FF100KATA Melati

Aku mencintai Pram sudah sejak lama. aku dan Ibunya bersahabat baik. Dia sering bercerita tentang Pram.

“Pram itu anak yang baik. Aku beruntung menjadi Ibunya.” Aku kemudian sering memperhatikannya dia memang perhatian pada Ibunya. Awalnya Pram sama sekali tidak mempedulikanku, tapi ketika Ibunya jatuh sakit dan tak bisa mengobrol denganku lagi dia sering menyapaku
Lalu pagi tadi dia tiba-tiba mampir dan bilang padaku.

“Ibuku ingin segera punya mantu.  Kamukan tahu dia sakit-sakitan” Ratusan pisau tiba-tiba menusuk hatiku. Aku ingin teriak.  Aku bisa menjadi menantu yang ibumu inginkan.  Pram mendesah.

“Kurasa aku mulai gila. Melati sepertimu mana mengerti apa yang kurasakan.

Advertisements

FF 100kata Pagi

Pagi yang merekah di bulan September,  Silvester berjalan menyusuri lereng gunung.

“Pagi Sil, kau bersemangat sekali,” ujar Pak tani seraya memegang kerbaunya. Silvester hanya tersenyum dan terus berjalan kali ini menyusuri hamparan rumput.

“Jangan injak rumputnya anak nakal!” Ibu tua gemuk mengejarnya. Silvester lari terbirit dan tanpa sadar melewati sungai. Dia merasakan arus sungai menarik tubuhya,  dengan sekuat tenaga dia berenang menuju tepian dan memutuskan segera pulang. Dia berlari menuju rumahnya. Hari masih pagi, ketika dia bersandar kelelahan di pohon beringin. Sayup-sayup dia mendengar suara seorang anak kecil.

“Mama, aku lihat anak kecil di lukisan beringin itu tenggelam di lukisan sungai.”

FF 100KATA – Hujan

Perempuan itu berdiri tegak di bawah payung hitam. Gerimis membasahi tanah di sekelilingnya. Seorang pria berpakian putih duduk tak jauh darinya. Gerimis yang berubah menjadi hujan sama sekali tak membuatnya gigil.

“Sekarang aku benci hujan,” ujar si perempuan. 

“Mengapa? Bukankah kau selalu menyukai hujan?” Sahut si pria.

“Hujan membuatku selalu mengenang perpisahan kita dua tahun lalu.” Air mata membasahi pipi si perempuan.

“Aku selalu ada untukmu, Sayang. Aku tak pernah pergi darimu,” ujar sang pria, sambil mendekat ke arah si perempuan. Si perempuan duduk dan memegang batu nisan di depannya.

“Kamu baik-baik di surga, yah. Aku nikah bulan depan.”

This Is What Weight Loss Does To Your Brain

TIME

Too much fat weighs down not just your body, but also your brain.

Obesity harms most organs in the body, and new research suggests the brain is no exception. What’s more, the researchers found that getting rid of excess fat actually improves brain function, reversing the ill effects of the extra weight. The new study, which focused on people who underwent bariatric surgery, found that the procedure had positive effects on the brain, but other research has shown that less invasive weight loss strategies, like exercise, can also reverse brain damage thought to be related to body fat.

Here’s why that matters: Obese men and women are estimated to be about 35% more likely to develop Alzheimer’s compared to people of a normal weight. Some research suggests that body fat ups the number of proteins in the brain that trigger a cascade of events that predispose someone to the disease…

View original post 479 more words

(Tantangan FF) Kopi Terenak

Tanpa kopi, suami saya mati. Dia sering bilang begitu di awal-awal kami pacaran.

“Kopi itu kaya oksigen buat aku, Las. Dadaku suka sesak kalau ga minum kopi. Persis seperti orang kekurangan oksigen” ujarnya di kencan pertama kami.
Waktu pertama kali saya buatkan dia kopi, dia marah. Kami menikah baru dua hari waktu itu.

“Kopi yang enak itu satu sendok gula, satu sendok kopi, secangkir air panas, Las. Kok kamu cuma taruh kopi setengah sendok. Itu kopi untuk laki-laki banci. Aku ini laki-laki sejati. Kamu ga becus banget melayani suami.” Saya membuatkan kopi seperti yang dia perintahkan.

“Bagus, jangan bikin aku menyesal menikahimu.”

Suatu waktu saya pernah bertanya.

“Kalau disuruh milih kopi atau aku, kamu pilih siapa, Ko?”

“Kopilah. Kamukan nggak mungkin meninggalkanku.” Sialnya, meski perkataannya menyakitkan, tapi dia benar. Saya terlalu cinta pada suami saya itu. Cinta saya makin besar saja meski selama lima tahun ini kami belum punya anak dan Joko jarang menyentuh say. Lalu seperti angin di musim kemarau, Bayu datang ke kehidupan saya, menjawab semua pertanyaan yang tak bisa saya jawab dari diri Joko.

“Kamu kenal Bayu, Las?” Katanya pagi ini.Saya mengangguk was-was sambil meletakkan secangkir kopi di meja di hadapannya.

“Iya, dia punya kafe kopi di ujung gang.”

“Jangan ketemu dia lagi!”

“Kenapa? Karena dia tahu rahasia kamu ga bisa bikin aku ham..” Belum selesai saya menyelesaikan omongan saya, suami saya mendorong cangkir kopi ke arah saya dan membasahi celana saya.

“Kalau aku bilang jangan ketemu dia. Jangan, perempuan keparat!” Dia kini mendorong meja ke arah saya. Saya terpental ke belakang

“Sekarang buatkan kopi lagi!” Aku mendesah pedih dan berlalu ke dapur. Di dapur sambil menahan sakit di perut, saya keluarkan botol berisi racun tikus yang telah saya siapkan lama. Saya memasukkan semua isinya ke dalam cangkir. Teringat perkataan Bayu.

“Joko sering minum kopi di sini, loh, Las. Kamu memang istri yang ga becus membuat kopi enak saja ga bisa.” Suara kemayu Bayu membuat saya muak. Kalau saya tak bisa membuatkan kopi enak untuk memuaskan Joko, jangan harap Bayu bisa.

Ramalan Tanta Sebina.

Pada suatu hari Minggu yang cerah, tanta Sebina datang ke rumah kami. Tanta Sebina adalah kerabat dari pihak mama. Sungguh aku lupa bagaimana hubungan kekerabatan kami. Kalo tidak salah kakek mama dengan nenek Tanta Sebina adalah adik kakak atau entahlah. Aku tengah tertidur ketika pagi itu mama membangunkan aku.

“Vero ayo bangun! Tanta Sebina datang dari kampung. Ayo bertemu!” Mama membangunkan aku. Dengan malas aku bangun dari tempat tidur. Dengan segera udara dingin Ruteng menerpa tubuhku. Satu hal yang paling kubenci tinggal di Ruteng adalah udaranya yang dingin ini. Suhu di Ruteng bisa mencapai nol derajat celcius di pagi hari. Hal itu karena Ruteng terletak tepat di bawah kaki gunung Golo Lusang. Tetapi apa mau dikata, pilihanku sendiri yang membuat akau harus merasakan udara dingin Ruteng yang membuat kulit hitam ini.

Tiga bulan berlalu sejak aku lulus dari pergururaan tinggi lalu memutuskan kembali ke Ruteng, menetap dan bekerja di sini. Dua bulan aku lulus testing PNS yang sulit dan kemudian ditempatkan bekerja di kecamatan poco ranaka. Menjadi PNS adalah impian setiap orang yang menetap dan tinggal selamanya di kota Ruteng. Dan beruntunglah aku yang langsung lulus ini. Konon ada beberapa orang yang harus testing PNS sampai enam atau tujuh kali barulah lulus.

“Kalau kau jadi PNS maka hidupmu tenang. Meski gajinya sedikit akan datang terus.” Begitulah tanggapan mereka. Aku yang kuliah di Jakarta mula-mula tidak begitu tertarik untuk menjadi PNS, tetapi begitu tinggal di Ruteng aku sadar bahwa satu-satunya cara aman untuk dapat menikmati Ruteng adalah dengan menjadi PNS.
Ruteng adalah sebuah kota kecil, ibukota kabupaten Manggrai tengah, Kabupaten yang terletak di bagian barat Flores. Dulu Manggarai adalah satu kabupaten utuh tetapi sekarang sudah dibagi ke dalam tiga kabupaten yaitu kabupaten Manggrai Barat, kabupaten Manggarai tengah dan kabupaten Manggarai Timur. Saking kecilnya Ruteng, semua orang seperti saling mengenal. Aku pernah mengenal seorang teman yang ternyata kakak dari temanku itu menikah dengan salah seorang sepupuku dari pihak Mama. Benar-benar tak selebar daun kelor. Selain kecil, tak banyak hiburan di kota Ruteng. Tidak ada mall di kota ini, hanya ada tiga supermarket besar dan beberapa toko-toko yang terletak di pusat kota. Di sini juga jarang terdapat restauran, hanya warung-warung bakso yang tersebar di seluruh jalan kota. Penduduk kota Ruteng jarang makan di luar, masakan sendiri di rumah lebih enak dan lebih bersih. Apalagi Ruteng dekat dengan Reo, Borong Dan Labuan Bajo tiga kota penghasil ikan laut terbesar di Flores.

Ketika aku sampai di ruang tamu lima menit kemudian, aku melihat seorang perempuan sedang memegang sebuah gelas berisi ampas kopi. Sementara Papa dan Mamaku tampak menyimak perkataan yang keluar dari mulut Perempuan itu.

“Sepertinya Pak Frans akan mendapatkan rejeki. Saya bisa melihat ada orang yang akan membawakan bingkisan untuk bapak.” Demikian kata perempuan yang aku duga adalah Sebina tantaku itu. Kedua orang tuaku tampak tersenyum senang mendengar perkataanya.

“Wahh akhirnya Enu Vero bangun juga!” Tiba-tiba tanta Sebina menyapaku yang berdiri mematung di pintu penghubung ruang tamu dan ruang keluarga. Aku tersenyum menatap perempuan itu. Sebina belum begitu tua. Usianya kira-kira limapuluhan lebih. Raut wajahnya yang ramah dan tatapan matanya tenang membuat aku menyukainya. Tinggi badanya sedang, badannya gemuk tetapi tidak berlebihan, rambutnya lurus akibat rebonding yang memang sedang ngetrend di kalangan perempuan Manggarai yang rata-rata berambut ombak.

“Selamat pagi, Tanta!” Aku menyapa sopan lalu segera duduk di samping orang tuaku.

“Vero sepertinya sudah lupa dengan saya. Saya ini Sebina. Saya dulu pernah ke mari saat Vero berusia lima tahun.” Tanta Sebina berkata. Aku hanya tersenyum. Jelaslah aku tak ingat dengan dia. Saat aku berumur lima tahun itu adalah tujuhbelas tahun yang lalu.

“Ayo selamat pada Tanta Sebina. Kami sedang toto kopi.” Kata Mamaku kemudian. Aku mengernyitkan dahi. Toto kopi adalah seni ramalan khas orang Manggarai. Seseorang akan minum segelas kopi tubruk sampai tersisa ampasnya. Lalu kemudian gelas itu ditekuk sehingga ampasnya jatuh dan melekat di dinding gelas. Konon ada beberapa orang yang dianugerahi kemampuan bisa membaca peruntungan dengan melihat ampas kopi itu. Aku sebenarnya bukan tipe orang yang mempercaya ramalan jadi tidak begitu antusias menanggapi kedatangan tantaku itu.

Continue reading

PISAU SANG PEMBUNUH bagian satu

Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?
Seperti pisau yang dicabut pelan-pelan
dari cengkraman luka.
-Joko Pinurbo-

Dengan mengenggam sebuah pisau, dia berdiri di depan cermin memandang bayangannya sendiri. Matanya dan mata pisau sama-sama tajam. Pancaran lampu kamar yang temeram terpantul di matanya dan mata pisau yang berdekatan. 
Pisau di tangannya spesial seperti dirinya. Pisau itu terbuat dari perak. Di ujung gagang yang juga terbuat dari perak, ada ukiran kepala naga. Dia teringat sebutan pemilik tokoh pisau di tempat dia membeli pisau itu di London beberapa waktu silam. Messer zu töte! A Knife to kill! Pisau yang dibuat untuk membunuh!
Sebentar lagi, dia memutuskan akan membunuh orang dengan pisau itu.

Jam di dinding kamar menujukkan pukul tiga dini hari. Dia merasakan adrenalin mengambil alih kerja darah, membuat jantung berdegup lebih kencang, dan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Dia terkejut mendapati dirinya tak gentar apalagi takut. Keinginan membunuh seolah-olah menjadi seperti oksigen. Harus dihirup, harus dilakukan, kalau tidak mati. Dia meletakkan pisau peraknya hati-hati ke dalam sarungnya. Sudah saatnya.

Untuk terakhir kali dia memandang pantulan tubuhnya di cermin. Dia tampak gagah mengenakan setelan jas armani, asli dari Italia. Apa yang Ibunya katakan jika melihat dia gagah begini? Dia mencibir. Beruntunglah perempuan itu telah mati di neraka. Dengan perlahan dia menyelipkan pisau di saku bagian dalam jasnya. Dalam hati dia senang memakai jas hitam, bukan jas putih.
***

Honey melangkah perlahan menelusuri lorong lantai tiga wisma mawar. Lampu lorong yang temeram memperjelas wajahnya yang pucat. Seluruh tubuhnya sakit terutama di bagian selangkangan. Lorong yang kira-kira sepanjang 12 meter itu sepi dan suram. Dinding tembok yang cokelat mempersuram suasana. Awalnya Honey benci warna dinding itu. Mengapa tidak putih? Seolah-olah warna putih  haram untuk mereka yang melakukan tindakan asusila. Lupita pemilik Wisma Mawar pernah berkata.

“Kata orang, warna cokelat mempengaruhi libido laki-laki. Warna ini membuat mereka ejekulasi lebih cepat. Memangnya kalian mau penis mereka terus berada di dalam tubuh kalian.” Alasan yang tidak masuk akal tetapi entah mengapa diterima Honey, mengingat selama menjadi pelacur dia jarang mengalami orgasme (Dia hanya perlu berteriak, bergoyang bila perlu, mengganti posisi, dan berdoa pelanggannya segera ejakulasi.) Walapupun dia benci warna cokelat kalau warna itu bisa membuat pekerjaannya lebih mudah tak apalah, meski kemudian dia selalu saja enggan setiap melihat dinding tembok.

Honey adalah nama dunia malamnya, nama aslinya Asri Purnamasari, orang tua menamainya demikian dengan maksud agar kehidupannya selalu asri dan bersinar seperti bulan purnama. Sayangnya arti namanya tak sebagus jalan hidupnya. Saat berumur tujuh tahun Ayahnya memutuskan lari dengan perempuan lain dan Ibunya bunuh diri. Asri dititipkan ke kerabat Ibunya, yang dia panggil bibi. Dia tumbuh sebagai perempuan dengan wajah ayu, tubuh bidadari. Dadanya membusung indah, bulat seperti kepala bayi yang baru lahir. Pantatnya berisi, kakinya jenjang, pinggulnya semampai. Bukan hanya tetangga bibinya yang meneguk liur melihat tubuhnya, tapi juga suami bibinya.
Dia diperkosa dan memutuskan lari dari rumah kerabatnya. Lupita menemukannya gelandangan di jalanan kota Wedangan. Lupita langsung melihat permata pada tubuh Honey. Dia memberi Honey makan dan tempat tinggal kemudia memaksanya bekerja padanya.

“Kamu mau dapat uang banyak tanpa susah-susah bekerja?” tanya Lupita. Honey mengangguk rapuh.

“Kamu akan saya latih.” Lupita tersenyum senang. Awal mulanya dia kesal karena Honey bukanlah perawan tetapi dia perempuan itu cepat tangkap saat memperlajari hal seputar kepuasan seks. Saat pertama kali dia dipamerkan di Wisma Rose, banyak orang yang kagum padanya. Hanya dua bulan setelah dia menjadi pelacur kelas biasa, Lupita menyuruhnya masuk kelas primadona.

Continue reading

(Pisau sang pembunuh) Sekilas tentang Polda Wedangan

Kepolisian Daerah Wedangan berbentuk bundaran, terletak di sisi kanan Jalan Adi sucipto  jalan raya utama Wedangan. Ada lima buah bangunan yang berlantai lima  yang mengelililingi sebuah bangunan berlantai dua. Lima bangunan besar berlantai lima itu adalah lima direktorat yang ada di POLDA Wedangan sedangkan bangunan berlantai dua adalah bagian informasi dan ruangan-ruangan petinggi POLDA.  Ada lima ribu polisi yang bekerja di tempat seluas 3000 meter persegi yang dikelilingi pagar besi setinggi dua meter ini. Kelima ribu polisi itu tersebar di lima direktorat yang ada.
POLDA Wedangan dipimpin oleh Inspektur Jendral Polisi Joko Suryo, dengan Wakilnya Brigadril Jendral Polisi Erik Nasution.  IRJEN Joko Membawahi lima direktorat yaitu direktorat Lalu Lintas, Direktorat Reserse Kriminal, Direktorat Narkoba , Direktorat Reserse  Kriminal khusus dan Direktorat Intelegensi. Masing-masing direktorat dipimpin oleh Polisi berpangkat komisaris besar.
Bangunan direktorat reserse dan kriminal atau biasa disingkat DIRRESKRIM terletak di ujung selatan. Dipimpin oleh seorang kepala direktorat reskrim (KADITRESKRIM)  Komisaris Besar Edi Raharjo. KOMBES Edi membawahi Lima bagian direktorat  antara lain Bagian Pidana Umum (PIDUM), bagian Pidana Khusus (PISUS), Bagian Pengawasan Pelindungan Perempuan dan Anak (PANWAS PPA). Masing-masing bagian dipimpin oleh kepala bagian diretoriat reserse dan kriminal (KABAGDIRRESKRIM) berpangkat Komisaris Polisi. Bagian Pidana Umum adalah bagian direktorat reskrim yang mengangani pembunuhan. Bagian Pidum dipimpin oleh KOMPOL Ewin yang membawahi empat unit yaitu, unit satu yang menangani pembunhan, unit dua yang menangani perampokan, unit tiga yang menangani pencurian dan kekerasan (CUNRAS) dan unit empat yang menangani perampokan. Masing-masing unit dipimpin oleh kepala unit yang berpangkat Ajun Komisaris Polisi. Ajun Komisaris Polisi Joko Maulana adalah Kepala Unit satu yaitu unit yang menangani pembunuhan.

(FF) Dada 36B Milik Lastri

Hujan selalu mengingatkanku pada dada 36B milik Lastri. Pertama kali aku bertemu mereka saat hujan turun deras di kamar hotel yang bau dan sumpek.

“Aku benci payudaraku!” ujar Lastri di sela-sela derai hujan yang deras. Aku memandang dada telanjangnya tak berkedip.

“Sayang, kedua payudaramu luar biasa. Anugerah terindah..”

“Kalau dadaku hanya 32A kau masih menginginkanku?” dia merengut dan menutup kedua payudaranya dengan tangan. Aku meraihnya dalam pelukan.

“Sayangku, aku mencintaimu. Kau tahu itu. Aku yang takut kehilanganmu. Dan percayalah memiliki dada 32A juga tak mengenakkan.” Dia mendesah.

“Aku kesal Ari. Aku benci melihat tatapan-tapan pria hidung belang kala melihat payudaraku. Kau tahu betapa aku membenci mereka bukan?” Dia menatapku. Air mata mengenang di matanya. “Aku.. gara-gara payudara sialan ini dia memperko…”

“Sudah sayang! Sudahlah!” Aku memeluknya lebih erat. Dia menangis di bahuku. Isakannya bergantian dengan bunyi hujan. Aku menyentuh payudaranya. Tangisannya berubah menajdi erangan.

“Arina, kita lari aja ke mobil yuk. Ujannya bakalan lama nih.” Suamiku Rama mengagetkan. Aku pelan-pelan bangun dari lamunan. Hujan terus mengguyur bumi.

“Baiklah Sayang. Ayo kita pergi!” Kami berlarian dalam hujan dan bayangan paydara lastri tak juga pergi

Muku Ca Pu’u Neka Woleng Curup, Teu Ca Ambo Neka Woleng Jangkong

Nadus (bukan nama sebenarnya) adalah seorang juragan tanah di kampung Tenda, sebuah kelurahan di Ruteng, Manggarai,  Flores, NTT. Dia mempunyai tiga orang putra Frans, Nabas, dan Linus (juga bukan nama yang sebenarnya) Karena sudah tua dan sakit-sakitan, suatu waktu Nadus meninggal. Sebelum meninggal dia berpesan agar empat buah tanahnya dibagi rata oleh anak-anaknya. Namun kenudian masalah muncul Nadus mempunyai empat tanah dan tiga putera. Setiap putera telah memiliki masing-masing tanah, tinggal satu tanah lagi.
Frans yang paling tua berkata,

“Saya yang berhak memperoleh tanah itu. Saya ini anak sulung.”

Pendapat itu dibantah Nabas.

“Hanya karena kau anak sulung bukan berarti kau berhak. Saya anak kedua juga punya hak yang sama.”

Linus anak ketiga tak mau kalah

“Saya anak bungsu,  anak kesayangan bapak. Saya yang urus bapak sebelum dia meninggal. Saya yang berhak.” Adu mulut sengit terjadi tak terelakkan. Disusul saling hantam. Beruntung ketika Frans mengancam kedua adiknya dengan parang,  orang kampung Tenda melerai dan membawa mereka di ketua golo atau ketua kampung. Mendengar hal tersebut Tua Golo Tenda mempertemukan mereka dan memberi nasihat.

“Muku ca puu neka woleng curup, teu ca ambo neka woleng jangkong.”

Ketiga kakak beradik itu menyesal dan menyadari kesalahan mereka.

“Kita ini masa saling membenci hanya karena tanah. Bapak sudah tidak ada masa kita saling berkelahi,” ujar Frans dan disetujui kedua adiknya.

Muku ca puu berarti pohon pisang satu tandan. Teu ca ambo berarti tebu satu rimbun.
Neka woleng curup/jangkong artinya tidak boleh berbeda pendapat atau bertengkar.
Muku ca puu neka woleng curup, teu ca ambo neka woleng jangkong adalah peribahasa Manggarai yang berarti sesama saudara harus saling bersatu padu menjaga kerukunan jangan sampai terpecah belah.

Pisang dan tebu adalah tanaman yang selalu berkelompok dan bersama. Kedua tunbuhan ini mewakili persaudaraan orang manggarai yang kuat dan kokoh. Dalam mengurus pernikahan  misalnya. Orang manggarai menganut budaya patrineal, dimana perempuan mengikuti suami. Dalam pernikahan dikenal istilah belis atau mahar berupa sejumlah uang yang diberikan mempelai pria kepada mempelai perempuan sebagai tanda terima kasih kepada orangtua mempelai perempuan karena sudah membesarkan mempelai perempuan selama ini dan mempelai perempuan akan menjadi keluarga mempelai laki-laki.
Belis ini bisa mencapai ratusan juta karena itu ada istilah sida yang secara harafiah berarti menyumbangkan sejumlah uang kepada keluarga laki-laki. Dalam hal ini yang menyumbang adalah saudara dan saudari dari kedua orangtua laki-laki. Begitupun dalam mengurus kematian. Ada istilah kelas atau kenduri yang bertujuan memutuskan hubungan antara orang yang meninggal dan yang masihh hidup. Di kelas juga dikenal istilah sida dimana keluarga mengumpulkan uang agar acatanya berlangsung lancar.
Oleh karena itu kebersamaan dalam persaudara orang manggarai sangat dijunjung tinggi.  Diharapkan persaudaraan itu selalu kokoh seperti satu tandan pisang dan satu kumpulan tebu.

Peribahasa ini biasanya diberikann oleh orangtua sebagai nasihat anak-anaknya agar tidak bertengkar atau berselisih pendapat. Hendaklah persaudaraan serasi dan kokoh seperti pisang dan tebu. Siapa lagi yang pertama kali menolong jika ada kesusahan kalau bukan keluarga? Selain keluarga peribahasa ini juga mengandung nasihat bagi seluruh orang Manggarai.  Orang Manggarai juga diharapkan menjaga kerukunan dan kebersamaan agar senantiasa hidup dengan damai karena sesuanghuhbya sesama Manggarai adalah saudara. Pepatah mungkin ini muncul karena banyaknya perang tanding atau perang antar suku yang terjadi jaman dahulu.

Sekian dan salam manis dari Manggarai

Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati”

image