Temu Sesaat

“Jadi bagaimana?” Jimmi bertanya. Nada suaranya menuntut. Siang itu matahari bulan April menggarang, memanaskan ubun-ubun kami yang hanya terlindungi rindangan pohon beringin. Kami memutuskan bertemu sesaat di taman di dekat kosan Jimmi. Dia butuh uang secepatnya untuk bayar kuliah.

“Jadi kau bertemu denganku hari ini hanya untuk uang itu. Duduk-duduklah dulu denganku sebentar. Buru-buru hanya akan menambah panas saja. Masih banyak waktukan?” Aku mengalihkan pandangan ke jalan setapak yang membelah taman. Warna di mana-mana. Langit biru, pohon hijau, daun-daun gugur kuning, orang-orang berpakian beraneka warna.

“Kau kan tahu, Yang. Aku sangat membutuhkan uang itu. Kaulah satu-satunya harapanku.” Jimmi menggenggam tanganku. Mata coklatnya yang jernih menatapku kuyu. Seketika rasa sayang dan belas kasihku muncul. Kucubit pipinya sedikit.

“Ah, kamu memang sangat mengemaskan.” Aku tersenyum, memandangnya geli. Jimmi salah tingkah.

“Jangan cubit aku di depan banyak orang begitu. Apa nanti kata mereka.” Senyum di wajahku menghilang. Kata-katanya lebih menyakitkan daripada tertusuk duri.

“Mengapa kau peduli kata-kata orang? Astaga, apakah kau tak mencintaiku?”

“Bukan begitu Katharine. Aku mencintaimu tetapi aku tak ingin orang mencapmu buruk.” Mata coklat Jimmi memandangku tajam. Seketika aku sadar orang-orang di sekitar taman itu sedang memandangi kami. Tepatnya memandangi Jimmi. Jimmi selalu menjadi pusat perhatian. Kekasihku ini tampan dan bertubuh atlethis. Hidungnya mancung dan bibirnya tipis kemerah-merahan padahal dia perokok. Matanya yang coklat itu adalah favoritku. Pandanganya selalu membuatku luluh. Jimmi ada benarnya juga, tidak baik bagi kami untuk memarkan kemesraan di depan umum. Mungkin orang-orang di taman ini adalah kenalan suamiku. Siapa tahu? Dunia tak selebar daun kelorkan?

“Ah sebaiknya kuberikan saja uangmu segera. Benar katamu aku tak sudi dicap buruk orang.”Ujarku kemudian. Beberapa orang gadis tampak memandang ke arah kami penasaran. Semoga saja mereka tak melihat aku mencubit pipi Jimmi.

“Baiklah, terima kasih, Yang. Kita bertemu di hotel seperti biasa setelah urusanku selesai dua jam lagi.” Jimmi tersenyum memandangku. Matanya ikut tersenyum. Ahhh, aku mencintai pria di depanku ini.

“Oke tentu!” Kuserahkan amplop yang kuambil dari tas tanganku pada Jimmi. Dia menerima amplop itu dengan mata berbinar-binar.

“Terima kasih, Yang.” Kata Jimmi. Lalu dia pamit dan pergi meninggalkan aku seorang diri di bangku taman di bawah pohon beringin. Kuperhatikan terus tubuhnya yang melangkah cepat menuju ke luar taman. Betapa indahnya menatap punggung kekasihku itu.

“Hey hey cakep banget cowo tadi yang duduk di bangku taman”

“Iya, tetapi dia sama siapa sih? Siapa perempuan tua yang duduk bersamanya?”

“Aduhh jangan-jangan tuh cowo cakep piaraan tante-tante”

Suara tawa terdengar dari kerumunan gadis-gadis muda yang tadi terus menatap Jimmi. Salahkah aku jika mencintai pria yang duapuluh tahun lebih muda? Gadis-gadis itu tak mengerti. Segera, aku beranjak dari kursi taman di bawah pohon beringin itu. Aku memutuskan ini terakhir kalinya aku dan Jimmi bertemu di tempat umum.

Tamat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s