(Pisau sang pembunuh) Sekilas tentang Polda Wedangan

Kepolisian Daerah Wedangan berbentuk bundaran, terletak di sisi kanan Jalan Adi sucipto  jalan raya utama Wedangan. Ada lima buah bangunan yang berlantai lima  yang mengelililingi sebuah bangunan berlantai dua. Lima bangunan besar berlantai lima itu adalah lima direktorat yang ada di POLDA Wedangan sedangkan bangunan berlantai dua adalah bagian informasi dan ruangan-ruangan petinggi POLDA.  Ada lima ribu polisi yang bekerja di tempat seluas 3000 meter persegi yang dikelilingi pagar besi setinggi dua meter ini. Kelima ribu polisi itu tersebar di lima direktorat yang ada.
POLDA Wedangan dipimpin oleh Inspektur Jendral Polisi Joko Suryo, dengan Wakilnya Brigadril Jendral Polisi Erik Nasution.  IRJEN Joko Membawahi lima direktorat yaitu direktorat Lalu Lintas, Direktorat Reserse Kriminal, Direktorat Narkoba , Direktorat Reserse  Kriminal khusus dan Direktorat Intelegensi. Masing-masing direktorat dipimpin oleh Polisi berpangkat komisaris besar.
Bangunan direktorat reserse dan kriminal atau biasa disingkat DIRRESKRIM terletak di ujung selatan. Dipimpin oleh seorang kepala direktorat reskrim (KADITRESKRIM)  Komisaris Besar Edi Raharjo. KOMBES Edi membawahi Lima bagian direktorat  antara lain Bagian Pidana Umum (PIDUM), bagian Pidana Khusus (PISUS), Bagian Pengawasan Pelindungan Perempuan dan Anak (PANWAS PPA). Masing-masing bagian dipimpin oleh kepala bagian diretoriat reserse dan kriminal (KABAGDIRRESKRIM) berpangkat Komisaris Polisi. Bagian Pidana Umum adalah bagian direktorat reskrim yang mengangani pembunuhan. Bagian Pidum dipimpin oleh KOMPOL Ewin yang membawahi empat unit yaitu, unit satu yang menangani pembunhan, unit dua yang menangani perampokan, unit tiga yang menangani pencurian dan kekerasan (CUNRAS) dan unit empat yang menangani perampokan. Masing-masing unit dipimpin oleh kepala unit yang berpangkat Ajun Komisaris Polisi. Ajun Komisaris Polisi Joko Maulana adalah Kepala Unit satu yaitu unit yang menangani pembunuhan.

Advertisements

Kucing Siluman

Aku mencintai pacarku Joko. Dia tampan, baik hati dan sangat perhatian. Kami telah bersama selama empat tahun lamanya. Dan kalo tak ada halangan dua bulan lagi kami akan menikah. Tetapi ada satu hal yang paling aku benci dari Joko, yaitu kesukaan dia terhadap kucing. Sungguh! Aku benci kucing dengan segenap jiwa dan ragaku. Tetapi karena cintaku yang begitu besar pada Joko, kecintaannya pada kucing yang begitu besar masih bisa kuterima. Namun semua berubah saat Pusy kucing hitam, entah jenis apa. Memasuki hidup kami.

“Kenalkan ini Pussy, Las. Kucing baruku,” kata Joko waktu pertama kali dia memperkenalkan aku dengan Pussy. Aku menatap Pussy enggan dan terkesiap ketika kucing itu menatapku penuh tajam. Matanya yang berwarna abu-abu itu mentapku penuh kebencian. Aku merinding.

“Pussy ini pacarku, Lastri.” Joko mendekatkan kucing itu padaku. Dan demi langit bumi dan segala isinya, aku melihat kucing itu membuang muka. Dia malah mendekatkan dirinya pada Joko.

“wah wah wah, kamu cemburu yah pada Lastri,” tanya Joko mengelus kepala Pussy penuh kasih sayang. Pussy mengeong manja mendekatkan kepalanya ke dada Joko.

“Darimana kau dapatkan kucing ini, Ko?” tanyaku risih dan mulai jijik dengan Pussy

“Dia datang sendiri. Tadi pagi tiba-tiba dia sudah berada di depan rumah. Mungkin dia tahu kali yah, aku ini sangat menyukai kucing,” jawab Joko acuh sambil terus mengelus kepala Pussy

“Tapi kau kan sudah memiliki sepuluh ekor kucing. Ko. Kenapa kau masih memelihara kucing ini. Siapa tahu dia ada pemiliknya?” Aku berkata ngotot. Tiba-tiba timbul keinginan untuk menjauhkan pussy dari Joko.

“Kita lihat saja kalo satu minggu ga ada yang mencari Pussy, dia akan aku pelihara. Terus terang, Las aku mulai sayang pada kucing ini.” tanggap Joko dan sumpah demi langit dan bumi lagi, aku melihat pussy menyeringgai puas ke arahku seolah mengatakan. Joko milikku.

Dan sialnya sudah satu bulan berlalu, tak ada satupun ada orang yang merasa kehilangan kucing. Dan selama satu bulan itu hubunganku dan Joko terancam bahaya. Kami tak pernah lagi berduan, Pussy tiba-tiba begitu lengket dengan Joko. Tak pernah sekalipun dia meninggalkan Joko sendirian berduan denganku. Bahkan saat kami kencan di malam minggupun dan anehnya, Joko tiba-tiba begitu lengket dengan kucing sialan itu. dan Tiba-tiba ide jahat terbersit di benakku, Aku akan menghilangkan kucing sialan itu selamanya dari dunia ini.

“Tumben kau ingin bersama pussy, Las. “ Itu pertanyaan Joko ketika aku mengutarakan niatku meminjam Pussy

“Aku hanya ingin dekat dengan hewan kesukaanmu itu, Ko,” jawabku manja. Joko yang tidak menaruh curiga apa-apa memberikan kucing sialan itu padaku. Aku menerima pussy dengan enggan dan anehnya pussy tidak protes waktu aku membawanya masuk ke dalam mobilku dan segera Menjalankan mobil meninggalkan rumah Joko. Sempurna! Pikirku senang, kepalaku memutar otak mencari kira-kira ide apa yang paling baik untuk melenyapkan kucing sialan ini.

“Akhirnya, kita bisa berduaan, Lastri.” Terdengar suara perempuan. Aku bergidik dan kaget waktu menyeadari itu suara pussy.

“Lastri yang malang. Kau pikir aku tidak akan memanfaatkan kebersamaan kita ini?” Pussy meloncat naik ke pangkuanku. Mobilku oleng. Segera aku menginjak rem menghentikan mobilku dipinggir jalan

“Apa-apaan ini? Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau bisa bicara?” Aku bertanya bingung takut dan ngeri. Pussy menatapku tajam dan jahat.

“Aku juga mencitai Joko, Lastri dan aku juga ingin bersamanya. Kau hanya mengganggu hubungan kami” tiba-tiba mobilku berjalan sendiri. Aku ketakutan setengah mati. Berkali-kali kuinjak pedal rem tak terjadi apa-apa. Selamat tinggal Lastri. Kata Pussy sebelum mobilku menabrak sebuah truk besar.

Arghhhhhhhhhhhhhhhh

*

Aku terbangun dan mendapati diriku di sebuah ruangan berwarna putih. Tampak Joko berdiri di hadapanku.

“Kau sudah bangun, Pussy.” Joko mengelus-ngelus kepalaku. Hah? Pussy? Apa maksudnya?

“Maafkan aku, Sayang. pussy tiba-tiba menyerangku saat aku sedang mengemudi. Aku tak sengaja membuang dia keluar mobil dan akhirnya dia ditabrak Sepeda motor” sebuah suara tiba-tiba muncul dan aku mendapati diriku berdiri di samping Joko.

“Bukan salahmu, Las.” Joko memeluk perempuan yang mirip aku itu.

“Dia bukan lastri, aku lastri”.” Teriakku kencang tetapi yang terdengar kemudian membuatku ngeri. Suaraku berbunyi meong meong lirih.

“Ayo pergi sayang!” Perempuan yang menyerupaiku mengajak Joko keluar. Joko menurut! Sebelum pergi perempuan itu memandang tajam dan jahat padaku. Pandangan jahat dan tajam seperti pandangan Pussy.

Tamat

Maze

Tiga orang anak kecil kira-kira seusia Liam anak laki-lakiku yang berusia sepuluh tahun tiba-tiba berlari kecil dan masuk ke halaman rumahku.

“Tante, Liam ditabrak mobil Tante!” Kata mereka dengan wajah ketakutan. Spontan aku bangkit dan berdiri.

“Ditabrak mobil dimana?? Jokoooooooooooooooooooooooooo!” Aku panik dan berteriak memanggil Joko sopirku.

“Di jalanan di depan rumah pak RT, Tante” Jawab ketiga anak kecil yang tampak takut melihat reaksiku.

“Bagaimana kondisi Liam sekarang?” Kataku histeris pada ketiga anak kecil itu. Bukannya menjawab anak-anak itu malah lari ketakutan keluar dari rumah.

“Tunggu kalian anak-anak setan. Kalau sampai ada apa-apa dengan Liam kubunuh kalian semua” Teriakku histeris.

“Ada apa Bu Lastri?” Joko tiba-tiba muncul.

Liam Joko.. Liam.. Liam ditabarak mobil, Ko.” Kata ku. Joko tampak bingung.

“Tapi  Bu, Den Liam sedang bersama Aku di ruang tengah!” Dia menunjuk ke  arah pintu tampak Liam anakku berdiri di sana.

“Mama kenapa sih, Ma? Teriak kaya orang gila.” Katanya. Aku tercekat.Hampir tidak percaya. Joko menghampiriku.

“Kamu baik-baik saja, Sayang?” Katanya. AKu tersenyum mencuri pandang ke arah Liam yang kembali bermain.

“Jangan bermesraan denganku di depan Liam.” Aku memarahi laki-laki gagah yang sangat kucintai itu. Dia tersenyum dan memengelus tanganku.

“Aku khawatir padamu. Apakah kau yakin, kau baik-baik saja?” Tanyanya lagi.

“Aku baik-baik saja. Sebaiknya aku mengunjungi seorang psikoatrik.” Kataku. Joko mengerutkan dahinya.

“Sayangku kamukan Juga seorang psikiatrik.” AKu hanya tersenyum mendengar perkataannya. Ini ketiga kalinya aku berhalusinasi anak kecil datang menyampaikan kematian anakku. Ada yang tidak beres denganku.

***

“Dok, kayanya ada yang aneh dengan diriku.”  Aku menatap perempuan yang sedang duduk di hadapanku. Umurnya kira-kira tigapuluhan tahun, masih cantik dan seksi. Wajahnya memancarkan kecemasan. Tentu saja ada yang aneh dengan dirinya kalau tidak ngapain di datang ke psikiater. Tetapi tentu saja pendapat itu kusimpan dalam hati kalau diutarakan tentu tak ada yang datang ke tempat praktikku lagi.

“Coba ibu ceritakan apa yang ibu rasakan?” Kataku, perempuan itu tampak menarik napas panjang sebentar.

“Aku merasa aku berhalusinasi, Dok.” Aku tertegun mendengar perkataan perempuan itu.

“Mengapa ibu bisa tahu bahwa Ibu berhalusinasi?” Kataku

“Dok, Aku ini dokter psikiatrik juga tetapi aku butuh dokter lain untuk memeriksa ku. Sejujurnya aku tak bisa memeriksa diriku sendiri dan tidak yakin betul apa yang aku alami.”  Lagi ku tercekat.

“Baru kali ini aku punya pasien yang juga seorang dokter jiwa.” Kataku

“Aku butuh bantuan Anda, Dok. Aku selama ini sering berhalusinasi. Aku selalu berhalusinasi bahwa ada tiga orang anak kecil datang padaku dan mengatakan anakku Liam telah meninggal.” Kata perempuan itu.

“Anak ibu bernama Liam? Wah sama dengan anak ku. Anakku juga bernama Liam.” Kataku. Perempuan itu tampak berpikir sejenak.

“Aku bawa foto anakku.” Katanya mengambil sebuah foto dari dalam tas dan memberikan foto itu kepadaku. Betapa kagetnya waktu kulihat foto di tangan perempuan itu. Itu foto Liam anakku.

“Bagaimana bisa foto ini ada padamu? Ini foto liam anakku.” Aku berkata marah pada perempuan di depanku.

“Tidakk itu foto anakku” Perempuan di depanku tiba-tiba meraih foto dari tanganku dan karena kutahan foto itu sobek.

“Kau membunuh anakku! Kau membunuh anakku” Perempuan di depanku berteriak histeris.

“Jokoooooooooooooooooooooooo!” aku berteriak memangil Satpamku, sebelum perempuan di depanku mengamuk parah.

“Dokter Lastri Anda baik-baik saja?” Joko tiba-tiba datang.

“Bawa pergi perempuan gila ini. Masa dia bilang Liam adalah anaknya!” Kataku marah. Joko menatapku heran.

“Tidak ada siapa-siapa di sini, Bu!” Kata Joko dan seketika warna dinding ruangan berubah menjadi putih. Joko hilang berganti dua orang  berpakian dokter dan perawat berdiri di depanku.

“Siapa kalian? Dimana aku?” AKu berteriak histeris

“Ibu Lastri tidak ingat-ingat apa-apa tentang kejadian tabrakan itu?” Dokter di depanku berkata pelan dan tiba-tiba kejadian tabrakan Liam teringat kembali. Aku dan Joko Sopirku di depan kemudi. Liam di jok belakang. Liam tengah tertidur ketika aku mengecup pipi Joko dan sebuah mobil truck menghantam mobil kami.

“Bagaimana Liam? Bagaimana Joko?” Kataku histeris.

“Kasih dia suntikan penenang, Sus!” Sayup-sayup terdengar suara dokter.

“Kasihan yah padahal dulu beliau psikiater hebat setelah kematian selingkuhannya yang juga sopirnya dan anak laki-laki satu-satunnya dia jadi begini.” Terdengar sayup-sayup suara lainnya sebelum semuanya menjadi hilang.

Begitu terbangun Joko sopirku tiba-tiba ada di dekatku.

“Selamat pagi, Sayangg! Aku sudah mengantar Bapak ke kantor dan Den Liam ke sekolah. Sebelum praktik kamu mau dilayani?” Katanya nakal meraihku dalam pelukannya.

TAMAT

Luka Lula

Lula bertanya kepada Bayu,

“Kak, apakah Mama akan mencari kita?” Bayu menatap gadis kecil itu lembut dan mengelus rambutnya.

“Tenang sayang, Mamamu tidak akan mencari kita,”  kata Bayu. Mereka duduk berhadapan di tempat tidur. Sudah dua hari mereka berdua meninggalkan kota kecil mereka. Sudah dua hari pula, mereka berada di kamar wisma kecil jauh di kota tetangga.

“Lula takut, Kak. Kalau Mama sampai menemukan kita. Dia mungkin akan membunuh kita”

“Tenang, Sayang! Semua akan baik-baik saja” Bayu meraih Lula ke dalam pelukannya.

“Sakittttt” rintih Lula, ketika tanpa sadar Bayu menyentuh punggung Lula.

“Maaf Sayang” Bayu segera mengusap-ngusap punggung Lula. “Lukanya masih sakit?” tanyanya kemudian. Lula mengangguk

“Sini, Kakak obati” Bayu meraih larutan kapas dan botol obat merah dari meja di samping tempat tidur. Membuka baju Lula dan kembali ngeri melihat beberapa goresan luka  melintang di punggung Lula yang kecil. Dengan lembut Bayu mengusap kapas yang telah dicelup ke dalam obat merah ke goresan luka yang diciptakan silet itu.

“Kakak, apakah Kakak menyayangi Lula?” tanya Lula kemudian setelah lukanya selesai dioles. Bayu menatap Lula lama.

“Aku mencintaimu Lula”

***

Bayu tidak pernah tahu pasti, mengapa dia tidak begitu tertarik dengan wanita dewasa? Payudara besar dan pantat berisi sama sekali tidak membuatnya ereksi. Bagi Bayu payudara dan pantat perempuan dewasa sama seperti organ tubuh manusia yang lain, sama seperti tangan, kaki atau leher. Sungguh Bayu tidak homo. Sebagai laki-laki dia mencintai perempuan. Lebih tepatnya anak perempuan. Bayu lebih bernafsu melihat kecerian anak perempuan berusia delapan sampai tigabelas tahun daripada kegenitan manja wanita dewasa, Bayu lebih terangsang ketika tangan atau kaki kecil gadis kecil itu melangkah riang daripada lengokan manja perempuan dewasa. Bayu lebih  ingin mengecup bibir mereka yang mungil daripada bibir perempuan dewasa yang sensual. Bayu lebih mendambakan dada meraka yang rata. Entah mengapa, Bayu lebih tertarik pada mereka yang berusia lebih muda. Dia menyadari kelainanku ini saat duduk di kelas tiga SMA, saat teman-temannya yang lain menganggumi Angelina Jolie, Megan Fox atau Julia Perez Bayu mengagummi Dakota Fanning. Hal itulah yang akhirnya membuat dia masih melajang padahal usia telah menginjak tahun ke duapuluh lima. Dan Lula gadis kecil itu adalah cinta sejati dan belahan jiwa Bayu.

Continue reading

Black Memoar : Mengapa Saya Meniduri 100 laki-laki… (part 1)

Permulaan..

Saya bertemu Arlene Putri Bintang, medio april 2012.. Senyum lebar terpatri di wajahnya yang pucat saat itu.

“Kamu pasti Joko?” ujarnya lirih. Aku mengangguk. Dia menarik napasnya berat. Selang oksigen di hidungnya membuat menarik napas adalah pekerjaan tersulit di dunia.

“Kamu mau cerita saya dari mana, Ko?”

“Dari kecil, Mbak…. Apa yang membuat mbak akhirnya tidur dengan begitu banyak pria?” dia terkekeh..

“100 pria Joko. Hanya 100 pria. Akan kuceritakan pria-pria itu secara acak. Apakah kau akan tahan mendenagr kisahku? Ah Joko waktuku tak lama.. Tak lama lagi..” Dia memandang langit kamar rumah sakit.

“Saya punya banyak waktu untuk mendengar Mbak..”

“Baiklah, siapkan pena dan kertas. Aku ingin kisahku jadi novel yang bagus. Sangat bagus..

CERITA 1 : Laki-laki ke 39

Napas Arlene memburu. Tubuh telanjangnya bergerak teratur di atas tubuh sorang laki-laki. Sementara itu, mulutnya melumat mulut laki-laki itu dengan buas, seperti singa betina memangsa anak rusa setelah tiga hari kelaparan di padang rumput, tak menyisakan apapun selain tulang-belulang. Laki-laki itu terus mengelus-ngelus punggung Arlene, merasakan sensasi luar biasa yang ditimbulkan gerakan dan lenguhan mahkluk mempesona di atas tubuhnya. Gerakan mereka semakin cepat dan liar, bergantian di atas dan di bawah hingga akhirnya laki-laki itu mengerang kuat dan membenamkan kuku-kuku jarinya di punggung Arlene.

Continue reading

Finding Happiness

 Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

Finding Happiness

Ajen Angelina

934691_656048247745521_1028087244_nRumah pohon Pirates Bay

            “Ada lagi yang kau butuhkan, Sayang? Sayang!”

Perlahan-lahan aku bangkit dari lamunanku.

“Apa?”

“Aku tadi bilang, ada lagi yang kau butuhkan?” Suamiku, Leo menatapku khawatir. Dia memegang botol obat di tangannya. Apa lagi yang kubutuhkan? Aku sudah minum tujuh butir obat. Tiga butir obat pain killer diantaranyahanya membuatku tidak sakit beberapa saat. Aku cepat-cepat mengenyahkan pikiran-pikiran mengerikan dari kepalaku. Aku menggeleng.

“Oh. Ya. Aku sudah meminum obat sebelum makanku. Kurasa itu sudah cukup untuk sekarang.” Aku coba tersenyum. Suamiku mengangguk lalu memegang tanganku.

“Baiklah, katakanlah kalau kau ingin makan!” ujarnya. Aku mengangguk lalu kembali menghadap ke arah pantai nusa dua. Kami berdua sedang duduk selonjoran di lantai paling atas rumah pohon, Pirate Bay, sebuah restauran dan kafe terletak di The Bay Bali, kawasan kompleks Nusa Dua. Kami menemukan tempat ini empat tahun lalu, saat aku dan Leo baru saja menikah. Kami memutuskan Bali menjadi tempat bulan madu kami karena menyukai pantai Nusa Dua. Saat itu kami habis melihat sunset dan kelaparan. Aku ingat saat itu dengan suara berat dan seksinya, Leo berkata pada seorang pedagang baju barong di pinggir pantai.

“Dimana kami bisa menemukan tempat makan yang unik?”

“Unik seperti apa?” tanya si pedagang dengan logat balinya yang khas.

“Unik seperti bajak laut misalnya?” Aku tertawa mendengar perkataan Leo. Bajak laut? Bagaimana mungkin ada tempat makan seperti bajak laut?

“Ah ada. Pirate bay namanya. Jalan aja lurus sampai menemukan kompleks nusa dua. Tanya saja sama orang-orang.” Aku terkejut. Tempat seperti itu ada? Kami berterima kasih kepada pedagang itu dan mengikuti nasehatnya. Tak jauh dari pantai kami menemukan sebuah restauran terbuka yang unik. Tulisan Pirates Bay, Cafe and restaurant berwarna kuning menempel di sebuah kapal bajak laut. Tepatnya restauran berbentuk seperti kapal. Kami disambut pelayan-pelayan yang ramah. Saat salah satu pelayan mengatakan kami boleh duduk di mana saja, kami memilih duduk di bagian atas rumah pohon.  Pirates Bay diatur seperti perkampungan bajak laut. Ada kapal bajak laut tempat nongkrong yang asik. Ada tiga rumah pohon yang tingkat tiga yang terbuat dari bambu dan beratap alang-alang. Ada kemah yang bisa digunakan jika ingin menginap. Ada penyewaan baju bajak laut sehingga kita bisa memakainya. Ada arena bermain bajak laut yang dipenuhi anak-anak. Ada tempat menyewa baju bajak laut. Pertama kami ke sini empat tahun lalu, kami merasa seperti berada di film pirates of carabian.

Selain tempat yang unik dan asyik, makanan di Pirates Bay juga sangat lezat. Leo si penggemar Seafood memesan grilled tuna. Berbeda denganya, aku memilih pirates burger dan Nachos. Aku tak pernah makan nachos seumur hidupku dan kurasa nachos pirates bay terenak. Aku mencoba nachos di beberapa restauran Meksiko di Jakarta, tak ada yang seenak nachos pertamaku. Kami langsung jatuh cinta pada tempat ini dan bahkan memutuskan untuk menginap di sini. Mereka punya tenda-tenda yang bisa disewa untuk menginap. Benar-benar saat membahagiakan. Kami berjanji akan kembali lagi ke mari jika sempat.

“Kau mau makan sekarang?” Suara Leo terdengar lagi. Aku kembali tersadar lalu menoleh padanya. Wajah tampan suamiku tampak lesu. Mata cokelatnya yang selalu berbinar-binar menatapku lelah. Bibir hitam, akibat rokok, sedikit gementar. Aku tersadar, sejak kami sampai tadi pagi kami belum makan apapun.

“Aku baru bisa makan satu jam lagi.” Aku menghela napas. “Karena obat yang kuminum. Kau lapar?” dia mengangguk. Aku mendesah, akhir-akhir ini aku sama sekali kehilangan selera makan dan lupa bahwa suamiku tidak sakit sepertiku.

“Sayang, kalau kau lapar kenapa kau tak pesan makanan?” Leo menggenggam tanganku.

“Aku hanya ingin kita makan bersama tetapi kau tak juga lapar.” Aku merasa bersalah.

Continue reading

Anjing Hitam

Saya mencintai Edgar Alan Poe dan karena baca kumcernya maka lahirlah cerpen ini 😀

Sebelum Anda yang singgah di blog ini protes, cerpen ini ditulis tahun 2012 dimana kemampuan EYD saya buruk sekali *maafkan dan saya malas mau mengeditnya lagi *maafkanlagi

***

Sudah lama Joko tidak menyukai Bayu, pak tua  tetangganya yang tinggal di samping rumahnya.  Apalagi Bayu memelihara seekor anjing hitam besar entah jenis apa yang selalu diikat di halaman rumah Bayu.

Sejak kecil Joko tidak pernah menyukai anjing. Persetan dengan hal-hal yang mengatakan anjing adalah sahabat manusia. Anjing adalah hewan paling setia. Di mata Joko anjing tidak lebih dari hewan menyeramkan yang  buas dan anjing sama sekali tidak layak diberi kehormatan sebagai sahabat manusia. Pendapat-pendapat negative Joko terhadap anjing terjadi karena Joko pernah digigit seekor anjing saat dia berusia sepuluh tahun. Entah angin apa seekor anjing besar milik tetangga mereka menerkam Joko dari depan dan menggigit tangannya. Sejak saat itu Joko bersumpah tidak akan menjalin persahabatan dengan anjing  dan menjauhi anjing entah jenis apapun.

Kehadiran anjing hitam yang dinamai blacky oleh tuannya itu tentu saja mengganggu kehidupan Joko. Apalagi anjing itu suka sekali menggonggong dan menyalak marah kapanpun melihat Joko.  Mungkin karena insting anjing itu merasakan kebencian Joko terhadapnya, entahlah! Joko juga tak tahu alasan mengapa anjing keparat itu suka sekali mengonggong dan menyalak setiap melihat dia. Yang pasti setiap akan pergi ke kantor atau pulang dari kantor Joko pasti di sambut gonggongan anjing keparat itu. Hidup Joko menjadi tidak aman dan menjengkelkan. Puncak kekesalan pada blacky si anjing keparat itu terjadi tadi pagi.

Pagi itu seperti biasa Joko keluar rumah hendak berangkat ke kantor. Mula-mula dia agak heran tidak ada gonggongan atau salakan dari anjing hitam milik Bayu.

Mungkin anjing itu sedang dipindahkan ke dalam rumah. Pikir Joko. Dia berjalan santai keluar dan menutup pagar rumahnya. Begitu dia berjalan melewati rumah Bayu, sebuah gonggongan dan salakan terdengar, Joko berbalik dan terkejut blacky telah berada tepat di belakangnya. Ternyata Bayu lupa mengikat anjing hitam sialan itu. Seluruh darah dalam tubuh Joko membeku. Untuk sesaat dia tidak bisa merasakan apa-apa. Ketakutan ngeri melandanya. Blacky mengongong semakin keras. Dia berjalan mendekat ke arah Joko. Joko yakin akan kencing di celana karena ketakutan. Blacky terus mendekat dan mengonggong lebih keras. Joko diam di tempat tak bergeming. Ketakutan mematikan semua refleks ototnya.

Continue reading

Babi (unfinished Story)

Saya tulis cerpen ini pada bulan Juni 2011, tiga tahun lalu, waktu itu kemampuan saya masih minim sekali dan saya enggan mengedit typonya (sampai hari ini sih sebenarnya kemampuan saya masih minim) tersimpan di draft D notebook saya tidak berguna seperti kotoran babi. Sudah berkali-kali saya buka untuk dilanjutkan tapi tak berhasil.. maka jelaslah ini adalah salah satu karya saya yang takkan pernah selesai 😀

Begitu terbangun di suatu pagi yang cerah, seekor babi mendapati dirinya berubah menjadi seorang manusia.  Semua bermula ketika terbangun babi itu tak terbangun di kandang kotor di pertenakan babi tetapi di sebuah kamar kecil yang sempit. Tentu saja, Babi itu kaget bukan kepalang. Apalagi saat mendapati dirinya  tidak lagi memiliki empat kaki melainkan dua tangan dan dua kaki. Bulu-bulu hitam kasar di sekujur tubuhnya pun hilang berganti dengan kulit putih berbulu halus.  Dengan kalut babi yang  menjadi manusia itu bangkit berdiri dari tempat tidur. Karena terlalu terburu-buru sikunya tak sengaja menabrak meja di samping tempat tidur. Babi itu meringgis sakit, dia kembali terkaget. Alih-alih mendengar nguikan, dia malah mendengar kata “aduh” dari mulutnya. Sama seperti binatang-binatang lainnya, babi tak bisa berbicara. Hanya manusia yang bisa bicara karena mereka mempunya bahasa. Bahasa membuat mereka bisa berkomunikasih satu sama lain, bahasa membuat mereka mengeluarkan ide mereka masing-masing,bahasa juga membuat mereka hancur karena semakin banyak manusia yang tak mengerti bagaimana berbahasa baik dan sopan.

Seribu pertanyaan bergumul di otak babi yang menjadi manusia itu, mengapa dia tiba-tiba bisa berbicara? Kemana perginya empat kaki dan bulu kasar di sekujur tubuhnya? Apakah dia bermimpi? Untuk sesaat babi yang menjadi manusia itu terganggu dengan pikiriannya, Ini pertama kalinya dia berpikir. Seumur hidupnya menjadi babi, babi yang menjadi manusia itu tidak pernah berpikir tentang hal yang terjadi di sekitarnya. Hanya manusia yang diberi anugerah berpikir dari Tuhan. Saat menjadi babi,  Segala sesuatu yang terjadi di sekitar si babi yang menjadi manusia itu dicerna dengan menggunakan insting atau bahkan tidak dia pedulikan. Yang babi itu pedulikan adalah perutnya. Dia akan menguik keras jika perutnya lapar dan saat menjadi babi, babi itu selalu lapar.

Semua teka-teki pagi hari itu terpecahkan saat babi yang menjadi manusia itu memadang cermin, seorang laki-laki berpipi gemuk dengan lemak mengelantung di sana-sini terpatri di benda bulat yang tergantung di dinding itu.  Astaga, pikir si babi yang menjadi manusia itu. Saya berubah menjadi seorang manusia. Dan seketika bersukacitalah  babi yang menjadi manusia itu, akhirnya keinginan terbesarnya terwujud, dia menjadi manusia juga. Sejak dahulu babi itu tidak ingin terlahir sebagai babi. Dia membenci tinggal di kandang kotor dan jorok. Dan yang paling penting dia benci mendapati dia dipelihara di tempat yang tidak layak untuk memuaskan manusia. Tiba-tiba dia teringat, mengapa da menjadi manusia. Dia menjadi manusia atas permintaan sendiri kepada Tuhan. Tuhan yang tidak pernah adil kepada kaumnya. Continue reading

Prompt 39 Warung Bakso di Ujung Jalan Lama

4ae4e-prompt39Photo by Rinrin Indrianie

Kalau suatu waktu kau tersesat di Jalan Lama dan menemukan warung bakso di ujung jalan. Pikir dua kali untuk masuk ke sana. Namun, kalau kau dalam keadaan sangat lapar dan tak ada pilihan lain selain masuk ke sana. Apa mau dikata, masuklah! Namun, ingat aku telah memperingatimu sebelumnya.

Ketika kau masuk kau akan disambut seorang Ibu Tua yang tampangnya seperti perempuan tua biasanya. Rabun memutih, tangan mulai mengeriput, tubuh yang menggemuk dan senyum yang menawan. Kau pun akan menyaksikan keadaan warung bakso itu seperti warung bakso pada umumnya. Dinding, meja dan kursi dibuat dari kayu dan dicat cokelat. Ibu Tua gemuk itu tersenyum padamu. Senyuman yang begitu tulus dan kau pasti suka. Kau akan duduk dan  Ibu Tua akan menawarkan tiga mangkok bakso ke arahmu. Kau akan disuruh memilih.

Hati-hati jangan memilih mangkok pertama, yang dijadikan bakso adalah kepala kedua orangtuamu

Hati-hati jangan memilih mangkok kedua, yang dijadikan bakso adalah kepala kedua anakmu

Dan jangan juga memilih mangkok ketiga, aku memilih mangkok ketiga dan kini kepalaku menatapmu dari mangkok bakso di atas meja di sudut ruangan.

The End

25 Januari

25 Januari pacar saya berulang tahun.

“Malam ulang tahunku nanti aku ingin melihat komet Halley. Mereka akan muncul di langit tepat pukul duabelas malam tanggal 25 Januari. Kau harus menemaniku!” ujarnya sehari sebelum dia berulang tahun. Kami sedang makan pagi. Pacar saya membuat salad sayur-sayuran dari kebun di depan rumah kami.

“Untuk apa kau melihat komet Halley?” Pacar saya merengut mendengar perkataan saya itu.

“Kau tahu aku mencintai komet-komet itu dan menanti begitu lama untuk melihat mereka. Lagipula aku tak pernah protes ketika kau terus-terusan mendengarkan lagu busukmu setiap hari.” Yang dia masuk lagu-lagu klasik Bethoven dan Choplin. Pacar saya tak suka lagu-lagu yang diciptakan orang mati. Lagu busuk seperti penciptanya yang telah lama membusuk di liang lahat. Dia benci pada semua hal yang diciptakan mereka yang telah mati dan menyebut itu semua busuk. Lucu karena penemu komet Halley sudah lama mati.

“Hey, aku kenal baik Bethoven dan Choplin mereka musis hebat. Musik-musik mereka bisa membantu kau terus awet muda.”

“Persetan dengan awet muda! Persetan dengan Bethoven dan Choplin! Aku ingin kau menemaniku melihat komet Halley nanti malam saat aku berulang tahun. Anggap itu hadiah ulang tahun darimu. Aku sungguh ingin melihat komet itu lagi dan kini mereka datang saat aku berulang tahun.” Saya menarik napas panjang dan dalam. Tujuhpuluh lima tahun lalu, saya juga menemani pacar saya melihat komet dan saya tertidur karena bosannya. Apa asiknya melihat benda raksasa melintasi bumi?

“Kalau kau tak menemaniku melihat komet lagi malam ini maka kau akan makan salad setiap hari seumur hidupmu. Takkan ada lagi darah bayi untukmu selamanya.”

“Ditulis dalam rangka ulang tahun Monday FlashFiction yang pertama”