(Pisau sang pembunuh) Sekilas tentang Polda Wedangan

Kepolisian Daerah Wedangan berbentuk bundaran, terletak di sisi kanan Jalan Adi sucipto  jalan raya utama Wedangan. Ada lima buah bangunan yang berlantai lima  yang mengelililingi sebuah bangunan berlantai dua. Lima bangunan besar berlantai lima itu adalah lima direktorat yang ada di POLDA Wedangan sedangkan bangunan berlantai dua adalah bagian informasi dan ruangan-ruangan petinggi POLDA.  Ada lima ribu polisi yang bekerja di tempat seluas 3000 meter persegi yang dikelilingi pagar besi setinggi dua meter ini. Kelima ribu polisi itu tersebar di lima direktorat yang ada.
POLDA Wedangan dipimpin oleh Inspektur Jendral Polisi Joko Suryo, dengan Wakilnya Brigadril Jendral Polisi Erik Nasution.  IRJEN Joko Membawahi lima direktorat yaitu direktorat Lalu Lintas, Direktorat Reserse Kriminal, Direktorat Narkoba , Direktorat Reserse  Kriminal khusus dan Direktorat Intelegensi. Masing-masing direktorat dipimpin oleh Polisi berpangkat komisaris besar.
Bangunan direktorat reserse dan kriminal atau biasa disingkat DIRRESKRIM terletak di ujung selatan. Dipimpin oleh seorang kepala direktorat reskrim (KADITRESKRIM)  Komisaris Besar Edi Raharjo. KOMBES Edi membawahi Lima bagian direktorat  antara lain Bagian Pidana Umum (PIDUM), bagian Pidana Khusus (PISUS), Bagian Pengawasan Pelindungan Perempuan dan Anak (PANWAS PPA). Masing-masing bagian dipimpin oleh kepala bagian diretoriat reserse dan kriminal (KABAGDIRRESKRIM) berpangkat Komisaris Polisi. Bagian Pidana Umum adalah bagian direktorat reskrim yang mengangani pembunuhan. Bagian Pidum dipimpin oleh KOMPOL Ewin yang membawahi empat unit yaitu, unit satu yang menangani pembunhan, unit dua yang menangani perampokan, unit tiga yang menangani pencurian dan kekerasan (CUNRAS) dan unit empat yang menangani perampokan. Masing-masing unit dipimpin oleh kepala unit yang berpangkat Ajun Komisaris Polisi. Ajun Komisaris Polisi Joko Maulana adalah Kepala Unit satu yaitu unit yang menangani pembunuhan.

Januari50K Tokoh Kedua : Yudha

Bab 2

Yudha

Setiap malam sebelum tidur saya mengharapkan bahwa malam ini adalah malam terakhir saya hidup di dunia. Saya senang membayangkan bagaimana saya mati. Yang paling saya suka adalah besok tubuh saya didapati orang telah tak bernyawa karena serangan jantung. Jantung saya berhenti berdetak tanpa rasa sakit saat saya sedang nyenyak-nyenyaknya. Ada dua alasan  mengapa saya paling senang mati karena serangan jantung.

Yang pertama, Ita, perawat di ruangan kesehatan yang tampangnya selalu tak niat melayani mengatakan,

“Kau punya penyakit darah tinggi. Minum obat ini agar kau tak mati serangan jantung.” Sejak saat itu saya tidak pernah meminum obat yang dia berikan dengan harapan saya akan mati karena darah tinggi merusak jantung saya.

Yang kedua, serangan jantung adalah jenis penyakit yang tidak membuat tubuh sengsara. Subagyo, laki-laki tua dengan badan kurus kering, dan tangan yang kapalan karena dulunya pekerja bangunan di samping kanan tempat tidur saya mati karena serangan jantung. Dia tidur malam hari mengeluh kalau agak sedikit sesak napas. Besoknya dia tak bangun-bangun. Benar-benar mati tanpa rasa sakit. Subagyo mati tidak sengsara  seperti Ahmed yang tidur di samping kiri tempat tidur. Ada luka besar di telapak kaki Ahmed akibat penyakit gula. Benar-benar mengerikan dan bau busuk bukan main apalagi Ita jarang membersihkannya. Luka itu membuat Ahmed hanya berdiam di tempat tidur, mengerang tak jelas dan meracau seperti orang gila selama hampir dua bulan. Lalu di bulan kedua entah setan apa yang mengusiknya, atau mungkin malaikat maut mencoleknya, tiba-tiba laki-laki tua itu terbangun dari tempat tidurnya, dan telapak kakinya yang luka itu menapak tanah. Jelaslah berbahaya karena Ita mewanti-wanti jangan sampai kakinya tersentuh apapun. Hasilnya pendarahan besar-besaran terjadi. Darah mengenangi lantai kamar kami. Sebelum di bawah ke rumah sakit dia menjerit-jerit kesakitan. Dia tak pulang lagi ke kamar itu. Sejak saat itu saya memutuskan untuk menjauhi gula dan memilih mati karena serangan jantung saja.

Sayangnya, semakin saya berikir bahwa besok saya akan mati, semakin saya terbangun dalam keadaan sehat bugar. Saya benci ketika setiap pagi terbangun di antara dua temapt tidur dua orang teman sekamar saya, Togar, Batak yang berisik dan suka ngorok  dan Wayudi, Jawa yang cerewet dan suka mengigau. Itu berarti saya harus menjalani satu hari lagi di dunia. Padahal jelas, saya sudah 74 tahun, renta, tak punya apa-apa. Baju dan tempat tinggal pun bahkan hasil subsidi pemerintah. Siapa yang ingin hidup lebih lama lagi di panti jompo ini? Mau pergi, tak tahu kemana, kembali ke jalanan hanya akan membuat kantib menangkap dan membawa saya kembali ke tempat sialan ini.

Dulu, sepuluh tahun lalu, saat saya baru masuk ke panti jompo ini, saya pernah kabur. Sayangnya, saya tak tahu harus kemana, jadi saya berusaha meminta belas kasihan orang-orang di jalanan dan berakhir kelaparan di bangku taman kota.  Sialnya saya tidak mati kelaparan di taman kota itu tetapi malah terjaring razia. Petugas kantib kembali membawa tubuh sekarat saya kembali ke panti jompo ini. Kepala panti dan petugas panti memarahi saya habis-habisan.Saya tak pernah kabur lagi. Mengerikan sekali menahan lapar di taman. Saya tahu saya akan berakhir di panti jompo ini. Tinggal menunggu waktu. Saya yakin hidup saya di panti ini tidak terlalu lama. Nyatanya sudah sepuluh tahun saya belum mati-mati. Saya bernar-benar ingin mati. Serius, tidak main-main. Mengapa pula mesti main-main? Saya sendirian di dunia ini. Saya tak punya keluarga, Ayah dan Ibu saya sudah meninggal lama sekali. Saya anak satu-satunya tak ada adik atau kakak. Tak ada istri. Dulu saya memang punya istri, hanya beberapa tahun karena dia kabur bersama laki-laki lain yang lebih kaya dan jelek. Saya tak niat kawin lagi, perempuan hanya menghabiskan uang. Uang hasil buruh saya habiskan bersenang-senang atau menyewa lonte di pinggirl rel kereta apabila saya kebelet kawin.

Saya dilahirkan di kediri, tahunnya sudah lupa yang pasti sebelum Indonesia merdeka karena saat Indonesia merdeka kalau tak salah saya berumur empat tahun atau lebih. Yang saya ingat Ibu saya menggendong saya dan bersama warga kampung bersukaria waktu Indonesia dikatakan merdeka. Ayah saya seorang petani yang ulet, kami punya beberapa petak sawah yang hasilnya cukup banyak. Namun, sejak dulu saya tidak berniat menjadi petani. Saat berumur 20 tahun, saya memutuskan untuk merantau di Jakarta. Saat itu tahun 1970, teman masa kecil saya menjadi buruh di sebuah perusahan kontruksi. Dia datang  ke kampung menprovokasi saya untuk ke Jakarta. Bekerja bersamanya. Saya menjadi buruh kasar di sebuah pabrik, dengan upah yang cukup kalau tak salah waktu itu saya diupah 10 rupiah perhari. Sebulan saya dapat 300 rupiah.

Saya bekerja sebagai buruh selama empat puluh tahun, lalu begitu saya sudah terlalu tua saya berhenti secara paksa karena tak ada yang butuh orang tua. Saya sempat menjual rokok, tukang parkir, kemudian berakhir menjadi pengemis, pekerjaan paling menjijikan. Baru seminggu saya jadi pengemis kantib menangkap dan membawa saya ke panti jompo ini. Kini sudah sepuluh tahun berlalu dan saya masih ada di panti jompo ini, belum ada tanda-tanda untuk mati. Padahal, selama sepuluh tahun ini sudah ada ratusan orang yang mati. Dari mati tanpa rasa sakit seperti Subagyo, mati yang sengsara seperti Ahmed, sampai mati yang paling miris, jatuh dari lantai dua. Namun, tidak satupun dari kematian itu adalah milik saya. Sungguh ironis.

Malam ini, saya benar-benar berharap besok saya akan mati. Saya berdoa kepada Tuhan, untuk mengambil nyawa saya besok. Tak usahlah karena serangan jantung tak apa-apa. Mati dengan sadis pun tak apa, semoga ada yang lupa mematikan api dan membuat panti jompo ini kebakaran. Atau ada perampok yang datang menjarah kantor panti dan membunuh semua orang tua tak berguna di dalamnya. Saya berbaring memkikirkan kematian saya sambil tersenyum. Togar dan Whayudi sudah lama tertidur. Ngorokan Togar memecah kesunyian malam, sementara Wahyudi terus menerus mengucapkan kata-kata aneh dan menepuk-nepuk pipinya. Biasanya saya terganggu, tetapi malam ini tidak, saya begitu sibuk dengan rencana kematian saya. Persetan dengan dua manusia tak berguna itu. Saya tertidur dalam tawa.

“Heh, Yudha! Yudha! Bangun!” Seseorang mengguncang-guncang tubuh saya. Saya tersadar dan mendapati Togar berdiri di samping ranjang saya dengan cemas. Reaksi pertama saya adalah kecewa, melihat Togar berarti saya tidak jadi mati hari ini.

“Togar, kenapa dengan Wahyudi?” Ita tiba-tiba muncul di dalam kamar kami. Aku bangun dan duduk di tempat tidurku. Mataku melirik ke arah tempat tidur Wahyudi dan laki-laki itu tampak pucat pasi. Mata hitamnya tak kelihatan. Mulutnya meracau-racau tak jelas. Seluruh tubuhnya kejang-kejang. Ita memandang tubuh Wahyudi. Dari raut wajahnya saya tahu dia tak tahu apa yang terjadi pada Wahyudi.

“Astaga, jaga dia sebentar. Saya panggil ambulance.” Ita berlari keluar kamar. Pagi hari saya dibuka dengan masalah aneh yang dialami Wahyudi. Laki-laki tua itu di bawah ke RS dengan ambulance. Saya tidak tahu apa yang terjadi padanya. Dia memang kadang-kadang suka kejang-kejang begitu sejak pertama kali dia masuk panti jompo ini, setahun lalu. Selama makan pagi Togar dengan mulut besarnya menceritakan peristiwa yang dialami Wahyudi. Saya sempat menguping saat dia berbicara dengan beberapa laki-laki dari wisma lain.

“Si Wahyudi kerasukan setan. Tak salah lagi, lah! Bah! Tempat ini ada setannya.” Saya meringgis malas dan berlalu menjauh. Saya memang tidak suka berteman dengan manusia tua menyedihkan di tempat ini. Buat apa? Tak ada guna. Toh, saya yakin tak lama lagi saya akan mati.

Sorenya, Ita mengatakan kalau Wahyudi meninggal. Saya tertawa miris. Mengapa bukan saya? Bangsat, Wahyudi sekarang pasti tengah merasakan kebebasan dari hidupnya yang tak berguna. Bangsat dua kali bukan saya yang mati melainkan pria tak berguna itu.Saya benar-benar ingin mengakhiri hidup saya sekarang juga.

***

#Januari50K 2014 TOkoh Pertama : Lidwina

Yehhh.. 2014 is coming dan saya mau serius mengerjakan proyek januari 50ribu kata tahun ini..

Nah sebagai pemanas, ini saya kasih 1000 kata pertama saya di sini. Semoga dalam sebulan bisa jadi novel utuh yah.. BTW saya akan pake genre Realis Magic huhuh

Yups enjoy!

Bab 1

Lidwina

Umurku tujuh tahun ketika untuk pertama kalinya kata-kata mampu mematikan semua sendi di dalam tubuhku. Membuat tubuhku tak bisa bergerak saking ketakutannya. Waktu itu, secara tak sengaja aku dan sepupuku Didi memecahkan vas bunga seharga satu juta Ibu. Aku ingat, Ibu memanggilku dengan nada suara yang tinggi, seperti pekik elang.

“Lidwina, apa yang telah kau lakukan dengan vas bunga mahalku?” Benar-benar mengerikan. Lalu selama sepuluh tahun kemudian ada ratusan kata-kata yang mampu mematikan semua sendi di dalam tubuhku. OK, agak berlebihan tetapi kenyataanya memang banyak sekali kata-kata mengerikan yang keluar dari orang-orang sekelilingku. Kata-kata Ayah “Uang jajanmu selama enam bulan dipotong 50%” karena aku menabrakkan mobilnya ke tembok dan merusak bamper mobil itu. Kata-kata Ibu “Tak ada layanan internet selama sebulan!” karena ulanganku jeblok.. Kata-kata guruku “Ibu, ingin bicara dengan kedua orang tuamu.” saat aku kedapatan memilih menghabiskan waktu di mall daripada di kelas berulang kali. Kata-kata Dika, “Aku mau hubungan kita sampai di sini!” mantan pacar yang meninggalkanku karena Linda- si centil lebih mau melayani lidahnya yang menjalar kemana-mana. Namun, tak ada yang mengerikan daripada kata-kata dokter Andi.

Semua berawal sejak dua bulan lalu, seminggu sejak Dika mencampakkanku. Setelah menangis  begitu lama aku mulai merasa dadaku sesak. Kupikir itu karena aku sering menangis. Namun, sesak semakin berat kurasakan selama hampir seminggu. Puncaknya aku kehabisan napas saat pelajaran matematika dan pingsan di kelas. Aku terbangun beberapa jam kemudian dengan Ayah dan Ibuku memandangku cemas di rumah sakit. Lengkap dengan infus dan alat bantu pernapasan berbentuk masker. Itu pertama kali aku bertemu dokter Andi. Dia tersenyum padaku.

“Aku kenapa?” Aku memandang kedua orang tuaku, menanti jawaban. Masker membuatku sangat tak nyaman tetapi membuat sesakku sedikit lumayan.

“Halo Lidwina,” dokter Andi mengulurkan tangan. “Namaku Andi, aku dokter penyakit dalam.  Ada cairan di dalam paru-parumu dan membuatmu sesak napas hingga oksigen ke otak berkurang dan kau pingsan. Karena kau sudah bangun kami harus mengeluarkan cairan itu dari paru-parumu segera mungkin.” Dokter itu tersenyum. Aku menatap sekelilingku. Cairan? Paru-paru? Apa maksudnya? Apakah karena aku menangis begitu sering sehingga air mata menenggelamkan paru-paruku?

“Bagaimana bisa? Aku merasa tak meminum air begitu banyak sehingga paru-paruku dipenuhi cairan?”

“Bukan seperti itu, pernah dengar pleura?” Aku menggeleng. “Itu adalah jaringan lunak yang membungkus paru-paru. Sesuatu yang sampai saat ini belum kami ketahui telah membuat pleuramu digenangi cairan. Kami harus mengeluarkannya agar kau tak perlu bernapas memerlukan masker lagi.” Jelas dokter Andi panjang lebar. Aku dalam kebingunganku memandang dokter itu lalu kedua orang tuaku. Tak tahu harus mengatakan iya atau tidak. Toh, akhirnya kemudian aku di bawah ke sebuah ruangan ditemani Ibuku. Setelah diberi obat bius, dokter Andi memasukkan selang yang sangat panjang ke dalam bagian bawah ketiak kananku dan lima menit kemudian cairan bening keluar. 100 mililiter. Dokter Andi menatap cairan itu lega.

“Syukurlah bukan berwarna kuning.”

Namun, adegan pengeluaran cairan itu bukanlah yang terakhir kalinya, dua minggu kemudian aku bertemu dokter Andi lagi dengan alasan yang sama dan kali ini dengan sakit mengerikan di dada dan punggung. Saat itulah dia memanggil Ayah, ibu dan Aku ke ruangannya.

“Ada pertumbuhan leukosit yang meningkat dari hasil lab darah, Lidwina. Saya khawatir ada masalah dengan pleuranya. Kami akan melakukan endoskopy untuk meyakinkan hasil diagnosis.”

“Endo apa?” kata kedua yang baru kudengar lagi.

“Nanti kami akan membuat lubang di panggulmu dan akan memasukkan kamera untuk mengambil sample jaringan di sekitar pleuramu.”

Seminggu kemudian setelah dirawat, aku masuk ke ruang operasi, aku tak tahu pasti apa yang dilakukan para dokter yang pasti saat endoskopy aku tak ingat sama sekali karena obat bius. Dua minggu kemudian, kami dipanggil kembali ke ruangan dokter Andi.

“Hasil endoskopy telah keluar. Saya rasa, Lidwina sudah cukup umur untuk mengetahui hal yang akan terjadi padanya. Kami menemukan benjolan di jaringan lunak pleura milik Lidwina. Kami khawatir ada kanker di pleuranya.” Kata-kata itulah kata paling mengerikan yang pernah kudengar seumur hidupku. Kata-kata yang mematikan seluruh sistem dalam tubuhku, bukan hanya sendi. Aku bergeming di kursiku, jantungku seolah berhenti berdetak.

Aku menatap dokter Andi tak percaya. Ibuku menangis. Ayah diam di tempat. Entahlah, aku tak begitu bisa menggambarkan bagaimana kondisi kedua orang tuaku. Aku terlalu sibuk dengan ketidak percayaan. Bayangkanlah, seorang gadis muda yang baru berusia 17 tahun mengetahui kalau di dalam pleuranya, benda asing yang baru dia ketahui ada di dalam tubuhnya sejak dua bulan lalu, terdapat kanker. KANKER!! Bukan flu atau thypus tetapi kanker.

“Bagaimana bisa ada kanker? Anak saya tak pernah sakit… Dia…” Ibuku meraihku yang mematung di kursi. Dia terisak-isak memelukku. Air matanya membasahi pipiku.

“Apakah dokter yakin?” Kudengar suara Ayahku bergetar.

Yah kedua orang tuaku benar! Bagaimana bisa aku terkena kanker? Apakah dokter ini yakin? Kau tahukan, dokter Indonesia bisa saja melakukan kesalahan diagnosis. Mungkin bukan aku yang terkena kanker. Mungkin saja orang lain dengan nama yang sama denganku? Aku ingin protes tetapi suaraku tak dapat kukeluarkan. Mungkin terkena kanker juga.

“Saya rasa dokter onkologist yang lebih mampu menjelaskan masalah Lidwina. Saya akan merujuknya ke bagian onkologi.” Aku bahkan tak sempat bertanya omkology itu apa. Baru kemudian ketika dipindahkan ke bagian onkology, aku tahu kalau itu adalah bagian kedokteran yang menangani kanker. Di sana ada dokter Budy, ahli kanker terkenal yang tua dan ramah.

“Dari hasil pemeriksaan, kanker yang diderita Lidwina cukup langkah. Yaitu sarcoma kanker pada jaringan. Biasanya kanker ini menyerang otot atau tulang dan dalam kasus Lidwina yang diserang adalah jaringan lunak pada pleura. Bla bla bla..”

Aku tak mendengar kata-kata dokter Budy lagi. Yang aku tahu aku akan segera mati.

Malamnya, di ranjang rumah sakit yang dingin aku menggogle Rhabdomyosarcoma, 1.680.000 hasil. OK, ada banyak orang menderita kanker sepertiku.

Rhabdomyosarcoma adalah kanker ganas yang paling sering ditemukan pada anak-anak. Daerah yang paling umum diserang antara lain kepala, leher, saluran urogenital, lengan atau kaki. Penyebab Rhabdomyosarcoma tidak diketahui secara pasti. Tumor ini adalah tumor langka hanya terjadi dalam beberapa pasien. (detik helath)

Tumor langkah katanya? Bagaimana bisa? Kalau langkah kenapa aku yang terkena?

Aku tercekat membaca artikel di kanker.org

Mereka yang terserang kanker ini lama bertahan hanya lima tahun.

Aku punya lima tahun, 60 bulan, 1800 hari untuk menikmati hidup.

***

Januari 50ribu- kata sebuah permulaan

Perkenalan awal saya dengan Januari 50K terjadi tahun lalu ketika saya sedang senang-senangnya menulis. Waktu itu saya menyertakan novel misteri saya “The Knife alias Pisau sang pembunuh” yang hanya berakhir di 15.000 kata (dan tidak saya lanjutkan karena menulis novel misteri itu susah kawan-kawan.. Empat jempol untuk Agatha Christie, Sir Athur Conan Doyle  dan penulis misteri lainnya.)

Banyak hal yang saya dapat dari event luar biasa ciptaan kampung fiksi ini salah satunya adalah, saya ternyata hebat. I mean menulis dalam tekanan itu luar biasa loh kawan dan saya sangat anjurkan kalian yang masih belajar nulis untuk mengikuti event ini. Karena resep untuk menjadi penulis itu ga ada selain menulis dan terus menulis. Jangan lupa membaca jugga Selain itu, tahukah Anda sejak itu saya jadi sering menulis? Januari 50k pelan-pelan membuat saya menulis setiap hari dan selama tahun 2012 saya telah menghasilkan seratusan tulisan baik cerita pendek, cermin dan puisi.. hebat bukann 🙂

Hari ini desember dimulai dan 30 hari lagi januari 2013 datang kembali dan itu berarti even tahunan keren ini akan segera dimulai.
Di Januari 50ribu kata tahun 2013, saya telah menyiapkan naskah berjudul “Dua Cermin” Berkisah tentang dua orang perempuan bernama Mona dan Rayana yang memperebutkan cinta laki-laki bernama Lando. Saya akan berjanji menulis setiap hari meski Januari nanti saya sangat sibuk karena harus praktik di ruangan bedah RSCM (Wish me luck!)

Saya ingin berterima kasih kepada mbak-mbak hebat di kampung fiksi yang telah mengenalkan saya betapa menulis setiap hari itu keren luar biasa. Sesama Nekaders yang hebat dan membanggakan. Saya bangga jadi salah satu nekaders (apalagi saya nekaders paling imut dan cantik ahahahah)

Akhir kata teruslah menulis karena kau akan bahagia..

Sampai jumpa di bulan Januari dimana saya akan menulis setiap harii