedua laki-laki itu. Leksi orang yang slengean, sebelum menjadi PNS dia bekerja sebagai penjaga sebuah warnet di kota Ruteng. Dia tidak begitu tampan tetapi punya lesung pipit di pipinya. Dia betubuh pendek tetapi badanya kekar. Hobbinya bermain sepakbola satu hal yang paling aku tak sukai darinya adalah dia tak pernah berhenti merokok. Dia juga suka melupakan janji yang kami buat bersama dan sama sekali tak bisa bangun pagi di hari minggu.
Sedangkan Robert, Badanya tinggi. Wajahnya Tampan dan senyummu memikat. Dia juga romantis dan baik hati. Tidak merokok dan tentu saja tertib. Dia tidak pernah terlambat akan janjinya. Terjadilah peristiwa itu, Kedua orang itu menyatakan Cinta
Leksi mangajakku makan ke sebuah warung bakso dan disana mengatakan perasaanya.
“Enu Vero, saya menyukai Enu. Apakah Enu mau menjadi pacar saya?” Sangat klasik dan yah biasa saja. Saya pun meresponnya dengan
“Biarkan saya berpikir. Beri waya waktu satu minggu.
Robert tiba-tiba memberikan aku sebuah buku Chiken soup for love couple. Tiba-tiba saat jam dua belas malamnya dia meng SMS

“Enu Vero buka halaman 21 dan rangkai semua kata-kata yang di bulatkan dengan spidol merah.”
Akupun membuka halaman tersebut dan terkejut waktu merangkai semua huruf itu.

“Maukah kau menjadi keasihku? Cukup SMS dan katakan ya dan besok pagi aku sudah ada di depan pintu rumahku”
Romantis dan mebuatku klepek-klepek dan yah tanpa ramalan tanta Sebina pun aku mengirim SMS ke Robert berisi “Ya” keesokan harinya Robert muncul di rumahku dan mebawakan seikat bunga. Selain akrab denganku Robert ternyata akrab dengan kedua orang tuaku. Aku semakin menyayanginya dan berterimakasih dengan ramalan tanta Sebina.

Aku dan Robert berpacaran selama sebulan. Kami selalu menghabiskan waktu bersama. Tempat pacaran kami adalah warung Bakso golo lanak yang terletak dekat PLN. Bakso di situ terkenal enak dan gurih. Sungguh aku berbahagia berpacaran dengan Robert sampai suatu hari peristiwa tak disangka-sangka terjadi.
Sebelum menjadi PNS dan bekerja di kantor Infokom, Robert adalah pegawai tata usaha di STKIP St Paulus Ruteng, sebuah sekolah tinggi ilmu keguruan. Salah seorang orang tua mahasiswanya suatu waktu datang kerumah kami. Hari itu juga hari minggu pagi dan aku kembali dibangunkan oleh Mamaku.
Begitu sampai di ruang tamu aku terkejut melihat seorang seorang bapak dan seorang perempuan kira-kira berusia dua puluh tahun yang tengah hamil.

“Enu Vero Maaf kami menganggu. Maksud kedatangan kami ke mari adalah untuk memperkenalkan Rida. Tunangan Robert yang tengah Hamil” Perkataan Bapak itu memporakporandakan semua isi hatiku.

**
Tamat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s